Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 227


__ADS_3

Satu Minggu berlalu sudah, Risya sudah 4 hari pulang dari rumah sakit, dia di temani bibi Yasmin dan Ibu Soraya, entah kenapa wanita baya itu mendadak ingin ikut andil dalam menjaga Baby Syakira dan Baby Syakila, meski Brian sangat menolak saat Soraya ingin menggendong salah satu putri nya, tapi berbeda dengan Risya. Dia tak melarang apapun, dia malah dengan senang hati memberikan putra nya agar merasakan di gendong oleh nenek mereka. Tapi harus sembunyi-sembunyi, tentunya saat Brian tak ada di rumah, kalau pria itu di rumah sudah di pastikan dia akan marah-marah.


Risya tak bisa menyalahkan juga kenapa Brian bersikap demikian, tapi setiap orang pasti bisa berubah, dan itulah yang Risya yakini. Tak menutup kemungkinan kalau Ibu Soraya akan berubah menjadi lebih baik setelah melihat cucu nya yang sangat gemoy itu.


"Bu, Risya mau ke kamar mandi dulu. Bisa tolong jagain Baby Kila dulu?" Tanya Risya, saat Soraya sedang membaca koran di sofa ruang tamu rumahnya.


"Baby Kira kemana?" tanya nya datar.


"Sama Oma nya, Bu." Jawab Risya, Soraya mengambil Baby Kila dari gendongan Risya. Lalu menimang nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, layaknya nenek pada cucu nya. Risya tersenyum, rasanya tak ada salahnya kan memberi kesempatan pada Ibu Soraya? Lagipun, sejauh ini dia belum melakukan hal fatal yang membuat hubungan nya dengan Brian memburuk, hanya Chloe yang melakukan nya, itupun atas kehendak nya sendiri, bukan suruhan siapapun.


"Tunggu apa lagi? Katanya mau ke kamar mandi, sana pergi." Usir Ibu Soraya membuat Risya beringsut pergi ke kamar mandi untuk menunaikan hajat nya untuk buang air kecil.


Soraya membelai pipi cabi kemerahan Baby Syakila, dia tersenyum lalu menciumi pipi bayi itu karena gemas, tapi tanpa di duga Baby Kila malah menangis.


"Sakit ya? Maafin Nenek ya, gak sengaja. Habisnya kamu gemesin banget sih, uhh lucu nya." Ucap Soraya, sambil menimang Baby Kila. Dan akhirnya bayi kecil itu kembali tertidur.


"Bu, Kila kenapa nangis?" Tanya Risya dengan nada khawatir nya.


"Nangis? Kau tak melihat dia sedang tertidur?" Balik tanya Soraya, seolah tak terjadi apa-apa.


"Ohh syukurlah, Risya laper mau makan dulu ya, boleh?"


"Makan yang banyak, ingat kamu ibu menyusui,"


"Hehe iya dong Bu, yaudah sebentar ya Risya makan dulu." Pamit Risya, dari tadi pagi dia belum makan, karena tak ada yang menjaga Baby Kila, Bibi Yasmin belum sembuh total jadi Risya tak bisa sepenuhnya menitipkan kedua putri nya pada Bibi Yasmin.


Tapi kebetulan, Ibu Soraya datang dan ya dia mau di titipi Baby Kila saat dia ke kamar mandi atau makan dulu.


Bel rumah berbunyi, Ibu Soraya membukakan pintu dan ternyata ketiga teman Risya datang dengan bayi mereka masing-masing dan pengasuh mereka.

__ADS_1


"Permisi Bu, Risya nya ada?"


"Ada, dia lagi makan. Silahkan masuk," Jawab Soraya datar, membuat Ica menelan ludahnya kepayahan. Dia tahu wanita baya itu adalah ibu kandung Brian, ini bukan pertemuan pertama mereka.


Ica mendorong stroller Baby Dave, tak lupa dia juga membawa satu orang nanny yang bertugas mendorong stroller Baby Daisy. Begitu juga Hani, dia juga mendorong satu stroller berisi Baby Aarash, dan stroller baby Aarish di dorong Nanny.


Berbeda dengan Sintia, dia membawa kedua bayi nya dalam gendongan kain jarik yang panjang. Bukan nya tak mau menyewa Nany untuk membantu nya menjaga kedua buah hati nya, tapi keuangan mereka saat ini masih dalam keadaan kritis, uang bekas lahiran yang Azwar pinjam dari Zen saja belum bisa dia lunasi. Meski Zen bilang tak usah mengganti nya, tapi Azwar bersikeras akan tetap membayar nya. Ica juga sudah berusaha membujuk Kakak nya itu agar mau menyewa Nany karena Sintia akan sangat kelelahan di malam hari jika keduanya sedang rewel, tapi untunglah Azwar adalah tipe pria yang sangat peka, jika salah satu ada yang terbangun dia yang akan bangun duluan lalu menggantikan Popok mereka tanpa harus membangunkan Risya, dia tau benar kalau istrinya itu pasti kelelahan mengurusi kedua anak nya di siang hari.


Jadi biarlah dia membantu meringankan sedikit saja tugas Sintia sebagai Ibu, walaupun dia juga lelah setelah seharian bekerja di kantor, tapi sebagai suami yang baik dia juga tak bisa begitu saja berpangku tangan saat melihat istrinya kelelahan. Karena saat ini tugas nya bukan hanya melayani kebutuhan satu orang saja, tapi tiga sekaligus. Walaupun dia tau Sintia lelah, tapi dia juga tidak bisa melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri yang harus melayani suaminya dengan baik.


"Ehh ada tamu, udah lama?" sapa Risya yang baru saja selesai makan dan langsung pergi ke ruang tamu setelah mendengar ada sedikit kegaduhan, biasalah kang ghibah berkumpul.


"Habis makan ya?"


"Kok tahu, Lo cenayang ya?" Balik tanya Risya pada Hani.


"Ada acara apaan nih, sampe kumpul-kumpul gini?"


"Ngapel dong," Celetuk Ica dan Sintia kompakan.


"Ehh, kak Sintia itu apa nyaman gendong bayi di gituin?" Tanya Risya.


"Enggak dong, nyaman kok. Bayi nya juga anteng, karena ini hangat."


"Kenapa gak nyewa Nanny aja sih kak?" Tanya Risya.


"Gak mempan Sya, udah gue suruh nyewa Nanny tapi mereka berdua itu kepala batu, susah di bilangin." Cetus Ica ikut nimbrung.


"Kakak pasti kecapean kalo gini terus, harusnya kakak dengerin kata Ica."

__ADS_1


"Daddy juga udah bilang jangan khawatir masalah uang, biar dia yang bayarin bulanan nya, tapi ya bukan Bang Azwar kalo gak kekeh sama keputusan nya." Timbrung Ica, dia kesal setengah mati pada Abang nya itu, padahal kan kalo ada Nanny dia juga bisa beristirahat saat malam hari nya.


"Ya kakak gak bisa nentang keputusan suami kakak juga Ca, mau gimana lagi."


"Tapi kalo gini kan kakak juga yang repot,"


"Udah gapapa kok, yuk mulai ghibah."


"Wahh ada gosip ape nih?" Tanya Hani langsung semangat begitu mendengar kata 'ghibah'.


"Ratu ghibah langsung semangat Yee.." Sindir Risya membuat nya cengengesan.


Semua nya pun kompak tertawa, membuat ruangan itu terasa menghangat karena kehadiran istri-istri para hot Daddy dengan masing-masing bayi kembar mereka yang lucu dan gemoy.


Ibu Soraya menatap nanar sang menantu yang nampak ceria, dia merasa bersalah pada Risya karena sudah salah menilai perempuan itu tanpa tahu bagaimana sifat dan sikap nya terlebih dulu.


"Apa ini sudah sangat terlambat untuk berubah? Aku menyayangi Kira juga Kila, aku ingin selalu dekat dengan mereka, tapi Brian tak mengizinkan. Huftt, ini balasan atas semua perbuatan ku di masa lalu mungkin." Gumam Soraya sambil tersenyum kecut, dia sadar dia sudah sangat jahat pada putra nya itu, jadi dia tak bisa menyalahkan Brian yang sangat menentang jika dia ingin menggendong salah satu putrinya, itu karena perbuatan nya dulu yang sangat keterlaluan.


Tapi untuk menyesal saat ini sudah sangat terlambat, tapi belum terlambat untuk berubah menjadi lebih baik lagi.


Tanpa Soraya sadari, sedari tadi Bibi Yasmin menatap punggung Soraya yang bergetar karena tangisan nya dengan senyuman simpul yang entah apa artinya.


'Semoga saja kau menyesali perbuatan mu dan berubah menjadi lebih baik, Soraya!'


.....


🌷🌷🌷🌷


Double update lho, jangan lupa bunga, kopi sama vote nya ya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2