
Ponsel Risya berdering yang ternyata dari Brian, tapi Risya tak menghiraukan nya dan memilih tidak mengangkat nya sebelum kebenaran tentang poto itu terungkap.
"Itu hape Lo dari tadi bunyi terus, kenapa gak di angkat sih, berisik tau gak?" Tegur Hani, membuat Risya mendongak.
"Males ngangkat nya Han, ini dari Brian."
"Males kenapa? Tinggal ngomong doang, apa karena poto-poto itu ya?" Tanya Hani, Risya menganggukan kepala nya pelan.
"Gue paham sih perasaan Lo, ya meski gue belom pernah ngalamin gitu. Tapi Lu juga gak boleh diemin Brian, nanti dia bakal bingung sendiri."
"Biarin aja lah, gue dah terlanjur males." Jawab Risya ketus.
"Yaudah lah, susah emang bicara sama bocil."
"Enak aja ngatain gue bocil, kita seumuran ya kalo Lu lupa!" Sewot Risya.
"Lahh iya, gue lupa anjir kalo kita emang seumuran." Ucap Hani sambil tertawa.
"Garing Lo."
"Kalian kenapa sih? Kalo ketemu jarang akur, selalu aja berdebat." Tanya Ica sambil geleng-geleng kepala. Dia memegangi perut nya yang terasa mulas, mungkin terlalu banyak makan.
"Kenapa Ca?" Tanya Risya yang melihat Ica meringis.
"Mules Sya, kebanyakan makan kali ya?"
"G-gue panggil Tuan Zen dulu," Cetus Risya.
"Ngapain, udah gak usah. Nanti juga sembuh sendiri." jawab Ica, membuat Risya mengurungkan niat nya.
Ketiga sahabat itu pun kembali mengobrol santai, sesekali mereka bercanda yang membuat gelak tawa. Tapi semua nya hening seketika saat Arian datang.
"Permisi Nona, saya membawa bukti-bukti poto itu."
"Duduklah, dan jelaskan dengan rinci agar tak terjadi kesalahpahaman." Jawab Ica mempersilahkan Arian duduk.
Risya menunggu Pria itu bicara dengan ekspresi yang tak bisa di gambarkan.
"Saya pastikan semua poto ini fake, alias editan. Nomor nya juga nomor plasu jadi saya tak bisa melacak nya, Nona. Tapi saya akan menyelidiki nya kembali." Ucap nya membuat Risya refleks mengusap dada nya.
"Kenapa bisa menyimpulkan begitu?" Tanya Ica. Arian menjelaskan kalau poto yang menunjukkan tangan Brian dan seorang perempuan itu sedikit blur, bisa di pastikan itu benar-benar editan. Juga nomor ponsel misterius itu yang tak terdaftar dalam provider apapun. Jadi bisa di simpulkan ini nomor yang di buat khusus untuk mengirim teror pada Risya.
"Syukurlah, terimakasih Pak."
"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Arian, Ica hanya menganggukan kepala nya sebagai jawaban.
Setelah kepergian Arian, Risya bisa tersenyum lagi. Dia senang kalau ternyata Brian memang tak menghianati kepercayaan nya.
"Lu lega kan Sya?" Tanya Ica, Risya mengangguk cepat sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Inti nya, Brian gak selingkuhin Lo. Dan gue yakin sih, walaupun Brian itu menyebalkan tapi dia bisa jaga kepercayaan."
"Tapi yang jadi pertanyaan nya, ini cewek yang di poto sama nomor misterius itu siapa?" Tanya Hani, sedari tadi dia memikirkan siapa yang mungkin menjadi dalang dari semua kesalah pahaman ini.
"Apa mungkin orang yang suka sama Brian?" Tanya Risya.
"Bisa jadi aja sih, semua kemungkinan bisa terjadi sekarang. Tuh cewek demen ama si Brian terus buat rencana supaya hubungan kalian renggang terus putus, dengan begitu dia akan mendapatkan Brian. Masuk akal gak sih?"
"Gue sependapat sama Lu Han, soalnya gak mungkin kalo cuma orang iseng yang gak punya kerjaan buatin poto kayak gini kan?" Ucap Ica. Sedangkan Risya memilih diam, mendengarkan dulu pendapat dari kedua sahabat nya.
"Jadi inti nya, ini semua perbuatan orang tak bertanggung jawab untuk menghancurkan kepercayaan kalian. Menurut gue sih gini, Lu cuma harus percaya sama Brian aja mulai sekarang."
"Iya Ca, Brian juga udah bilang gitu. Tapi gue nya aja kali ya yang curigaan?"
"Kalo gue juga pasti bakal penasaran, tapi gue tau Daddy gue gak bakal kayak gitu. Percaya aja sama Brian, tapi Lu harus ceritain ini aja, gimana pendapat Brian tentang semua ini."
"Oke Ca, gue bakal lakuin itu nanti. Btw tuh cowok gak kesini ya?" Tanya Hani .
"Gak tau, tapi gue gak angkat telepon nya. Gue mau lihat chat nya dulu, bentar." Risya membuka ponsel nya dan melihat puluhan pesan dari Brian.
"Spam chat, kebiasaan kalo gak di bales pasti terus ngirim sampe di bales." Gumam Risya.
Sedangkan di rumah, Brian sedang mondar mandir di kamar nya. Dia khawatir kenapa Risya belum juga membalas pesan atau menelpon nya balik, dia begitu merindukan kekasih nya itu.
"Kamu kenapa sih Yang? Aku kangen." Gumam Brian. Tapi tiba-tiba saja pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya.
"Brian, makan dulu."
"Bri, mama sudah masak makanan kesukaan kamu lho."
"Memang nya apa? Aku saja tak yakin kalau mama masih ingat apa makanan kesukaan ku, kapan terakhir mama memasak di rumah? Memuakkan!" Cibir Brian lengkap dengan ekspresi meremehkan nya.
"Brian, kamu ini kenapa sih?"
"Aku? Harusnya aku yang tanya, ada apa dengan Mama? Mama baik begini pasti karena punya tujuan kan? Jika tujuan Mama adalah menjodohkan aku lagi dengan anak teman-teman sosialita Mama, maaf aku tak sudi. Aku sudah dewasa dan bisa mencari gadis pilihan ku sendiri." Ucap Brian, dia bisa menebak keinginan ibu nya itu dengan mudah. Karena sudah sering ibu nya melakukan hal semacam itu, mengenalkan nya pada anak-anak teman arisan nya, itu membuat Brian sangat muak.
"Apa salahnya mencoba mendekatkan diri dulu, Bri? Mereka anak gadis yang baik, berpendidikan juga kaya."
"Cihh, tapi aku tak suka barang murah dan barang bekas!" Cetus Brian.
"Briann!" Sentak ibu nya, habis sudah kesabaran nya menghadapi sifat keras kepala putra satu-satunya itu.
"Apa? Hanya karena hal ini kau membentak ku? Sekarang aku semakin yakin kalau kau memang bukan ibuku!"
"Bukan begitu Brian, tapi ayolah sekali saja coba buka hatimu."
"Tidak, aku sudah punya gadis yang akan aku cintai seumur hidup." Jawab Brian ketus, dia mengambil tas berisi pakaian dan membawa nya keluar dari kamar nya.
Ibu nya masih belum menyerah, dia berlari mengejar Brian yang sudah menuruni tangga dengan cepat.
__ADS_1
"Berani selangkah lagi kau keluar dari rumah ini, Mama akan menghentikan semua biaya kuliah mu Brian!"
Brian berbalik dia menatap tajam ke arah ibu nya, sikap ibu nya itu membuat nya sangat muak. Dulu, dia bertahan di rumah ini karena bibi nya tapi sekarang bibi nya sudah koma dan di rawat di rumah sakit, beliau masih belum sadar juga, jadi dia tak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah bak neraka ini.
"Lakukan saja, aku tak keberatan! Lagipula aku bisa bekerja, aku bisa hidup tanpa uang darimu. Permisi." Jawab Brian, lalu melangkah pergi dari rumah itu. Hanya membawa baju saja, bahkan motor yang selama ini dia pakai pun dia tinggalkan, dia akan menjalani hidup dengan cara sederhana, bersama Risya. Gadis cantik yang mampu membuat nya bertekuk lutut.
"Paling hanya bertahan beberapa hari, setelah itu dia akan kembali." Ucap ibu nya dengan senyum meremehkan.
Brian menaiki taksi, tujuan nya saat ini hanya rumah sang kekasih, Risya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu nanti, apa dia akan berpikir dia hanya menumpang hidup? Tapi setelah dia mendapatkan pekerjaan, dia akan menyewa kontrakan untuk tempat dia tinggal nanti.
Brian sampai di rumah Risya, tapi sayang rumah itu kosong, entah kemana gadisnya se sore ini. Dia juga belum ada membalas pesan atau menelpon nya.
"Kamu kemana sayang?" Gumam Brian, tapi tak lama sebuah mobil berhenti di depan pagar, dia tau itu mobil milik Bimo, Risya turun dan melambaikan tangan nya ke arah kaca mobil, mungkin pada Hani.
"Sayang.." Panggil Brian membuat Risya terhenyak.
"Kamu sudah kembali sayang? Aaaa aku rindu.." Risya menghambur memeluk tubuh Brian, begitu juga Brian dia mendekap erat tubuh Risya.
"Ehh, kok kamu bawa tas gede? Motor kamu mana, Yang?" Tanya Risya.
"Nanti aku jelasin semua nya sayang, apa kita pelukan disini aja tanpa masuk ke dalam?"
"Aku lupa sayang, ayo masuk." Ajak Risya setelah membuka pintu rumah nya. Kedua nya pun masuk ke dalam dan Risya kembali menutup pintu nya, mengunci nya dari dalam.
Di ruang tamu, Brian meletakan tas besar nya di sofa. Brian juga duduk lesehan di karpet bulu, raut wajah nya sendu membuat Risya heran, tak biasa nya sang kekasih nampak murung.
"Kenapa sayang? Kamu ada masalah, cerita sama aku?"
"Aku pergi dari rumah, aku tak tahan dengan sikap Ibu. Dia selalu saja ingin menjodohkan aku dengan gadis anak teman arisan nya, aku tak mau karena aku sudah mencintaimu."
"Lalu?"
"Ya aku kesini, aku harap kamu mau menampung ku dulu untuk sementara sampai aku punya uang sendiri untuk menyewa kontrakan, dan mendapat pekerjaan." Ucap Brian, membuat Risya terdiam.
"Maaf kalau aku merepotkan mu dan melibatkan mu dalam masalah, tapi mau bagaimana lagi.."
"Sudah cukup sayang, jangan banyak bicara. Kamu tak perlu menyewa kontrakan, kita tinggal disini bersama ya?" Ajak Risya, dia memeluk Brian lagi.
"Terimakasih sayang, biaya kuliah ku juga di hentikan oleh Ibu. Jadi aku berhenti kuliah dan bekerja, kamu masih mau denganku?"
"Tak masalah, aku akan tetap bersama mu sayang. Menemani kamu dari awal sampai akhir, aku mencintaimu tulus Bri. Aku tak keberatan dengan semua ini,"
Risya mendongak menatap wajah Brian dan sedetik kemudian bibir mereka saling bertautan, Risya yang memulai nya dan Brian tak menolak ciuman kekasih nya itu, karena dia pun merindukan sensasi ini.
.....
🌷🌷🌷
Yang sabar ya abang Bri, author akan buat kamu hidup mandiri tanpa bantuan ibu laknat mu itu😣
__ADS_1
Selamat hari senin, jangan lupa vote yang banyak!🔥🔥🔥