Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 148


__ADS_3

"Sudah makan?" Tanya Zen pada Azwar, tentu saja Azwar menggeleng, karena setelah pulang dari kantor dia langsung menjemput Sintia di restoran dan berkunjung ke rumah Zen untuk memberitahu kabar baik.


"Makan malam dulu disini bang," Tawar Zen.


"Ta-tapi.."


"Ayolah kak, jarang-jarang kalian kesini kan? Cuma makan malam doang ini." Usul Ica, dia tau kakak nya takkan mau kalau tidak di bujuk.


"Huh baiklah, terimakasih."


"Dad, Ica mau ke kebun belakang metik stroberi sama Kak Sintia, boleh?"


"Boleh sayang, tapi pake jaket atau sweater ya biar hangat."


"Terimakasih Daddy, Ica males ke atas jadi pake jas Daddy aja ya."


"Yaudah iya sayang, tapi kamu tenggelam nanti kalo jas Daddy."


"Gapapa biar anget." Ucap Ica, dia meraih jas milik Zen dan memakai nya. Jam di dinding baru menunjukan pukul 6.


"Ayo kak, kita makan stroberi di belakang." Ajak Ica sambil menarik tangan Sintia, perempat itu pun menurut dan mengikuti Ica ke kebun belakang.


"Selamat sore, Nona."


"Sore, stroberi nya banyak yang mateng gak?" Tanya Ica.


"Banyak Nona, silahkan." Ucap penjaga kebun itu, membuat Ica kegirangan. Dia kembali menarik tangan Sintia memasuki kebun buah yang Zen buat khusus untuk nya.


"Wahhh, stroberi nya banyak Ca."


"Iya Kak, ayo metik."


"Ayo, kebetulan kakak juga suka buah stroberi." Jawab Sintia. Mereka berdua memetik dan memakan langsung buah berwarna merah itu dengan di selingi canda tawa. Dari dulu mereka sudah dekat, hanya saja setelah Azwar kuliah di luar kota, Sintia tak pernah lagi datang ke rumah.


....


Di ruang tamu, Azwar dan Zen sedang terlibat pembicaraan serius.


"Jadi menurut mu Brian ada kaitan nya dengan hilang nya Mei?" Tanya Azwar.


"Seperti nya Iya, karena istri Elang adalah bibi nya. Mungkin dia merasa kecewa dengan Elang dan menculik Mei, masuk akal bukan?"


"Ya, tapi masa anak sekecil itu bisa berbuat hal demikian, Zen?" Tanya Azwar.


"Tak menutup kemungkinan kan? Bisa saja dia ingin menghancurkan Mei dan Elang bersamaan, karena setauku Elang di depak dari perusahaan dan sudah bercerai dengan istri nya itu."


"Kalau iya Elang sudah bercerai, kenapa dia masih menahan Mei, bukan nya Elang sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan bibi nya?" Tanya Azwar.


"Dendam Bang, semua orang punya dendam. Entah itu yang langsung di balaskan, atau dendam yang terpendam." Jawab Zen.


"Jadi sekarang aku harus mencari Mei kemana?"


"Tak usah khawatir, aku yang akan membawa nya pulang Bang. Pikirkan saja pernikahan mu dan pikirkan juga cara memanjakan istri di malam pertama."


"Malam pertama apaan, udah di cicil dari sekarang." Cetus Azwar sambil terkekeh.

__ADS_1


"Waah, kau diam-diam menghanyutkan ternyata."


"Walau aku laki-laki baik, tapi sebagaimana pria aku juga punya nafssu Zen."


"Hahaha, baiklah.." Zen tergelak mendengar jawaban kakak ipar nya.


"Permisi tuan, makan malam sudah siap." Ucap Bi Arin.


"Baik bi, tolong panggilkan Ica sama kakak ipar nya ya di kebun belakang."


"Baik tuan." Jawab Bi Arin, lalu segera melaksanakan perintah tuan muda nya.


Di kebun, Ica dan Sintia masih asik mengobrol, sesekali kedua nya saling menggoda.


"Kak, kenapa setelah 5 tahun berpisah kakak mau balikan sama kak Azwar?"


"Karena dia juga menepati janji Ca, tapi kakak yang tak menepati janji untuk memberikan hal selama ini kakak jaga."


"Maksud nya?"


"Kakak mengalami pelecehan Ca, hingga kakak kehilangan kesucian kakak."


"Hahh?"


"Iya Ca, saat bertemu kembali dengan Azwar kakak sempat menolak karena merasa tak pantas untuk Azwar, kakak sadar diri bagaimana keadaan kakak. Tapi Azwar bilang dia mau menerima kekurangan Kakak, dia juga berusaha meyakinkan kakak, akhirnya kakak luluh." Jelas Sintia.


"Kenapa kakak merasa gak pantas? Cinta itu bukan hanya sekedar memandang fisik kak, tapi semua berasal dari hati. Kalau kak Azwar mencintai kakak dengan tulus, pasti apapun keadaan kakak dia akan menerima dengan lapang dada."


"Ica juga hilang perawaan sama Daddy, padahal dulu Ica maupun Daddy gak punya perasaan apa-apa, selain Daddy yang ingin membantu Ica. Tapi semakin kesini Ica nyaman sama Daddy, dan ya sampai sekarang. Kakak pasti gak nyangka kan kalau aku dulu hanya partner ranjang?"


"Dulu, Ica sama Daddy bikin semacam perjanjian gitu. Daddy bantuin Ica keluar dari rumah itu, sekaligus membatalkan pernikahan Ica sama pria paruh baya beristri 3."


"Tunggu-tunggu, berarti kamu udah pernah mau nikah dong?"


"Iya, tapi bukan pernikahan yang aku inginkan Kak. Ibu menjual aku sama pria paruh baya beristri 3, dengan harga yang mahal."


Sintia menganga, sejahat itu kah ibu tiri nya Ica? dia sungguh tak percaya kejadian ini benar-benar terjadi pada gadis cantik di depan nya.


"Terus?"


"Ya Ica minta bantuan sama Daddy, terus Daddy nya minta syarat gitu. Yaudah Ica iyain aja, dari pada nikah sama kakek-kakek kan gak lucu ya?"


"Ibu tiri mu benar-benar jahat Ca."


"Seperti yang kakak tau, Ibu memang begitu dari dulu, gak pernah berubah." Jawab Ica.


"Permisi Nona, makan malam sudah siap. Tuan Zen sudah menunggu Nona." Ucap Bi Arin.


"Iya Bi, Ica kesana sekarang." Jawab Ica ramah.


"Kak, kepala pelayan disini bahkan lebih baik dari pada ibu tiri Ica."


"Iya, dia terlihat sayang padamu Ca."


"Dari awal kesini Ica langsung deket sama Bi Arin, Ica nyaman deket dia."

__ADS_1


"Dekat dengan siapapun tak masalah, selama itu bisa membuat mu nyaman."


"Sip kak, ayo kita masuk dulu, keburu Daddy Ica marah." Celetuk Ica sambil terkekeh, membuat Sintia juga ikut terkekeh geli.


Ica dan Sintia masuk ke dalam rumah, mereka masuk dengan tangan yang saling bertautan.


"Udah lama nunggu, Dad?"


"Nggak kok, puas makan stroberi nya sayang?"


"Puas dong, ini Ica juga petikin buat kak Sintia bawa pulang." Ica menunjukan wadah yang terdapat buah stroberi itu.


"Iya, ayo bumil harus makan dulu." Ica pun memulai acara makan malam nya dengan lahap, seperti biasa yang tak berselera makan adalah Zen, pria itu mengalami mood swing untuk makan, berbeda jauh dengan Ica. Selain tak mengalami morning sicknes, dia juga tak mengalami pengurangan nafssu makan, justru malah Zen.


Kedua pasangan itu pun makan malam bersama dengan tenang, berbeda jauh dengan keadaan di sebuah rumah kontrakan. Dimana Meisya baru saja pulang ke rumah kecil nan kumuh itu, luka di pipi nya begitu jelas bekas sayatan benda tajam.


"Darimana saja kau Mei?" Tanya Ibu nya.


"Anak nya baru pulang bukan nya di sambut malah teriak-teriak." Ketus Meisya.


"Ibu nanya lho ini."


"Ya nanya nya biasa aja kali gak usah teriak-teriak."


"Halah, anak gak tau diri juga mau nya di lembutin."


"Ibu gak tau Mei habis di culik? Lihat nih, ini perbuatan si penculik sama Mei."


"Ya itu kan karena kesalahan mu sendiri."


"Yang nyuruh Mei nyari uang siapa? Ibu kan?"


"Tapi ibu gak pernah nyuruh kamu buat jadi pelacurr!"


"Mei gak bisa nyari uang dengan kerja kayak orang-orang, jadi Mei cuma bisa ngandelin tubuh Mei. Lagipun apa peduli Ibu? Selama ada uang Ibu akan diam kan?"


Plakk...


Ibu nya menampar pipi Meisya hingga membuat perempuan itu terhuyung ke samping.


"Anak gak tau diri, gak tau di untung, rugi saya besarin kamu!"


"Rugi ibu bilang? Aku juga rugi, sangat rugi. Aku sudah mengorbankan kehormatan ku sebagai wanita, demi bisa memenuhi keserakahan ibu dengan uang!" Pekik Meisya, cukup dia sudah tak sanggup lagi.


Jadi simpanan pria-pria paruh baya yang mempunyai istri bukan lah keinginan Meisya, tapi keinginan ibu nya, dia yang menawarkan Meisya pada pria-pria hidung belang.


"Mau kemana kau Mei? Baru pulang sudah mau pergi lagi. Kau mau mengikuti jejak abang mu hah?" Teriak Ibu Meisya.


"Harus nya dari dulu aku melakukan hal ini, mungkin hidup ku takkan hancur berantakan seperti sekarang kalau aku tak mengikuti semua keinginan Ibu." Balas Meisya tak kalah tinggi. Dia pergi keluar dari rumah kontrakan ibu nya dengan menjinjing tas berisi baju nya.


Tujuan nya saat ini hanya mencari tentang keberadaan kakak nya, Azwar. Dia ingin tinggal bersama nya saja.


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Meiii😣


__ADS_2