Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 52


__ADS_3

Warning!! baca nya nanti malem ya, author gak tanggung jawab kalau kalian ngebayangin nya saat puasa๐Ÿ˜‚


agi hari nya, Zen terbangun saat merasakan sebuah tangan yang mengusap-usap wajah nya.


"Morning By.."


"Ya, morning Daddy tampan ku." Jawab Ica, gadis itu kembali membaringkan tubuh nya di atas dada bidang Zen, membuat tangan Zen refleks mengusap bahu sang gadis yang masih polos.


"Kenapa sudah bangun sayang? Biasa nya selalu Daddy yang bangunin kamu."


"Gak tau Dad," Jawab Ica sambil membelai dada Zen dengan lembut, entah menggoda atau tak sengaja, tapi hal itu membuat Zen panas dingin.


"Baby, hentikan." Pinta Zen, suara nya serak seperti menahan sesuatu.


"Kenapa Dad?"


"Jangan menggoda Daddy pagi-pagi sayang, Daddy bisa saja kembali menghajar mu sekarang juga." Jawab Zen.


"Memang itu yang aku tunggu Dad, aku menginginkan nya lagi. Boleh?"


"Ohh, Daddy tau alasan kenapa kamu bangun duluan." Cetus Zen, tangan nya mulai merayap menjelajahi tubuh sang gadis. Dengan senang hati dia akan mengabulkan keinginan gadis nya, jarang-jarang Ica minta duluan, ini pertama kali nya.


"Apa Dadd?"


"Ya karena kamu berhasratt sayang, Daddy juga akan bangun kalau Daddy menginginkan nya."


"Mungkin, bisa jadi Dad. Ayo bermain pagi, sejauh ini kita belum pernah main pagi hari kan Dad?" Bujuk Ica, padahal tanpa di bujuk pun Zen akan senang hati melakukan kegiatan favorit nya.


Zen menaiki tubuh Ica, Ica pun dengan senang hati menyambut sang Daddy dengan melingkarkan tangan nya di leher Zen. Pria itu mulai mencumbui Ica dengan mesra seperti biasa, hingga membuat gadis itu mabuk kepayang dengan sentuhan Zen di tubuh nya.


"Dad.."


"Iya sayang, kenapa?"


"Gak tahan, pengen masuk cepetan.." Pinta Ica dengan manja.


Zen menurunkan tangan nya ke inti sang gadis, menyentuh nya dengan sensual.


"Sudah basah, By.." Ica mengangguk cepat, sambil tersenyum.


Zen pun segera melakukan permintaan sang gadis dengan cepat, penyatuan kedua kali setelah pria itu pulang dari luar negeri.


....


Zen pergi ke kamar mandi bersama Ica, mereka mandi bersama, bercanda ria di bath up seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


Ica memeluk tubuh Zen, sedangkan tangan pria itu sedang menyabuni punggung sang gadis.


Ica melihat banyak sekali bekas cakaran di punggung sang Daddy, membuat nya merasa bersalah karena sudah dua kali menyakiti Zen. Pertama, Ica tak sengaja menendang terong ungu Zen karena terkejut, kedua dia malah mencakar punggung Zen hingga berbekas karena kuku nya panjang.


"Daddy, maaf ya."


"Maaf untuk apa sayang? Apa untuk pakaian mu yang terbuka saat hari pertama masuk kuliah?" Tanya Zen.


Ica terlihat kaget, dari mana Zen tau dia memakai crop top? Ahhh, dia melupakan kalau anak buah Zen berseliweran dimana-mana.


"Untuk itu juga Dad, Ica pikir Daddy gak bakal marah cuma karena baju doang."


"Di rumah kamu boleh pakai, tapi kalau di luar Daddy tak mengizinkan. Kamu tau sendiri, Daddy tak suka milik Daddy di lihat orang lain!" Tegas Zen membuat nyali Ica menciut.


"Maaf untuk semua nya Daddy, untuk tendangan itu, dan juga cakaran di punggung Daddy."


"Tak apa sayang, selesai kan mandi nya. Daddy sudah lapar.." Ucap Zen lalu mencium singkat kening gadis cantik nya.


"Ica duluan ya, pakaian Daddy Ica siapkan nanti."


"Iya sayang, bilas dulu tubuh mu." Ica menurut, dia membilas nya di bilik shower. Sedangkan Zen, pria itu malah bersantai dengan bersandar di sisi bath up.


Tak lama, Zen juga selesai berendam. Pria itu berdiri di depan cermin wastafel sambil melihat penampilan nya, dia masih sangat tampan, semua orang pun tau itu.


Zen meraba leher nya, terdapat banyak tanda cinta sang gadis, membuat nya tersenyum jika mengingat betapa ganas nya Ica tadi malam.


....


Ica keluar dari kamar, dia berjalan ke arah bi Arin yang terlihat sedang sibuk berkutat dengan wajan dan bahan-bahan makanan.


"Pagi Bi.."


"Ehh Non, pagi. Sudah bangun? Maaf bibi kesiangan, sarapan nya belum siap." Ucap Bi Arin.


"Ica bantu ya Bi, masak apa?"


"Tuan Zen suka tumis pakcoy yang di campur udang, Nona coba buat itu ya. Bibi masih masak daging, buat rendang." Jawab Bi Arin.


"Liatin ya Bi, Ica gak tau soalnya."


"Iya Non, hati-hati tangan nya ke iris ya." Peringat Bi Arin.


Tapi, baru saja Bi Arin selesai bicara. Tangan Ica sudah teriris dan mengeluarkan banyak darah, hingga menetes ke lantai, padahal luka nya tidak dalam.


"Bibi.."

__ADS_1


"Ya ampun Non, bibi bilang juga apa?" Panik Bi Arin, wanita baya itu buru-buru mengambil kotak P3K dan obat merah.


Bertepatan dengan itu juga, Zen datang ke dapur dan menyaksikan sendiri darah yang mengucur dari tangan sang gadis.


"Baby, kamu kenapa?" Zen segera menutup luka di jari gadis nya dengan tisu. Pria itu terlihat panik, sedangkan yang terluka malah terlihat santai.


Tak lama, Bi Arin datang dengan membawa kotak P3K, tapi baru saja datang dia sudah mendapat tatapan tajam dari Zen.


"Kemana maid yang lain? Kenapa harus gadis ku yang memasak?" Tanya Zen, raut wajah nya begitu asam.


"Sudah memulai tugas nya masing-masing Tuan."


"Cepat selesaikan.." Perintah Zen lalu merebut kotak itu dari tangan Bi Arin, lalu membawa Ica ke ruang tamu. Ica menatap Bi Arin dengan iba, ini karena kesalahan nya, bukan Bi Arin. Bahkan wanita baya itu sudah memperingatkan nya untuk berhati-hati.


"Daddy, Ica gapapa.."


"Diam lah gadis nakal, Daddy memang pernah meminta mu memasak, tapi jangan ceroboh begini By. Daddy khawatir, jaga dirimu baik-baik sayang."


"Iya Dad, Ica minta maaf." Ucap Ica sambil menunduk.


Zen tak menjawab, pria itu sibuk mengobati luka di tangan gadis nya, membalut nya dengan kain kasa.


"Kamu disini tinggal makan By, tak perlu memasak lagi. Kalau Daddy lihat kamu masak, kamu Daddy hukum."


"Kok gitu sih Dad? Wanita itu kan harus bisa masak, masa Ica di larang?"


"Lalu guna nya maid itu apa? Kalau kamu tetap memasak sayang." Lagi-lagi Ica hanya menunduk, disini dia di perlakukan bagai putri.


"Kamu hanya perlu melayani Daddy sayang, menyenangkan Daddy saja itu sudah cukup, tak perlu susah-susah melakukan kegiatan yang membuat mu lelah."


"Baik Dad." Jawab Ica lirih. Gara-gara tangan teriris saja dia di nasehati habis-habisan, hingga dia di larang memasak lagi, padahal itu hobi nya.


"Good girl.." Ucap Zen sambil mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut, juga mengecup singkat kening Ica.


"Jangan merasa terkekang, Daddy hanya khawatir terjadi hal seperti ini lagi sayang."


"Ica mengerti Dad, terimakasih sudah perhatian."


Zen tersenyum, lalu memeluk Ica dengan mesra. Hal itu tak luput dari pandangan beberapa maid dan penjaga yang sedang bertugas, mereka di buat baper akut oleh sepasang anak manusia bucin itu.


...


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’œ


__ADS_2