
Ica terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, tak lama seorang dokter kandungan wanita datang dengan sneli putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya.
"Nyonya kenapa?"
"Tadi mengeluh perutnya sakit dok, terus pingsan." Jawab Zen, dokter itu menganggukan kepala nya dan mulai memeriksa keadaan Ica. Dokter itu menyibak sedikit dress Ica dan meletakan stetoskop di perutnya, juga memeriksa denyut nadi nya.
"Begini Tuan, sepertinya Nyonya sangat tertekan. Terlalu sering berfikir berat akan membuat kram perut, itu juga salah satu faktor utama terjadinya keguguran, kandungan Nyonya tergolong lemah. Saya sarankan jangan berpikiran terlalu berat, istirahat yang cukup, beruntung janin nya kuat dan bisa bertahan." Zen mendengarkan penjelasan Dokter itu dengan seksama.
"Kurangi juga makan-makanan yang terlalu asam, meski bawaan bayi tapi itu tetap berpengaruh pada kesehatan juga. Apa Nyonya masih mengalami gejala morning sickness?" tanya dokter itu.
"Tidak dok, malah saya yang mengalami nya." Jawab Zen, membuat dokter itu tersenyum simpul.
"Anda sangat mencintai istri anda ternyata, masih mengalaminya sampai saat ini?"
"Masih dok, hanya saja tidak terlalu sering." jawab Zen seadanya.
"Kalau begitu, saya hanya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya Ica. Aahh ya, satu lagi. bagaimana nafssu makan nya?"
"Istri saya sebelum hamil juga suka makan dok, setelah hamil malah bertambah suka, jadinya ngembang gini." celetuk Zen.
"Tak apa, itu justru bagus asalkan makan-makanan yang bergizi dan sehat. Karena, ada beberapa ibu hamil yang susah makan." Ya memang bawaan ibu hamil itu berbeda-beda setiap orangnya, tak jauh-jauh seperti Ica dan Hani, mereka kebalikan meski keduanya berteman baik.
"Kalau begitu saya permisi dulu, silahkan tebus vitamin nya di bagian farmasi." Zen menganggukan kepala nya, dan dengan peka nya Bimo langsung mengekor di belakang dokter itu tanpa di suruh.
Di lain tempat, dokter baru saja keluar dari ruangan Meisya. Arian berdiri dan menanyakan keadaan perempuan itu, tapi dokter mengatakan kalau kondisi Meisya masih sama, belum ada kemajuan sama sekali.
"Kami takut Nona Meisya akan koma jika tak bangun dalam waktu 24 jam."
"Tidak, itu tidak mungkin. Meisya ku akan bangun sekarang juga Dok, jangan mengatakan hal yang mustahil." Jawab Arian dengan nada tinggi.
"Maaf tuan, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi." Arian terdiam, perkataan dokter itu benar. Tak ada yang tau bagaimana nasib manusia jika tuhan sudah berkehendak tak ada yang tak mungkin, dokter hanya perantara usaha manusia, namun tetap tak bisa mengubah takdir yang sudah di tentukan oleh yang di atas.
__ADS_1
"Bisakah saya menemui Meisya, Dok? Sebentar saja, saya mohon."
"Silahkan Tuan, saat ini Nona sedang membutuhkan dukungan dari anda. Ajak dia bicara, agar alam bawah sadarnya mendorong nya agar cepat terbangun dari tidurnya." saran dokter itu. Arian kembali mengangguk dan masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu kaca itu dengan perlahan.
Hampir saja pria tampan itu limbung saat melihat keadaan Meisya, perutnya di perban besar nan tebal, tapi meski begitu masih terlihat ada sedikit noda darah di atasnya. Arian menangis tergugu, ini pertama kalinya dua menangisi seorang gadis.
Sekuat apapun pria, jika menyangkut wanita yang dia cintai, siapa yang kuat? Termasuk Arian, meski terlihat sangar dan menakutkan dari luar, tapi hatinya sangat lembut.
"Meisya, masih sakitkah? Bangunlah sayang, jangan biarkan aku sendiri, aku masih sangat membutuhkan mu, kita masih belum menghabiskan banyak waktu bersama, setelah kamu sadar, mari kita liburan seperti yang kamu mau." Gumam Arian, dia mengusap lembut punggung tangan Meisya. Perempuan itu pernah mengatakan ingin pergi liburan ke pantai dan melakukan semacam piknik. Saat itu, Arian tak mengatakan apapun, dia hanya diam saja tanpa menjawab ya atau tidak atas keinginan Meisya.
Padahal keinginan nya terbilang sederhana, tapi dia belum mampu memenuhi nya karena saat itu juga dia sibuk mempersiapkan pesta pernikahan sang atasan, siapa lagi kalau bukan Zen.
"Meisya, maaf kalau aku terlalu lama membuat mu menunggu. Kau ingin mendengarnya kan?"
"Aku mencintaimu Meisya, sungguh aku jatuh hati padamu, meski setelah aku tau bagaimana masa lalu mu, aku siap menerima semuanya, bahkan keadaan mu sekarang, aku sama sekali tak keberatan, yang aku inginkan kita tetap bersama, jadi bangunlah Meisya."
"Sampai kapan kamu akan membuat aku seperti ini? Aku bahkan menangis hanya karena melihat keadaan mu seperti ini, bangunlah sayang." Gumam Arian.
"Sayang, apa masih ada yang sakit?" Tanya Arian, dia bangkit dari duduknya sambil menekan tombol di atas ranjang. Meisya hanya menggeleng sebagai jawaban, senyum nya terasa palsu, tentu nya ada rasa sakit yang terasa dalam hatinya, tapi bukan sakit karena bekas luka yang di jahit, tapi sakit karena kelakuan ibunya yang sudah sangat melukai perasaan nya, luka yang dia dapat masih belum seberapa di banding luka batin yang telah wanita itu torehkan di hatinya.
Tak lama, dokter datang dan memeriksa Meisya. Perlahan, mereka membuka selang oksigen yang sedari tadi siang menempel di mulut Meisya.
"Keadaan nya masih sangat lemah, masih harus banyak beristirahat."
"Baik dok, terimakasih." Jawab Arian, dokter itu pun pergi dari ruangan rawat Meisya.
"Ba-gaimana Ica? Ap-a dia baik-baik sa-ja?" Tanya Meisya, bicara nya terbata mungkin karena luka nya belum mengering membuatnya terasa sakit.
"Iya, dia baik-baik saja. Jangan terlalu di pikirkan, kamu harus tidur. Aku akan menemani mu disini,"
"Ter-imakasih Kak." Ucap Meisya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk apa Mei?" Tanya Arian, dia kembali memanggil perempuan itu dengan panggilan biasanya, padahal tadi dia memanggil perempuan itu dengan panggilan sayang.
"Karena su-dah membalas cintaku." Jawab Meisya, sontak saja wajah Arian memerah.
"Kamu mendengarnya?" Meisya menganggukkan kepalanya, dia mendengar semuanya, termasuk ucapan Arian yang menyatakan cinta padanya. Dia juga mendengar saat pria itu menangis tergugu di sampingnya, itulah yang membuatnya berusaha sangat keras untuk membuka matanya, karena dia tak tahan mendengar pria yang dia cintai menangis.
"Eemmm, sudahlah. Tidur dulu, kamu baru saja melewati masa kritismu, besok kita bisa bicara lagi."
"Kakak tidur di-mana?" tanya Meisya.
"Disini, aku bisa tidur sambil duduk. Tak usah mengkhawatirkan aku Mei, aku bisa tidur dimana saja." Jawab Arian, membuat perempuan itu tersenyum lalu mulai memejamkan matanya kembali. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah dan mengantuk, mungkin efek dari obat bius belum sepenuhnya hilang.
.....
🌷🌷🌷🌷
Tadinya mau ku bikin kritis semingguan, tapi kasian bang arian nya🤭🤭
Nihh, author mau spill novel yang rekomended buat kalian baca ya, jdulnya Akhir Pernikahan Dini, karya author CovieVy
Blurb..
Seperti biasa, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.
Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh di kejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.
Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus kond*m yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik Suamiku?
jangan lupa mampir terus tekan favorit, like dan ramaikan komentar nya, happy reading💜💜💜
__ADS_1