Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 84


__ADS_3

Setelah selesai dengan acara makan malam, Pria itu mengantar Hani ke kontrakan nya. Awalnya Hani menolak karena ibu kontrakan sangat tegas melarang pria ke dalam kontrakan, tapi meski begitu teman-teman Hani banyak yang melanggar dan memasukan laki-laki ke kamar mereka, dan ajaib nya ibu kontrakan tak tau.


"Belok kanan atau kiri?"


"Lurus.." Jawab Hani santai.


"Lurus kemana? Jalan yang kecil dan sempit itu?" Hani menganggukan kepala nya. Jalan itu memang kecil, hanya muat satu mobil saja.


...


"Ini tempat tinggal mu?"


"Iya, kenapa?" Tanya Hani, gadis itu sedang berjongkok membuka sepatu nya.


"Sempit sekali, apa muat kursi di dalam?"


"Nggak tuh, cuma muat kasur no 3 doang sama kompor gas." Jawab Hani. Dia meletakan sepatu nya di tempat nya, lalu mengambil kunci di bawah keset dan membuka pintu kontrakan nya.


Pria itu masuk dan mengedarkan pandangan nya, sempit tapi sangat rapih dan bersih.


"Mau minum teh atau kopi?"


"Teh manis." Jawab nya,


"Maaf disini gak ada kursi, jadi duduk nya di bawah." Ucap Hani, menunjuk karpet bulu di dekat televisi kecil.


Pria itu duduk bersila, dia masih tak menyangka gadis yang membuat nya tak bisa tidur itu tinggal di tempat sekecil dan di lingkungan yang terbilang kumuh.


"Gak nyangka di pemukiman kumuh ada bidadari cantik." Gumam nya sambil terus mengedarkan pandangan nya.


Tak lama, gadis itu datang dengan secangkir teh hangat yang masih mengepul.


"Diminum dulu, saya mau mandi."


"Mandi bareng yok? Kebetulan aku juga belum mandi." Celetuk pria itu membuat pipi Hani merona, baru membayangkan nya saja membuat Hani malu.


"Lain kali saja." Hani berlari kecil dan masuk ke kamar mandi.


Pria itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala nya, merasa lucu dengan tingkah gadis nya.


Suara gemuruh mulai terdengar, tanda hujan akan segera turun. Dan benar saja tak lama kemudian, hujan deras di sertai petir juga angin yang bertiup kencang mewarnai malam ini.


"Hujan? Gimana pulang ya?" Gumam nya lalu merogoh ponsel di saku jas nya. Ada beberapa pesan penting dari klien dan juga panggilan tak terjawab dari orang penting.


Tapi saat dia mencoba menghubungi kembali, tak kunjung di angkat juga.


"Mungkin sudah tidur atau bermain kuda-kudaan." Gumam nya, pria itu menyeruput teh di cangkir, tapi mata nya teralihkan saat aroma yang menyegarkan menguar.


Pria itu melotot saat melihat Hani keluar kamar mandi hanya dengan handuk kecil dan rambut yang dia ikat sembarangan, sungguh demi apapun gadis itu terlihat sangat cantik.


Pria itu tersedak teh yang sedang dia minum hingga terbatuk dan membuat wajah nya memerah.


"Kenapa?" Panik Hani, dia bahkan lupa kalau pria di depan nya adalah pria profesional yang pandai memanfaatkan situasi.

__ADS_1


Benar saja, Hani tertipu dan masuk jebakan. Pria itu mencekal kedua tangan Hani dan mendorong nya hingga telentang di karpet dan menindih nya.


"A-apa ini?"


"Kamu tak sadar sudah membuat ku bergairah karena aroma sabun mu, Honey?" tanya pria itu dengan suara berat nya.


"Ta-pi kau kan sudah janji takkan melakukan itu malam ini?"


"Aku tak berjanji, hanya mengatakan kita takkan melakukan nya kan? Jadi aku berubah pikiran, ayo bermain."


"Nggak dulu,"


"Kenapa?"


"Aku sedang datang bulan." Jawab Hani, membuat pria itu lemas seketika, bahkan senjata nya yang tadi menegang itu langsung lemas.


"Kenapa harus sekarang?"


"Mana aku tau, wajar kan aku datang bulan?"


"Ya wajar, tapi harus nya jangan sekarang. Mana cuaca sangat mendukung untuk bercocok tanam."


"Aku mau pake baju dulu, keburu meluber ini." Pria itu pun melepaskan Hani dengan terpaksa. Mau memaksa pun tak ada gunanya jika sarang nya sedang kebanjiran.


...


Kedua nya sedang berbaring menatap langit-langit kamar, meski sempit karena kasur nya hanya muat satu orang, tapi pria itu tak kehabisan akal, mereka berbaring dengan anggota tubuh yang saling tumpang tindih.


"Nama mu siapa?" Tanya Pria itu.


"Bimo Astra Sanjaya." Jawab pria itu yang ternyata adalah Bimo, tak lain dan tak bukan adalah sekretaris Zen, Daddy dari sahabat nya sendiri, Wenthrisca.


Tapi sejauh ini maupun Bimo atau Hani tak mengetahui kalau Bimo adalah sekretaris Zen, begitu pun Bimo yang tak mengetahui kalau partner ranjang nya adalah sahabat dari kekasih tuan muda nya.


Hani terkekeh pelan, membuat Bimo heran dan melirik sang gadis dengan dahi yang berkerut.


"Kenapa tertawa?"


"Nggak, hanya lucu saja. Kau sudah meniduri ku dua kali, tapi kita baru tau nama masing-masing."


"Aku sudah tau nama mu waktu pertemuan pertama kalau kau lupa."


"Aahh ya benar, aku memang lupa." Jawab Hani sambil cengengesan.


"Terus kalau udah tau kenapa tanya?" Gumam Hani, tapi masih terdengar jelas oleh telinga Bimo.


"Aku hanya tau nama panggilan mu saja, bukan nama lengkap."


"Ohh begitu ya, baiklah."


"Kenapa dahi mu berkeringat?"


"Dimana? Nggak tuh.."

__ADS_1


"Jangan bohong, aku punya mata. Ini keringat," Ucap Bimo sambil mengusap buliran keringat dari kening Hani.


"Bibir mu juga pucat, kau sakit?"


"Se-dikit.."


"Apa yang sakit?"


"Perut aku kram datang bulan."


"Mulas?" Hani menganggukan kepala nya. Memang nya rasa nya mulas melilit.


"Lalu aku harus apa?" Panik Bimo.


"Biasa aja kali, kok panik gitu?" Ledek Hani.


"Kalau sakit perut datang bulan obat nya apa?"


"Panasin air terus masukin ke dalam botol, nanti juga baikan."


"Oke." Bimo langsung melakukan apa yang Hani ucapkan, tapi kenapa dia bisa sepeduli ini pada seorang gadis? Entahlah, hanya Bimo yang tau isi hati nya sendiri.


Setelah di rasa cukup hangat, Bimo menuang nya perlahan ke dalam botol dan segera membawa nya ke kamar.


"Ini.." Bimo mengulurkan botol itu dan Hani segera mengambil nya dengan senang hati.


"Terimakasih." Gadis itu memasukan botol itu ke dalam pakaian nya, menempelkan nya ke perut hingga terasa hangat dan sakit nya sedikit membaik.


"Lebih baik?"


"Iya, terimakasih. Kau tak pulang?"


"Tega sekali kau bertanya begitu, aku menginap saja. Hujan sangat deras di luar, kau tega membiarkan aku keluar dari sini sendirian?"


"Lebay!" Ejek Hani membuat pria itu gemas dan menggelitiki pinggang Hani.


"Aaaa ampun ampun.. Ini gelii.."


"Berani mengejek lagi, aku gigit." Hani diam tak menjawab, kenapa dia bisa seakrab ini dengan pria ini? Padahal biasa nya dia takan mudah berbaur dengan laki-laki, bahkan dia juga berani mengejek pria di depan nya tanpa sungkan.


"Bengong."


"Hisshh ganggu aja." Ketus Hani, tapi saat kedua nya memutuskan untuk tidur, lampu padam dan membuat malam itu gelap gulita.


"Gelap, aku takut."


"Tidur, aku peluk."


Hani mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Bimo, membuat rasa nyaman begitu terasa jika dia memeluk pria itu.


...


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท

__ADS_1


Garing? Otak author udah pengen mudik๐Ÿ˜ช


Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Maaf buat readers semua kalau author ada salah-salah kata, atau author buat pahala puasa kalian berkurang karena baca karya ini๐Ÿ˜ mohon maaf ya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜™


__ADS_2