
Zen sedang menatap tajam seseorang yang datang dengan Azwar, siapa lagi kalau bukan Meisya, sedangkan Ica dia tak di izinkan keluar oleh Zen, khawatir saja kalau wanita itu berbuat macam-macam pada istri dan calon anak nya.
"Katakan, apa maksud dan tujuan mu datang ke rumah ku, Nona Meisya?" Tanya Zen datar.
"S-aya ingin meminta maaf pada Ica." Jawab Meisya terbata, dia merasa terintimidasi dengan tatapan Zen.
"Bicara kok kayak orang gagap, yang jelas!"
"Saya ingin minta maaf pada Ica." Jawab Meisya kali ini dengan lebih jelas.
"Ica ku sedang beristirahat sekarang, lagi pun apa kau tak tau malu hingga berani menginjakkan kaki di rumah ku? Setelah semua usaha mu untuk menggoda ku gagal total?" Tanya Zen dengan nada menyindir, membuat Azwar melotot.
"Apa maksud mu Zen? Siapa yang menggoda?" Tanya Azwar.
"Siapa lagi wanita yang gatal, kalau bukan adik mu itu Azwar. Beruntung nya aku tipe laki-laki setia dan tak suka barang murah." Cetus Zen membuat Meisya menunduk semakin dalam.
"Katakan Mei, apa semua ini benar?"
"Maaf kak, Itu semua Mei lakukan di bawah pengaruh Ibu." Jawab Meisya pelan.
"Kau dan ibu mu kan satu tipe, jadi tak pantas menyalahkan satu pihak saja."
"Maafkan Meisya Zen."
"Untuk apa meminta maaf padaku, kau tak punya salah apapun padaku, biar saja dia yang minta maaf!" Tegas Zen, membuat Meisya mendongak. Harus nya dia tau, berhadapan dengan Azzendra bukan lah hal yang mudah.
"Saya meminta maaf Tuan, saya memang bersalah. Tapi saya janji akan berubah, memperbaiki diri saya."
"Kau pikir semudah itu aku percaya? Maaf, tapi kau wanita licik yang punya seribu satu cara untuk menipu lawan mu. Aku tidak sebodoh itu Meisya!" Ucap Zen tegas.
"Daddy.." Panggil Ica dari ujung tangga, membuat Zen segera berlari dan menggendong Ica.
"Sudah Daddy bilang jangan turun sebelum Daddy suruh, kenapa nakal hmm?"
"Ica kangen sama kak Mei, Dad." Jawab Ica, membuat wajah Zen masam.
Zen mendudukan Ica di samping nya, Ica tersenyum manis ke arah Meisya, sedangkan Meisya dia terlihat memaksakan senyum nya.
"Apa kabar kak?"
"Kalau dia mampu mengemis kesini, berarti dia sehat Bby." Celetuk Zen, membuat Ica menepuk lengan suami nya itu karena bicara tanpa di minta.
"Kakak baik Ca, bagaimana dengan mu?"
"Kau buta seperti nya, tak lihat kalau istri ku ini begitu sehat? Lihat tubuh nya begitu gemoy, montok. Tak seperti kau yang kurus, seperti kekurangan gizi." Sinis Zen.
"Daddy bisa diam? Atau tidur di luar?"
"Yahh jangan gitu dong Bby, Daddy kan gak bisa kalau gak meluk kamu sama dedek."
"Yaudah diam dulu, jangan bicara tanpa di minta." Ucap Ica, membuat Zen mengangguk pasrah. Sungguh demi apapun, kalau saja suasana sedikit lebih santai, Azwar ingin tertawa saat melihat Zen yang pasrah saat pawang nya bicara.
"Aku baik kak, sangat baik." Jawab Ica.
__ADS_1
"Ca, kakak kesini mau minta maaf sama kamu atas perlakuan kakak dulu."
"Tanpa kakak minta pun, Ica sudah memaafkan kakak. Sudah jangan di bahas lagi, kita mulai hidup baru ya kak?"
"Terimakasih Ca, andai saja dulu kakak sadar kalau kamu adalah adik yang baik, mumgkin hubungan kita bisa sangat dekat."
"Tak masalah kak, kita bisa dekat sekarang kan? Semua nya belum terlambat." Jawab Ica.
"Terimakasih Ca.." Meisya berlutut di kaki Ica sambil menangis.
"Kak, tolong jangan begini. Jangan merendahkan diri kakak, Ica hanya adik disini, ini tak pantas kak, sudah cukup."
"Maafkan Kakak Ica."
"Iya, Ica udah maafin kakak. Sudah ya, jangan menangis. Kita bisa memulai semua nya dari awal."
Meisya mengusap kedua ujung mata nya yang masih berair, lalu dia memeluk Ica. Ica pun menyambut pelukan kakak nya itu dengan hangat.
"Kakak nyesel udah jahat sama kamu, Ca."
"Biarkan semua nya jadi masa lalu kak, jangan ada yang di sesali. Gunakan lah waktu untuk memperbaiki diri, Ica yakin kakak bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di mulai dari sekarang." Ucap Ica tulus, membuat Meisya kembali menangis.
"Sudah kak, cukup jangan menangis."
"Aku dengar kamu sedang hamil?" Tanya Meisya, setelah melerai pelukan nya.
"Iya kak, Ica lagi hamil 2 bulan." Jawab Ica sambil mengusap perut nya yang masih datar.
"Tidak!" Tegas Zen, tapi Ica keburu melotot dan itu membuat Zen kembali duduk.
"Boleh kok kak, ini calon ponakan kakak."
Meisya tersenyum lalu mengusap lembut perut Ica.
"Haii ponakan aunty, sedang apa kamu di dalam? Semoga kamu terlahir seperti ibu mu, cantik dan punya hati yang baik." Ucap Meisya.
"Memang nya darimana kau tau kalau anak dalam perut istri ku itu perempuan? Dia laki-laki, dia yang akan menjadi pewaris keluarga Nicholas nanti." Tegas Zen,
"Aunty tak tau jenis kelamin mu apa, tapi apapun itu aunty akan sayang sama kamu. Tumbuh dengan baik ya, jadi anak yang baik dan jangan membuat ibu mu kesakitan."
"Baik aunty, dedek janji gak bakal nyusahin Ibu. Nyusahin ayah aja," Jawab Ica menirukan suara anak kecil, membuat Azwar terkekeh karena suara Ica begitu lucu.
"Kak, ibu gimana?" Tanya Ica.
"Ibu masih seperti dulu Ca, masih serakah akan uang." Jawab Meisya lirih.
"Lalu?"
"Kemarin kakak pulang, tapi malah dapat sumpah serapah, jadi kakak milih pergi aja ke rumah kak Azwar." Jelas Meisya.
"Ica denger kakak jadi simpanan pria beristri?" Tanya Ica langsung to the point.
"Iya, kakak terpaksa karena Ibu jual kakak sama mereka."
__ADS_1
"Kau sendiri menikmati nya kan, Mei? Jangan munafik!" Zen nimbrung lagi.
"Tak apa kak, aku juga menikmati hubungan ku dengan Daddy. Beda nya, kami sama-sama lajang tak punya pasangan,"
"Kakak tak mau melakukan hal semacam itu lagi Ca, sudah cukup. Kakak lelah.."
"Kakak mau tinggal disini?"
"Maaf tapi disini tidak menerima barang murah." Celetuk Zen, membuat Ica menimpuk suami nya itu dengan bantal sofa.
"Ampun Bby, Daddy kan cuma jaga-jaga doang. Siapa tau dia punya niat terselubung kan? Kayak udang di balik bata."
"Batu Dad, batu!"
"Batu bata kan sama aja cuma beda satu huruf." Jawab Zen, membuat Ica mendelik.
"Sama apa nya hmm?"
"Sama-sama keras sayang." Jawab Zen.
"Tak usah Ca, Kakak sama kak Azwar aja. Bantu-bantu sebelum dia punya istri."
"Mana ada bantu-bantu, yang ada cuma nyusahin." Sindir Zen.
"Daddy, pilih mau Ica pukul atau tidur di luar tanpa selimut?"
"Yaudah lah pukul aja daripada tidur gak meluk dedek." Ucap Zen pasrah.
"Lagian gapapa Ca, aku emang nyusahin kok. Suami kamu bener."
"Tuhh kan Bby, benalu nya aja ngaku." Cetus Zen, membuat Ica gereget ingin membanting suami nya itu.
"Jangan ngerasa gitu kak, gapapa kok. Karena kita keluarga."
"Tapi aku mau sama kak Azwar aja, biar dia gak sendirian dulu sebelum punya bini."
"Yaudah terserahh kakak aja kalau gitu, Ica gak bisa maksa kakak buat mau tinggal sama Ica."
Kedua nya pun kembali berpelukan seperti saudara yang sudah lama terpisah. Karena memang nyata nya, kedua nya tak pernah sedekat ini dari dulu, baru kali ini kedua nya bicara dan berdekatan hingga berpelukan.
.....
🌷🌷🌷🌷🌷
Akur akur ya kalian😘
Promosi Novel😍
Haii readers setia pembaca cerita Zen sama Ica, sambil nunggu novel ini up, mampir juga ke karya temen author, di jamin buat kalian baper akut.
Karya author Covievy, atau kalian klik nama pena nya aja, banyak karya yang menarik disana, happy reading💜
__ADS_1