Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 92


__ADS_3

Azwar mengemudikan motor butut nya mengikuti motor sport di depan nya dengan pikiran yang tak menentu, dia mengkhawatirkan keadaan gadis nya.


Hingga beberapa kali hampir oleng menabrak pembatas jalan, itu semua tak luput dari penglihatan Brian, dia melihat jelas kalau pria di yang mengikuti nya tak fokus.


Tapi Brian memilih terus melajukan motor nya, selama pria di belakang nya tak kenapa-napa.


....


Ketiga orang itu sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan UGD dan mendapat sambutan penampilan Zen yang masih berantakan, kemeja nya kotor dengan darah yang sudah mengering. Wajah nya kusut dengan mata sembab, entah kekurangan tidur atau terlalu banyak menangis.


"Permisi Daddy nya Ica.."


Zen mendongak dan menatap tiga orang itu bergantian, lalu bangkit dari duduk nya.


"Ya, kenapa? Kalian siapa?"


"Saya Risya teman nya Ica dan ini Brian teman nya Ica juga, ini kak Azwar kakak nya Ica." Jawab Risya.


"Kau pria itu kan? Yang berpelukan dengan gadis ku?"


"Ya, karena aku kakak nya."


"Hanya kakak tiri." Celetuk Zen menyebalkan, membuat Azwar mendelik.


"Bagaimana keadaan Ica?"


"Masih di tangani dokter di dalam, belum keluar juga padahal sudah sejam an." Jelas Zen dengan raut wajah sendu nya.


Tapi tak lama, pintu terbuka dan keluarlah satu perawat.


"Keluarga nya pasien?"


"Saya kekasih nya Ica."

__ADS_1


"Saya kakak nya Ica." Jawab kedua pria itu bersamaan.


"Begini, karena luka nya cukup dalam. Nona Ica kehilangan cukup banyak darah, apakah ada disini yang memiliki golongan darah A-? Kebetulan stok darah ini di rumah sakit


Zen menggelengkan kepala nya, golongan darah nya AB+, begitu pun ketiga orang itu kompak menggeleng.


Zen berdecak lalu segera mengeluarkan ponsel nya dengan cepat.


"Cari darah A- sekarang juga!" Zen segera mematikan sambungan telepon nya secara sepihak setelah memberi perintah tegas.


"Maaf tuan, sebaiknya anda cepat. Kemungkinan benda yang di pakai untuk melukai Nona Ica karatan, khawatir nya terjadi infeksi, itu dapat membahayakan nyawa Nona Ica."


"Ap-apa? Separah itu kah, Sus?" Tanya Azwar.


"Iya, karat sangat berbahaya jika terkena kulit apalagi jika terkena luka." Jelas suster itu, membuat Azwar meradang.


"Heii, bagaimana kau menjaga adik ku hah?" Azwar menarik kerah kemeja Zen yang di penuhi darah itu.


"Ica menderita, kau tau?"


"Lalu apa beda nya dengan kau yang meninggalkan gadis ku hah? Kau tau apa perbuatan ibu dan adik mu itu pada Ica? Mereka menjual Ica ku pada pria beristri, beruntung saja dia datang padaku, lalu apa kau pantas menggantikan aku menjaga Ica ku?" Tanya Zen, membuat Azwar semakin meradang.


"Kau tak becus menjaga adik ku, dia terluka gara-gara kau kan? Lepaskan Ica dan dia akan terbebas dari musuh-musuh mu."


"Lalu? Selama Ica menderita kau kemana saja? Hanya karena beasiswa kau melupakan gadis ku? Kau juga tak becus menjaga Ica ku!" pekik Zen, dia tak menghiraukan tatapan orang-orang yang berlalu lalang.


Situasi semakin memanas, tak ada yang mau mengalah di antara salah satu nya, Zen tetap ingin mempertahankan Ica, dan Azwar bersikeras ingin membawa Ica kembali tinggal dengan nya.


"Kau mampu membiayai hidup Ica? Bagaimana jika gadis ku tak makan hah? Dia biasa nya makan banyak, kau mampu? Bahkan kau hanya seorang pengangguran!" Cibir Zen.


"Walau aku hanya seorang pengangguran, tapi aku pasti mementingkan apapun untuk Adik ku sendiri."


"Kalau minat, silahkan ajari ibu dan adik mu. Jangan so soan mau mengambil gadis ku, sedangkan kelakuan orang tua dan adik mu saja kelakuan nya tak lebih dari binatang!" Zen meluapkan emosi nya di depan Azwar.

__ADS_1


"Kau pikir gadis ku barang yang bisa di jual semau nya?"


Azwar baru saja akan membalas perkataan Zen, tapi Risya segera mencegah nya.


"Cukup, bisa kah bersikap sedikit dewasa? Ini bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan satu sama lain,"


"Ica sedang berjuang untuk hidup di dalam ruangan itu, apa kalian tak bisa bersikap sedikit saja menghormati dokter-dokter yang sedang bertugas? Harus nya kalian berdoa demi kesehatan Ica, bukan malah memperdebatkan hal yang tak penting!"


Kedua nya bungkam, ucapan Risya sangat benar. Harus nya mereka berdoa untuk keselamatan Ica, belum lagi darah yang tak kunjung datang menghambat penanganan.


Zen terduduk lemas di kursi tunggu, tangan nya memijit kening yang terasa berdenyut nyeri.


Tak lama, Bimo datang dengan menenteng paper bag berisi pakaian ganti untuk tuan muda nya, bau nya bahkan sudah sangat amis.


"Pakaian ganti untuk ada tuan, anak buah anda sedang dalam perjalanan kesini membawa darah yang tuan butuhkan."


"Baiklah, aku berganti pakaian dulu." Zen pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti nya, sedangkan kemeja yang berbau amis itu dia buang beserta jas dan celana nya juga.


"Kau siapa?" Tanya Bimo saat melihat pria muda yang nampak asing.


"Azwar, kakak nya Ica." Jawab Azwar, sedangkan Bimo hanya ber'oh' ria.


....


Ica masih belum sadar, sudah jam 10 pagi tapi dokter tak kunjung keluar juga. Donor darah juga sudah sampai sejak tadi, tapi entah apa yang membuat dokter berlama-lama di dalam ruangan itu.


"Lama sekali, sebenarnya mereka sedang apa di dalam?"


"Bersabarlah tuan, mereka pasti sedang bekerja keras di dalam." Jawab Bimo.


Zen bangkit dan berjalan mondar mandir seperti setrikaan, membuat Brian dan Risya melemparkan tatapan nya.


....

__ADS_1


🌷🌷🌷


Author lagi mudik nih🤭 jadi up nya karang telat😂 harap maklum😙


__ADS_2