
Albert masih tak percaya dengan bukti nyata di depan mata nya sendiri, dia merasa tak yakin kalau orang tua yang begitu baik bisa melakukan kejahatan besar seperti ini.
"Kau masih mampu menegakan kepala mu kan? Tatap aku, Albert." Perlahan, Albert mendongakan kepala nya.
"Tujuan mu adalah membuat aku bangkrut kan? Tak semudah itu, aku hanya mengalami kerugian sedikit saja akibat ulah mu itu."
Albert membulatkan mata nya, uang segitu hanya? Dia sudah membuat Zen merugi 15 persen saham perusahaan nya lewat hacker, kurang lebih 5 Triliun, tapi uang itu hanya? Zen adalah the real sultan!
"Kau terkejut? Kau tak ada apa-apa nya di banding aku, Rosa hanya wanita bodoh yang membuang berlian demi sebutir kelereng dalam kubangan lumpur." Ucap Zen, dia belum ingin menghajar pria itu sampai babak belur, lebih baik mematahkan mental nya lebih dulu.
"Dia memuji permainan ku dan membandingkan nya dengan mu, aku lebih mampu memuaskann nya!" Bangga Albert.
"Kau tau? Rosa adalah wanita hyper, dia takkan pernah puas hanya dengan satu laki-laki, sebesar apapun senjata nya, dia akan merasa kurang."
"Tak percaya? Kau ingin bertemu dengan nya? Aku sudah mengurung nya dengan selingkuhan nya sebelum aku menangkap cecunguk kecil ini."
"Tidak mungkin." Bantah Albert, membuat Zen menyunggingkan senyum smirk nya.
"Tak ada yang tak mungkin Albert, jangan bodoh hanya karena goyangan nya membuat mu mabuk kepayang."
"Aku rasa sudah cukup bicara nya, jadi kau ingin hukuman apa yang setimpal dengan kejahatan mu? Di tebas atau di penggal?" Albert mendongak, dia menelan ludah nya dengan kasar. Rumor yang beredar tentang Zen bukan hanya mitos belaka, pria itu sangat menakutkan saat marah.
"Jawab!" Tegas Zen, tentu saja Albert bungkam. Tak ada satu pilihan pun yang dia inginkan, kedua nya sama-sama menyakitkan.
"Atau mati karena di sengat kalajengking? Ohh atau di cabik-cabik Jerry?" Tanya Zen lagi, tak ada satu pun pilihan yang mending, semua nya menyakitkan.
"Tak ada kah hukuman yang lebih sebanding dengan perbuatan ku, tapi jangan mati?"
__ADS_1
"Lalu kau ingin apa? Kesabaran ku sudah habis meladeni sikap penghianat mu itu, Albert. Ini saat nya aku bertindak, sekali bertindak nyawa mu melayang. Maka nya jangan main-main dengan Azzendra."
Zen mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jas nya, dia menggoreskan nya ke tangan Albert, juga ke pipi kiri nya.
"Aaarrgghhh..." Albert berteriak kencang karena rasa sakit yang dia rasakan..
"Ini belum seberapa, kau juga yang membayar dia untuk melukai gadis ku kan?"
"Aku tidak tau gadis mu yang mana, itu bukan perbuatan ku!" Ucap Albert dengan nafas tersengal.
"Oke, berarti itu murni perbuatan Rosa dan Jack, tak ada hubungan nya dengan mu. Bagus, setidak nya hanya aku yang kau incar, bukan gadis ku."
"Bawa dia pergi menyusul jal*ng nya," Perintah Zen, membuat anak buah nya segera bergerak menyeret tubuh lemas Albert. Zen hanya menyayat nya saja, tapi dia punya tekhnik tersendiri hingga membuat luka kecil itu bisa mengeluarkan banyak darah.
"Dan kau, kira-kira hukuman apa yang setimpal untuk penghianat seperti kau?"
"Menurut mu Bim? Punya saran?" Tanya Zen.
"Tidak seimbang dengan luka yang di dapatkan gadis ku Bim, itu terlalu mudah." Ucap Zen.
"Jangan lakukan itu tuan, bagaimana nasib anak-anak saya nanti nya jika tuan menghentikan biaya nya?"
"Masih berani memikirkan keluarga mu? Harus nya kau memikirkan nasib mu sendiri, kau di ambang kematian saat ini." Jawab Zen membuat pria itu seketika menunduk dalam, menyesal pun percuma, sudah kepalang tanggung, harus nya sebelum menerima tawaran itu, dia berfikir panjang, ke depan karena hidup nya bergantung pada Zen, dia benar-benar pria tak tau diri dan tak tau malu.
Sudah di beri kehidupan layak oleh Zen, di berikan pekerjaan yang banyak orang mendambakan nya karena bukan suatu rahasia lagi jika Zen adalah bos yang royal terhadap bawahan nya. Dia malah menghianati kepercayaan Zen dan membuat gadis nya terluka, dia tak tau kalau wanita itu akan melukai Ica, tapi kenyataan nya itu terjadi.
"Berapa wanita itu membayar mu?"
__ADS_1
"250 juta tuan." Jawab nya pelan.
"Itu hanya biaya bulanan yang aku beri untuk keluarga mu." Sinis Zen, membuat pria itu semakin menunduk dalam.
"Baiklah, aku hanya membuat sebelah kaki mu pincang dengan tembakan, itu cukup rasa nya untuk memberikan kau pelajaran berharga."
"Eksekusi dia." Perintah Zen tegas, sebelum pria itu sempat membela diri dia sudah di seret oleh anak buah Zen.
"Kurang nya aku sebagai bos itu apa sih Bim?"
"Tak ada tuan, anda adalah bos paling baik." Jawab Bimo jujur.
"Lalu kenapa orang yang aku beri kepercayaan pun menghianati ku, Bim?" Tanya Zen lagi, dia tak habis pikir kenapa bisa ada yang berhianat, padahal dia baik selama ini.
"Saya tak tau apa alasan nya tuan, tapi mungkin salah satu faktor nya adalah pengaruh dari luar."
"Maksudmu?" Tanya Zen.
"Saya mendengar kalau wanita itu menghasut istri dari pria itu agar berhianat dengan banyak alasan."
"Wanita gila memang." Gerutu Zen.
"Bereskan semua nya Bim, gadis ku akan kesini sebentar lagi, jangan ada darah yang tertinggal atau bau nya sekali pun." Perintah Zen setelah melirik arloji mahal di tangan nya.
Bimo mengangguk dan bersama-sama menghapus jejak ke kejaman Zen di ruangan ini, bisa gawat kalau Ica sampai tau bagaimana Zen memberikan pelajaran pada para penghianat, bisa-bisa gadis itu ketakutan lagi.
....
__ADS_1
๐ท๐ท๐ท๐ท
Masih nungguin kan? Yuk sumbang hadiah biat semangat lagi๐๐