
Sintia berdiri mematung saat akan berangkat kerja pagi hari, dia melihat motor Azwar sudah ada di depan rumah nya, lengkap dengan pria itu yang menunggu dengan setelan jas rapi berwarna biru navy.
Sungguh demi apapun pria itu sangat tampan, tapi Sintia sadar benar bagaimana keadaan nya. Jadi dia memilih berpura-pura tak melihat keberadaan Azwar dan motor nya.
"Pagi Sin,"
"Kenapa pagi-pagi sudah disini? Ada yang ketinggalan?" Tanya Sintia, gadis itu siap berangkat dengan seragam pelayan restoran berwarna orange nya.
"Iya, kamu ketinggalan. Mau kerja kan? Yuk bareng!" Ajak Azwar dengan semringah. Hati Sintia mencelos, dia tak sanggup menolak pria yang begitu dia cintai.
"Bukan kah sudah aku bilang sebaiknya kita tak perlu bertemu lagi?"
"Aku sudah bilang juga pada mu, aku akan berjuang demi mendapatkan kembali hati mu Sintia, apapun cara nya." Tegas Azwar.
"Kita berbeda Azwar, tolong jangan buat aku tak nyaman."
"Apa aku menguntit mu? Tidak kan? Aku hanya menjemput mu agar kita bisa pergi bersama, itu saja." Jawab Azwar.
"Kuat lah, jangan menangis, jangan.." Batin Sintia, padahal mata nya sudah berkaca-kaca.
"Aku duluan, permisi." Pamit Sintia, jika berlama-lama berhadapan dengan Azwar, pasti dia akan menangis.
"Sintia.." Panggil Azwar, tapi gadis itu sudah pergi menaiki bus.
"Apapun cara nya kita harus bersama, kita perbaiki hubungan kita Sintia." Gumam Azwar, dia pun pergi mengendarai motor nya ke kantor.
Di bus, Sintia menangis dalam diam. Rasanya sakit harus mengabaikan pria yang teramat dia cintai, tapi dia harus melakukan nya agar Azwar tak merasa di beri harapan, dengan begitu pria itu akan menjauh darinya.
Dia sadar benar apa yang dia lakukan, bagaimana pun dia bukan wanita yang pantas bersanding dengan Azwar, akan dia tegaskan kalau dia bukan wanita yang pantas.
.....
Di kampus, Ica sedang mengobrol bersama kedua teman nya, meski sesekali dia melihat Brian curi-curi pandang pada Risya, tapi Risya seolah tak melihat nya.
"Kalian kenapa sih? Dari tadi kalian berdua diam-diaman." Tanya Ica merasa ada yang tak beres dengan Risya dan Brian.
"A-aku? Tidak ada apa-apa, males aja bicara sama dia Ca." Jawab Risya datar, tanpa menatap Brian dan fokus memakan roti lapis nya, bekal yang di bawa nya dari rumah.
"Lho kenapa? Bosen berdebat apa gimana?" Ica melirik Brian yang duduk di samping nya dengan ujung mata.
"No coment sih gue mah, Ca. Mungkin aja mood Risya lagi anjlok."
"Iya dan itu karena Lo, Brian." Brian tersenyum menyebalkan sedangkan Risya menatap Brian dengan tatapan tajam nya.
"Aduhh kalian ini bertengkar aja mulu, lama-lama kalian pacaran."
"Enggak kali Ca, gue punya mata mana mau sama pria kayak Brian, kurang ajar." Sinis Ica.
__ADS_1
"Seenggaknya gue cakep kuadrat, masih banyak cewek yang mau sama gue." Jawab Brian dengan tangan yang bersedekap dada.
"Udah-udah, akur bentar aja bisa gak?"
"Nggak." Jawab kedua nya kompak.
"Haduhh, susah sihh emang kalo udah kayak kucing sama anj*ng gini. Kalo ketemu selalu aja cekcok." Gumam Ica sambil memijat kening nya, dia pusing dengan kedua teman nya yang tak pernah akur.
"Brian di panggil dosen tuh."
"Oke." Jawab Brian lalu pergi meninggalkan Ica dan Risya.
"Emmm Ca, gue boleh nanya?"
"Nanya aja kali Sya, kenapa?"
"Kalo cowok cium kita tuh berarti apa?" Tanya Risya membuat Ica tersedak jus yang sedang dia minum.
Uhukk.. uhukk..
"Pelan-pelan minum nya Ca.."
"Gue kaget sama pertanyaan Lo, siapa yang udah cium Lo?" Tanya balik Ica.
"Nanti Lo tau sendiri."
"Menurut gue sih ada dua kemungkinan, yang pertama tuh cowok jatuh cinta sama Lo, yang kedua gue gak yakin itu cinta atau cuma nafsuu." Jawab Ica, setelah selesai dengan acara batuk nya.
"Percaya aja, Lu bikin dia nyaman. Kalo dia nyaman, yang berawal dari nafssu juga bisa berujung cinta, contohnya gue sama Daddy." Jawab Ica.
"Gue harus berubah kali ya Ca?" Ica menganggukan kepala nya cepat.
"Rambut yang di kepang ini coba di urai, pake perona pipi, liptint, cobain deh. Kamu itu cantik kok, gak usah peduli sama orang yang bilang kamu apalah itu, percaya sama diri sendiri aja."
"Makasih ya Ca, aku bakal nyoba buat rubah penampilan aku."
"Siap, semangat bestie. Btw siapa cowok nya Sya?"
"Gue jamin Lu bakal kaget kalo tau siapa tuh cowok."
"Ya gapapa."
"Yakin?" Ica menganggukan kepala nya, dia penasaran siapa yang sudah berani mencium Risya.
Risya membisikan siapa pria yang sudah mencium nya kemarin sore, lagi-lagi Ica tersedak. Kali ini dia sedang tidak minum, dia tersedak ludah nya sendiri saking terkejut nya.
"Whatt? Gue bilang juga apa, kalian itu cocok!"
__ADS_1
"Diam Ca, berisik tau gak."
"Ehh sorry bestie, gue seneng aja sih "
"Seneng apaan, tuh cowok kurang ajar banget. Dia merawaninn bibir gue."
"Yang penting itu yang bawah belum bolong beb, itu masih belum bisa di sebut merawaninn kok."
"Tapi tetep aja Ca, rasa nya bibir gue gatel tau gak."
"Tapi gimana rasa nya? Aneh gak?" Tanya Ica, dia penasaran dengan first impresion ciuman pertama sahabat nya.
"Pertama dia cuma cium singkat gitu jadi gak terlalu berasa, cuman basah aja. Tapi yang kedua kali dia bisa masukin lidah nya Ca, aneh sih bertukar ludah gitu, tapi iya emang nagih."
"Tuhh kan nagih emang, apalagi kalo sambil di grepee-grepee, mantap." Ucap Ica sambil mengacungkan jempol nya.
"Icaaa..." Pekik Risya membuat Ica tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Risya.
"Nyobain pake permen deh."
"Maksud nya?"
"Lu makan permen, terus pas ciuman gitu tukeran. Lu masukin tuh permen ke mulut cowok Lu."
"Gak ngerti gue Ca."
"Dia pasti ngerti, cobain sensasi nya beda banget Sya."
"Lu udah pernah?"
"Kalo gak pernah, gue gak mungkin bilang gini sama Lo. Jangan kan cuma ciuman pake permen, hubungan badan di toilet aja gue sering." Jawab Ica membuat Risya tersipu.
"Gue yang cerita aib, kenapa Lo yang merona Sya?"
"Gue ikut malu dengerin cerita 21+ Lu Ca." Ucap Risya.
"Gapapa lah, gue udah berpengalaman. Jadi Lu kalo mau tau apa-apa tentang 'ehem', Lu bisa tanya sama gue." Ucap Ica sambil tertawa.
"Lagi ngapain sih? Ke kelas skuyy, ada tugas seni budaya. Pak dosen nya gak masuk ada rapat." Panggil Brian sambil menenteng kertas berisi tugas dari dosen.
"Oke." Jawab Ica dan Risya barengan, mereka pun berjalan mengikuti Brian, meski sesekali Ica menggoda Risya.
.....
🌷🌷🌷
__ADS_1
visual Risya😁
maafin kalo banyak typo, harap maklum ya ini nulis nya sambil di recokin bocil🤣