
Zen masih menghadiri meeting dengan klien dari luar negeri, bersama Bimo tentu nya. Tapi tiba-tiba saja dia merasa sesak, sampai Zen susah bernafas.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Bimo saat melihat Zen memegangi dada nya.
"Hanya sedikit sesak Bim, lanjutkan dan selesai kan cepat. Perasaan ku tak enak,"
Bimo pun segera menjelaskan materi meeting dan setelah mencapai kesepakatan bersama, klien itu pun menanda tangani berkas kerja sama.
"Terimakasih sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kami." Ucap Bimo sambil menjabat tangan klien itu, berbeda dengan Zen yang masih kesusahan bernafas.
"Tuan, ayo ke rumah sakit."
"Bawa aku pulang Bim, sesak sekali."
"Sebaiknya kita ke dokter tuan."
"Cepat Bim, aku ingin bertemu Ica ku." Jawab Zen tegas, membuat Bimo terpaksa menurut dan membantu pria itu berjalan.
Mobil melaju membelah jalan raya yang masih cukup ramai.
Sedangkan di mall, Risya dan Hani baru saja menyaksikan kalau sahabat mereka benar-benar di culik lewat rekaman cctv di toilet dan di parkiran mobil.
"Beneran di culik Sya, kita harus gimana? Kalau Daddy nya Ica tau, bisa habis kita di cincang." Celetuk Hani, dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana posesif nya Daddy menjaga Ica, begitu pun Risya.
"Gimana dong Han? Aku belom mau mati, belom kawin."
"Emang nya gue mau? Gue juga belom kawin kali." Jawab Hani.
"Terus sekarang kita harus apa? Telpon Daddy nya Ica?"
"Kita cari bodyguard yang selalu jaga Ica, mungkin mereka masih ada disini."
Kedua nya pun pergi setelah berpamitan pada petugas penjaga keamanan, bukan hal mudah membujuk petugas itu agar mau memutar rekaman nya, tapi dengan berbagai alasan akhirnya dia memperbolehkan.
"Lu cari kesana, gue ke sebelah sini."
"Ciri-ciri nya mereka pake baju serba hitam, ada alat komunikasi di telinga nya, terus badan nya gede-gede, inti nya nakutin plus nyeremin. Kalo dah ketemu telpon gue!"
Mereka pun berpencar, tapi tak membutuhkan waktu lama, Hani berhasil menemukan salah satu anak buah Zen, dia mengenali nya karena dia pernah bertemu dengan pria itu sebelum nya, waktu kejadian Meisya.
"Pak, apa bapak bodyguard nya Ica?"
"Kau siapa?"
"Aku Hani, kita pernah bertemu sebelumnya, aku teman nya Ica."
"Lalu? Kalau memang iya, memang nya kenapa?"
"Ica di culik pak."
"Jangan bercanda, Nona."
__ADS_1
"Aku serius, silahkan ke pusat keamanan dan cek rekaman cctv."
Pria itu pun pergi mengecek rekaman cctv itu, tentu saja dengan Hani yang di tarik paksa oleh pria itu.
"Jadi laki-laki gak ada lembut-lembut nya sama cewek!" Ketus Hani, dia pasrah saja saat belakang baju nya di tarik oleh pria itu.
"Aku harus memberi tau tuan muda segera."
"Sebaiknya cari duluan saja, biar aku yang menghubungi Daddy nya Ica. Plat mobil nya SM456D, cepatlah sebelum jauh."
Tak ada pilihan lain, dia mempercayakan menghubungi tuan muda pada sahabat Nona muda nya.
.....
Zen sampai di mansion, tapi gadis nya tak ada. Mungkin belum pulang, dia menghubungi anak buah kepercayaan nya, tapi nihil nomor nya tak aktif.
"Ada yang aneh disini, kenapa semua nomor nya tak aktif?" Gumam Zen, dia menelpon nomor Ica, tapi gadis itu terlalu ceroboh hingga membiarkan ponsel nya kehabisan daya dan mati total.
"Bim, apa ada nomor teman nya Ica?"
"Saya tak punya Tuan,"
"Kenapa nomor pengawal gadis ku tak aktif semua? Bahkan nomor Ica pun tak bisa di hubungi."
Tapi tak lama, ponsel Zen berdering dari nomor tak di kenal. Zen segera menggeser ikon hijau dan mengangkat panggilan telepon nya.
"Hallo tuan,"
"Saya Hani, teman nya Ica."
"Dimana gadisku?"
"Eemm, A-anu tuan.. Ica, Ica di culik orang tak di kenal." Jawab suara di seberang sana membuat Zen marah.
"Bagaimana bisa gadis ku di culik hah?"
"Tadi Ica pamit ke toilet, tapi satu jam berlalu dia tak kunjung kembali, jadi aku dan Risya menyusul nya, tapi Ica tak ada, kami hanya menemukan sebelah sepatu nya,"
"Lalu?"
"Kami mengecek cctv dan benar Ica di culik tuan." Zen langsung mematikan sambungan telepon nya dan membanting ponsel nya, tapi dasar nya ponsel mahal, di banting sekuat apapun benda itu masih bagus seperti baru.
"Ohhh ****, bagaimana bisa teledor begini."
"Ada apa tuan?"
"Gadis ku di culik Bim, sialan!"
Bimo melongo mendengar ucapan Zen, bagaimana bisa anak buah penjaga kepercayaan Zen itu kecolongan.
Lagi-lagi, ponsel Zen berbunyi. Bimo segera mengambil nya, dan tanpa nama, nomor tak di kenal lagi.
__ADS_1
"Siapa? Apa itu Ica?"
"Nomor tidak di kenal tuan." Bimo memberikan ponsel itu pada pemilik nya.
"Hallo tuan Azzendra yang terhormat!"
"Siapa kau?"
"Nanti kau akan tau sendiri, aku tebak kau pasti sedang mencari gadis mu kan? Tenang saja, dia ada bersama ku."
"Sialan, jangan berani menyentuh gadis ku seujung kuku pun!" Zen mulai terpancing emosi.
"Hahahaha, jangan marah tuan Zen. Dia baik-baik saja, hanya mungkin aku tergoda untuk sedikit menyentuh nya, gadis mu sangat cantik."
"Jangan berani melakukan itu atau kau akan mati, sialan!"
"Coba saja kalau kau bisa!" Tantang pria itu membuat emosi Zen meledak seketika.
Tutt..
Panggilan terputus membuat Zen menggeram penuh amarah, dia kembali membanting ponsel nya ke lantai.
Tringg..
Bimo kembali membawakan ponsel Zen dan pria itu semakin marah saat dia menginstal poto dari pesan itu, gadis nya di ikat di kursi dengan mulut yang di lakban dan tak sadarkan diri.
"Baby.." Zen merasa dunia nya hancur seketika saat melihat keadaan gadis nya.
"Kuatkan hati anda tuan, kita harus mencari Nona muda sekarang juga, sebelum terlambat."
"Apa maksudmu dengan terlambat hah? Gadis ku pasti baik-baik saja!" Tegas Zen.
"Tak menutup kemungkinan kalau orang yang menculik tuan adalah musuh bebuyutan tuan kan? Bisa saja dia menyakiti Nona muda."
"Ahhh kau benar Bim, ayo kita mencari nya sekarang juga. Kerahkan semua anak buah kita yang tersisa, sebisa mungkin Ica ku harus di temukan malam ini juga!" Zen memberi perintah, dan Bimo langsung melaksanakan nya.
Tapi di sela kesibukan itu, Bimo masih sempat mengirim pesan pada gadis nya.
"Honey, aku tak pulang malam ini. Tidur duluan dan kunci pintu, jangan bukakan pintu untuk siapapun. Good night."
Terkirim dan langsung centang biru, artinya Hani langsung membaca nya.
"Hati-hati, aku menunggu kepulangan mu." Balasan dari Hani membuat Bimo menyunggingkan senyuman manis nya.
"Jangan malah senyam-senyum kayak orang kesurupan, cepat kita tak punya banyak waktu!" Zen menginterupsi, membuat Bimo segera menghentikan senyuman nya dan mengikuti Zen.
....
🌷🌷🌷
Pada sibuk nyariin neng Ica😣😣
__ADS_1