
Hari ini, Ica di perbolehkan pulang setelah jahitan luka nya di cek tadi pagi. Hasilnya bagus, jahitan nya mulai kering.
"Selamat pagi tuan.."
"Pagi juga Bim, kau ke kantor sendiri ya? Hari ini tak ada meeting penting kan? Aku ingin menemani Ica ku seharian.
"Baik tuan." Jawab Bimo.
"Hati-hati di jalan." Pekik Zen karena asisten nya sudah pergi dari ruangan. Niat nya menjemput Zen agar ke kantor bersama, ehh ternyata pria itu tak masuk kantor hari ini, karena gadis nya pulang.
Zen kembali mendekat ke arah Ica yang sedang duduk dengan tangan yang masih di perban, meski masih terasa sedikit ngilu, tapi Ica berusaha terlihat baik-baik saja, dia tak mau terus membuat pria di samping nya khawatir.
"Daddy.."
"Yes Baby?" Jawab Zen, pria itu tengah memasukan baju-baju ke dalam tas.
"Maaf sudah merepotkan, Dad."
"Kamu ini bicara apa sayang? Kamu tak pernah merepotkan, jangan bicara yang tidak-tidak."
"Jangan pernah mengatakan hal semacam itu, Daddy tak merasa di repotkan. Daddy bahagia dengan kehadiran mu By, sungguh."
"Jangan menangis, wajah cantik mu nanti jadi jelek." Zen mencolek hidung mancung gadis nya dengan gemas.
"Kalau begitu terimakasih, Daddy."
"Sama-sama my little angel." Zen mengecup singkat kening gadis nya, membuat bodyguard yang ingin mengabarkan kalau mobil sudah siap pun buru-buru menutup kembali pintu nya.
"Nape Lo? Pucat bener? Habis liat apaan sih?" Tanya anak buah Zen yang lain saat melihat pria itu berkeringat setelah masuk sebentar ke ruangan yang 24 jam mereka jaga.
"Ada adegan anu, gak cocok gue yang jomblo ini lihat." Jawab nya.
"Makanya laku."
"Sialan Lu, kalau gue ganteng kayak tuan muda, gua bakal pilih-pilih nyari cewek, ini mau gue gak pilih-pilih pun susah nya minta ampun." Jawab nya ketus.
"Sebelum ngatain orang, Lu juga jomblo abadi."
Pria itu cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya, bisa aja ngatain orang, gak mikir dirinya sendiri juga jomblo.
Zen keluar dengan wajah datar nya, dia melirik sinis ke arah bodyguard yang berkumpul.
"Kalian ini bertugas atau bergosip? Di kasih tugas nyiapin mobil juga lama amat."
"Mo-bil sudah siap tuan, tapi tadi ada sesuatu jadi saya urung memberi tahu."
"Ohh begitu ya? Ya sudah bawa tas ini ke mobil, saya mau gendong ayang dulu." Zen memberikan dua tas besar ke anak buah nya dan kembali masuk ke ruangan Ica.
"Ayang woyy ayang.."
__ADS_1
"Nape sih, sirik aja Lu. Makanya laku!"
"Sialan Lu, ngeselin."
..
"Daddy gendong ya, By?"
"Ica mau jalan aja Dad, kaki Ica kan gak sakit."
"Gak bisa, By."
"Ya kalo gitu kenapa nanya Dad? Ujung-ujungnya pasti keputusan Daddy yang menang."
"Daddy gak bakalan ngalah ya."
"Serah lah, cepetan mau pulang. Kangen suasana rumah,"
Zen pun menggendong Ica ala bridal style, membuat para jiwa jomblo meronta-ronta, termasuk anak buah nya yang rata-rata belum berkeluarga.
....
Di kampus, Risya sering melamun. Dia begitu merindukan Ica, tapi dia takut kalau harus mendapat penolakan lagi dari Daddy nya.
"Ehh Sya, gue denger Ica udah boleh pulang. Kita jengukin yuk?" Ajak Brian.
"Lu gak takut di sindir pedes sama Daddy nya Ica?"
"Bukan gitu maksudnya, Bri."
"Ya terus? Kita kesana aja jengukin, bawain buah, jangan seblak."
"Ya kali aja jengukin orang sakit bawa seblak."
"Tapi kalo sekarang sih dia pasti harus istirahat dulu, Sya. Gimana kalo besok aja, sekalian kabarin Hani, biar kita bareng-bareng kesana nya."
"Oke, nanti gue chat Hani nya. Makan Lo?" Tawar Risya.
"Gak bawa duit, lupa." Jawab Brian sambil nyengir.
"Gue tau modus Lu, Bri. Pesen aja, gue yang bayar."
"Nah gitu dong, thanks ya." Risya hanya mendelik ke arah Brian. Kaya tapi pelit, sering banget minta di traktir.
....
"Honey, aku harus lembur. Gak jadi anterin kamu ke bar ya, gapapa?" Tanya Bimo di telepon.
"Iya gapapa kok, aku mau siap-siap dulu."
__ADS_1
"Jangan cantik-cantik, ingat kamu miliku!" Suara nya tegas membuat Hani cukup gugup.
"Iya, semangat kerja nya."
"Iya sayang, aku tutup dulu telpon nya ya?"
"Oke." Hani meletakan ponsel nya di meja nakas.
...
Di kantor, Bimo merasa tak enak hati. Dia pun tak bisa fokus bekerja, dia terus kepikiran Hani.
"Duhh, kenapa ya ini hati gak tenang." Gumam Bimo, dia memegangi dada nya tak terasa berdebar.
"Pulang aja lah, gak bisa di biarin!" Putus Bimo, dia mematikan laptop nya dan memasukan nya ke dalam tas.
Bimo mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebisa mungkin dia harus sampai di rumah sebelum Hani pergi, tapi terlambat, Hani sudah pergi.
"Aaarrrghhh sial." Rutuk Bimo, dia meninju udara, melempar sembarangan tas kerja yang tadi dia tenteng, dan berlari keluar dari apartemen untuk menyusul gadis nya.
Bimo kembali mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi lagi. Dia kehilangan akal hanya karena hati nya tak nyaman, dia takut gadis nya kenapa-napa.
Bimo memarkir mobil nya di dekat bar, pria itu keluar dengan tergesa. Dia masuk ke dalam bar, celingukan mencari sang gadis yang entah dimana. Dia mencoba menghubungi gadis nya beberapa kali, tapi nihil tak ada satu pun yang di angkat.
"Honey, kamu dimana sayang?"
"Haii, mau bermalam dengan ku?" Seorang wanita berpakaian kurang bahan mendekati nya, bahkan dengan berani menyentuh kancing Bimo. Pria itu bergidik ngeri melihat penampilan wanita itu, jangan kan tergoda, dia malah jijik melihat wanita yang mengumbar tubuh.
"Jangan lancang, aku tak suka jal*ng." Ucap Bimo pedas, hingga membuat wanita itu mendengus.
"Ayolah, jangan munafik. Kau tak tergoda melihat ini?"
"Ciihhh murahan, aku tak tertarik dengan bekas orang lain." Pria itu memutuskan pergi dari hadapan wanita itu, tapi wanita itu kekeuh dan tetap menawari Bimo tubuh nya.
"Aku siap bermain semalaman, asal itu dengan kau. Gratis deh gapapa!"
"Aku sudah bilang, aku tak suka barang murah. Jadi pergilah, aku tak berminat memasuki lubang longgar!" Tegas Bimo, dia pun melanjutkan pencarian Hani.
Bimo pergi menyusuri lorong bar, di sisi kanan kiri nya adalah kamar, dimana wanita-wanita seperti tadi bekerja melayani pria hidung belang.
Hingga langkah nya terhenti di ruangan direktur bar, teman nya. Dia mendengar teriakan meminta tolong dengan suara tangis yang pilu.
Bimo tak asing dengan suara nya, dia segera mengetuk pintu, tapi tak ada yang membuka pintu. Tapi teriakan minta tolong malah bertambah kencang.
"Tolongg... Siapapun itu, tolonggg akuu!"
Bimo mendobrak pintu hingga engsel nya terlepas dari tempat nya, Bimo mengepalkan tangan nya dengan geram saat melihat keadaan di dalam ruangan.
.....
__ADS_1
π·π·π·π·
Apa ya?π£