
Ica dan Zen selesai mengucap janji sehidup semati mereka di depan tuhan, suasana haru begitu terasa, apalagi kedua sahabat Ica yang mewek bombay karena bahagia melihat sahabat mereka menikah.
"Dia dah nikah, tinggal kita Sya.." Ucap Hani sambil mengusap ingus nya dengan tissu.
"Lu aja duluan gue masih kecil." Jawab Risya, ingus nya juga ikut meleber, membuat Sintia yang berada di antara mereka terkekeh, antara geli dan lucu melihat kedua nya.
"Sayang ihh, jorok amat. Usap tuhh ingus nya," Brian memberikan selembar tisu pada Risya dan langsung di terima oleh gadis itu.
"Sahabat Adik mu pada koplak gini,"
"Udah biasa, semua temen nya kayak gini semua Sin." Jawab Azwar sambil terkekeh. Tadi dia sudah ikut terharu dengan suasana, ehh malah kacau karena kelakuan kedua sahabat mempelai wanita nya.
Hingga suara riuh membuat pandangan ke enam orang yang ada disana, dimana pengantin sedang berciuman mesra di atas pelaminan.
"Semua tamu undangan harap berdiri untuk sesi pelemparan bunga." Ucap salah satu panitia, meski sederhana tetap ada panitia acara, tukang foto layaknya pernikahan besar biasa.
Semua orang berdiri termasuk ketiga pasangan yang turut hadir menyaksikan pernikahan Ica dan Zen.
"Bersiap... Satu... dua... tiga.."
Ica melempar bunga itu ke arah belakang membuat semua tamu yang belum berkeluarga itu berebutan, tapi ternyata buket bunga itu terbelah menjadi dua, dan yang mendapatkan nya adalah Azwar dan Bimo.
"Ciee kode-kode nih biar cepetan kawin," Ucap Ica dari atas pelaminan melihat kakak dan assisten suami nya memegang separuh buket bunga.
Setelah selesai dengan macam-macam acara, kini saat nya satu persatu tamu undangan naik ke atas pelaminan untuk memberi selamat pada kedua mempelai.
"Selamat bestie, sekarang kamu udah jadi istri orang. Semoga bahagia selalu, panjang umur.." Belum selesai Hani bicara, Risya keburu memotong nya.
"Hehh, ini nikahan yee bukan acara ulang tahun." Cetus Risya membuat Kedua mempelai itu kompak tertawa.
"Maaf Ca, duhh ini mulut emang kadang suka gak singkron. Ulang lagi doa nya ya, semoga bahagia selalu, langgeng sampai kakek nenek, terus punya dedek yang banyak ya." Ucap Hani.
"Jangan lupa, ada keponakan mu disini. Dia masih bertumbuh."
"Ehh iya, haii keponakan nya aunty. Sehat-sehat ya, jangan nakal sama Mami." Ucap Hani sambil mengusap lembut perut rata Ica.
"Buruan ihh,"
"Bentar dulu dong, sensi amat. Mau poto dulu buat di posting di IG." Jawab Hani sambil mengarahkan kamera nya ke depan wajah nya sendiri, membuat Risya cemberut.
Setelah selesai berselfie ria, barulah Hani turun dari pelaminan dengan wajah berbinar karena dapat foto yang bagus.
Kini giliran Risya yang memilih langsung memeluk sahabat nya itu.
"Ica, terimakasih sudah jadi teman pertama ku. Aku sangat beruntung punya sahabat seperti dirimu, aku sangat bahagia untuk mu. Mungkin doa ku takkan jauh dari Hani, tapi memiliki mu sebagai seorang teman adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuk ku,"
__ADS_1
"Risya, aku juga bahagia bisa temenan sama kamu. Cepet nyusul sama Brian ya?" Ica mengusap air mata Risya dengan tangan nya.
"Jangan nangis di hari bahagia aku ya? Aku gak suka liat sahabat aku gini, aku lebih suka kamu yang ceria kayak biasa nya."
"Makasih ya Ca, jangan berubah ya?"
"Nggak kok, aku gak bakal berubah. Aku masih Ica yang dulu." Jawab Ica dengan senyum manis nya.
"Yaudah, aku turun duluan ya."
"Ehh gak mau poto dulu?" Tanya Ica.
"Mau touch up dulu, nanti aku naik lagi." Jawab Risya membuat Ica menggelengkan kepala nya.
"Selamat tuan, anda sudah menjadi suami sekarang. Jadilah suami yang siaga, karena istri ngidam biasa nya mood nya berubah-ubah, mana suka ngidam makanan yang aneh-aneh."
"Aku bisa menyuruh mu, tenang saja." Jawab Zen membuat Pria itu mendengus, selalu saja dia yang jadi tumbal nya. Zen terkekeh melihat perubahan ekspresi assisten nya itu.
"Saya akan sedia 24 jam, asal bonus saya di tambah 3x lipat, deal ya tuan?" Kini giliran Bimo yang tertawa karena melihat tatapan tajam dari kedua mata elang Zen.
"Aduhh auto kena semprot, saya permisi dulu deh ya.." Bimo ngacir turun dari pelaminan, keburu di amuk macan.
"Selamat ya bang, Lu pria yang beruntung bisa dapetin hati nya Ica."
"Thanks Bocah gulali." Jawab Zen menyebalkan, dia tau benar kalau Brian paling tak suka di panggil bocah gulali.
Azwar naik ke pelaminan bersama Sintia. Dia memeluk adik ipar nya ala lelaki.
"Zen, aku titip adik ku. Aku mohon dengan sangat, jaga adik ku dengan baik. Dia gadis yang manja dan keras kepala, mungkin kau sudah tau, tapi disini aku hanya ingin menekankan bahwa.." Azwar menjeda ucapan nya karena ada air yang berdesakan ingin keluar dari mata nya.
"Ica adalah adik kesayangan ku, aku gagal menjaga nya, aku meninggalkan nya disaat aku tau sikap ibu dan adik ku tak baik pada nya, tapi aku malah pergi. Aku kakak yang buruk, aku gagal Zen tapi kamu berhasil menjaga nya, memperlakukan nya dengan istimewa, kau berhasil membuat adik manja ku ini menjadi wanita yang paling beruntung karena memiliki pria seperti dirimu."
"Aku hanya ingin bilang, jika suatu saat nanti kau sudah tak menginginkan adik ku lagi, tolong pulangkan dia secara baik-baik padaku. Aku akan membawa nya pulang, kembali menggantikan tugas mu menjaga nya. Ica sudah banyak menderita selama ini, jadi aku harap kau takkan pernah melakukan hal semacam itu pada nya." Ucap Azwar dengan air mata yang berlinang.
"Kakak.." Panggil Ica lirih, dia tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk kakak tiri nya itu. Dia menangis tersedu di pelukan Azwar, kakak yang begitu menyayangi nya.
"Udah jangan nangis, nanti cantik nya luntur. Malu lho sama suami, kamu udah jadi istri sekarang. Jadi, dengerin apapun yang di katakan suami kamu, turuti. Karena dia akan melakukan nya demi kebaikan kamu juga, bahagia ya dek, kakak doain kamu terus." Azwar mengusap lembut wajah adik nya, lalu mengecup singkat kening adik nya membuat Zen melotot.
Kalau saja ini bukan acara pernikahan dia pasti sudah mengamuk, tapi ini adalah hari bahagia, jadi dia tak mau merusak suasana.
Semua orang ikut hanyut dalam suasana haru, apalagi saat melihat sepasang suami istri dan kakak nya itu berpelukan, tentu nya dengan air mata. Karena Zen juga ikut menangis menyaksikan istri nya.
Pelukan pun terlepas, Ica beralih kepada Sintia yang sedari tadi hanya diam saja tak bicara apapun.
"Kak Sintia? Beneran balikan lagi sama kak Azwar ya?" Tanya Ica dengan antusias.
__ADS_1
"Iya.." Jawab Azwar.
"Nggak kok." Jawab Sintia,
"Kok jawaban nya beda? Udah balik lagi aja sama kak Azwar." Kompor Ica membuat Azwar mengacungkan jempol nya.
"Enggak dulu deh Ca, kakak masih mau fokus kerja dulu. Selamat ya atas pernikahan kamu, langgeng sampai maut memisahkan."
"Iya makasih doa nya kakak ipar." Jawab Ica dengan senyum manis nya.
Kedua nya pun turun dari pelaminan, bertepatan dengan itu ada suara kegaduhan dari arah luar, membuat Ica tiba-tiba pusing.
"Daddy.." Panggil Ica lirih sambil memegangi kepala nya yang terasa berdenyut.
"Iya Bby, kenapa sayang?" Tanya Zen dengan raut ke khawatiran nya.
"Kepala Ica sakit.." Jawab Ica, perempuan itu meringis, dia mulai limbung.
"Bby.." Teriak Zen saat Ica tak sadarkan diri di pelukan nya.
"Siapkan mobil cepat!" Perintah Zen dengan nada tinggi, sontak saja membuat anak buah Zen yang ada di dalam segera melaksanakan perintah tuan nya itu.
Mengetahui Ica pingsan, kedua sahabat nya segera mendekat dan mengerubungi Ica dengan raut penuh ke khawatiran.
"Kalian ikut ke rumah sakit dengan mobil lain, aku duluan." Ucap Zen langsung menggendong Ica ala bridal style dan membawa nya ke dalam mobil yang sudah siap di parkiran.
Ternyata keributan itu berasal dari ibu tiri Ica yang merasa tak terima karena tak di undang oleh Zen secara khusus, padahal hari itu Zen sudah menyempatkan diri mendatangi rumah kontrakan calon ibu mertua nya, tapi rumah nya kosong tak berpenghuni karena saat itu ibu tiri nya Ica bekerja di rumah makan.
"Ibu.."
"Kau disini Azwar? Seperti biasa kau selalu membela anak sialan itu dari pada ibu mu sendiri, puas kau hah? Harga diri ibu di injak-injak oleh suami adik kesayangan mu itu kau puas hah!" Teriak nya membuat orang-orang menatap penuh kebencian ke arah wanita paruh baya yang sedang ngamuk gak jelas itu.
"Ibu merasa harga diri ibu terluka? Harus nya Ibu sadar diri bagaimana kelakuan ibu terhadap Ica dulu, lalu ibu masih ingin di hargai dengan cara mengamuk bagai orang gila di pesta pernikahan orang? Apa ibu tidak punya malu, atau urat malu ibu putus?" Tanya Azwar, dia tau dia salah mengatakan hal sekasar ini pada ibu nya sendiri, tapi dia sudah sangat muak dengan tingkah laku ibu nya.
"Jangan bertindak sesuai kemauan, bertindak lah sesuai keadaan. Jangan menyalahkan orang lain karena perilaku sendiri, Tuan Zen takkan melakukan itu jika Ibu tak menyakiti Ica terus menerus! Buktinya dia baik padaku, dia hanya berbuat demikian pada orang yang terbukti mengusik ketenangan nya, atau menyakiti orang yang paling dia sayangi." Jawab Azwar, lalu pemuda itu pergi menyusul Zen yang sudah duduk di dalam mobil dengan memangku Ica.
"Kita berangkat sekarang Bang? Aku takut kenapa-napa sama istri dan calon anak ku."
"Ya ayo cepat." Jawab Azwar, Zen menyerahkan urusan nenek lampir itu pada anak buah nya.
.....
π·π·π·
Gak ada habis nya tuh orang bikin ulah muluπͺπͺ
__ADS_1
masih ada vote? Sumbangin kesini yok!ππ