Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 76


__ADS_3

Ica mendekatkan wajah nya dan mencium lembut bibir Zen, pria itu pun tak tinggal diam dia membalas permainan bibir gadis nya. Bahkan tangan nya mulai aktif merayap kemana-mana.


Ica berusaha menghalangi tangan Zen dengan sebelah tangan, kalau tidak di hentikan, bisa di pastikan pakaian nya akan berantakan nanti.


Tapi Zen tak semudah itu untuk berhenti, tenaga nya lebih kuat dan Ica memilih pasrah saja.


"By.." Panggil Zen dengan suara berat nya, dada nya naik turun dengan kening yang berkeringat.


"Kenapa Daddy?" Tanya Ica, kondisi nya tak jauh dari Zen. Ica mengusap wajah tampan Zen dengan jemari lentik nya, membuat Zen memejamkan mata nya.


"Celana Daddy sesak, By.." Keluh Zen, Ica tau karena sedari tadi dia menduduki senjata yang menegang di balik celana Zen.


"Makanya, beli nya yang agak besaran Dad. Jadi nya sempit kalau dia bangun, mana menonjol banget lagi. Gimana kalau di liat orang? Ica gak rela ya!"


"Nah kan kamu juga gak rela milik kamu di liat orang lain? Daddy juga sama sayang."


"Iya iya, Ica minta maaf ya Dad." Ucap Ica, Zen tersenyum manis. Dia menangkup kedua pipi gadis nya, lalu kembali menyatukan bibir nya. Kali ini ciuman yang beringas nan buas, hingga mampu membuat Ica kelabakan sendiri karena Zen.


Ica terengah-engah setelah ciuman nya terlepas, begitu pun dengan Zen. Dia kesulitan mengontrol gairahh nya jika sedang berdekatan dengan Ica.


"By, Daddy pengen.."


"No, ini di kantor." Jawab Ica tegas, meski tak bisa di pungkiri, dia pun mulai terbawa suasana.


"Sebentar saja sayang, Daddy gak tahan."


Ica terlihat menimang permintaan Zen, tapi sebentar versi Zen itu tak kurang dari setengah jam.


"Di rumah nanti ya Dad, Ica gak mau main sambil berdiri lagi, lutut Ica suka lemes."


"Sambil duduk saja sayang.." Pinta Zen tak mau kalah.


"Nggak ahh Dad.."


"Kamu gak kasian sama junior Daddy? Dia gak bakal tidur sebelum masuk sarang nya dulu, kalau dia gak tidur, Daddy gak bisa fokus kerja." Bujuk Zen, dia punya sejuta cara untuk membuat gadis nya luluh dan memberikan keinginan nya.


"Baiklah terserah Daddy.." Jawab Ica akhirnya, membuat Zen tersenyum penuh arti.


"Berdiri dulu sebentar sayang.." Pinta Zen, Ica menurut. Dia menyaksikan sendiri Zen membuka resleting celana dan pengait nya, mengeluarkan senjata andalan nya yang sudah berdiri tegak menantang.


Ica menelan ludah nya kasar, dia tak habis pikir kenapa benda sebesar dan sepanjang itu bisa keluar masuk di dalam lubang nya? Entahlah.


"Ayo duduk sayang.." Zen menarik pelan tangan Ica untuk menduduki senjata nya.


"Ica masih pake segitiga Dad."

__ADS_1


Zen menyibak dress yang Ica pakai, menyampingkan segitiga nya. Lalu menarik kembali gadis nya duduk di pangkuan, Zen masih berusaha memasuki lubang sempit itu, sedangkan Ica dia panik sendiri takut ada yang tiba-tiba masuk ke ruangan Zen saat kedua nya sedang berada di puncak surga dunia.


Hingga sedetik kemudian, Zen mengerang nikmat saat senjata nya berhasil masuk ke dalam inti gadis nya.


"Kau selalu saja nikmat, By.." Racau Zen dengan mata yang tertutup saat pinggang gadis itu naik turun di atas nya.


Baru saja beberapa menit, hal yang di takutkan Ica terjadi. Ada yang mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, entah siapa yang mengganggu kenikmatan sepasang anak manusia itu.


"Siapa?" Teriak Zen.


"Bimo Tuan, di bawah ada Nona Rosa!"


"Suruh menunggu saja, jangan ganggu aku!" Tegas Zen, membuat Bimo mengerti apa yang sedang di lakukan tuan nya di dalam.


"Baik tuan.."


"Ganggu aja, itu perempuan kagak punya malu apa Dad?" Tanya Ica sambil terus bergerak naik turun.


"Urat malu nya putus kali, By. Udah, ayo bergerak lagi sayang."


...


"Capek sayang?" Ica mengangguk lemas di pelukan Zen.


Zen kembali memulai permainan dari belakang, membuat Ica mendesaah hebat karena senjata Zen terasa masuk lebih dalam di posisi ini.


Hingga satu jam kemudian, Zen menyelesaikan pertarungan panas nya dengan Ica. Gadis itu bersandar manja di dada bidang Zen, pasangan itu duduk di sofa sekarang. Dengan Zen yang memangku gadis nya karena merengek tadi.


Zen mengusap punggung Ica dengan lembut, berharap gadis itu tertidur dan dia bisa bertemu Rosa dan bertanya apa lagi yang wanita ular itu inginkan.


Tapi sepertinya, Ica tak rela jika Zen bertemu dengan mantan kekasih nya, jadi dia banyak mengulur waktu agar Zen tak menemui wanita itu.


Hingga keributan di luar ruangan Zen terdengar, pasti wanita itu membuat masalah lagi. Ica ingin melerai pelukan Zen, tapi tangan Zen menahan nya dengan erat, membuat Ica kembali menyandarkan kepala nya di dada Zen.


Suara pintu terbuka kuat membuat Ica terkejut, tapi usapan tangan Zen di kepala nya membuat nya kembali tenang.


"Zen.." Pekik Rosa membuat Zen muak.


"Jangan berisik bisa? Gadis ku sedang tidur, dia kelelahan!" Ucap Zen datar.


"Kenapa gadis itu duduk di pangkuan mu, Zen?"


"Memang nya kenapa? Dia gadis ku," Jawab Zen santai, tangan nya masih mengusap lembut kepala belakang gadis nya.


"Bangun kau gadis pengganggu!"

__ADS_1


"Jangan berteriak padanya di depan ku, siapa kau berani sekali masuk ke ruangan ku tanpa izin?"


"Gadis itu begitu manja pada mu, Zen. Dia akan tergantung padamu nanti."


"Apa kau iri, Ros? Kau yang memulai sebuah drama kan?"


"Tapi Zen, sekarang aku sudah kembali."


"Lalu? Kau pikir dengan kata-kata mu ini membuat ku luluh? Tidak, aku malah muak!" Jawab Zen datar.


"Dengar Ros, dengan kelakuan mu yang begini sangat mencerminkan bahwa kau wanita tak berpendidikan. Masuk ke ruangan orang tanpa izin, jangan berbuat semena-mena atau terima akibat nya berurusan dengan ku!"


"Apa perlu aku membunuh selingkuhan mu yang bernama Alberto Guinine, Ros?"


"Ti-tidak Zen, jangan."


"Kenapa? Karena kau kecanduan senjata nya kan? Berani sekali kau membandingkan aku dengan pria itu, seujung kuku pun dia tak pantas di bandingkan dengan ku!"


"Pergi sebelum aku marah," Teriak Zen membuat gadis nya terkejut, baru kali ini dia mendengar Zen meninggikan suara nya.


Rosa pergi dari ruangan Zen dengan amarah yang meletup-letup.


"Dad.."


"Yes baby.."


"Apa itu tidak keterlaluan?"


"Kata kamu Daddy harus tegas kan, sayang? Kalau ancaman tidak mempan, maka lakukan!"


"Apa Daddy pernah membunuh orang?"


"Sejauh ini belum sayang, kenapa?" Tanya Zen, melihat ekspresi lega yang di tunjukan gadis nya.


"Tidak, Ica hanya pikir Daddy psikopat." Jawab Ica sambil cengengesan.


"Mana ada Daddy gitu sayang, nggak kok."


"Kamu tau By? Alberto adalah..."


....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Hayoloh siapa? Jan ngamook ya๐Ÿ˜™

__ADS_1


__ADS_2