
Setelah malam panas yang mereka lakukan semalam, pagi ini Meisya merasa benar-benar malu atas tindakan nya semalam. Bagaimana bisa dia lebih buas dari Arian? Mengingatnya saja membuat wajah nya langsung bersemu kemerahan, apalagi saat mata nya tak sengaja melirik wajah Arian yang masih tertidur dengan damai nya.
"Tampan sekali, kamu laki-laki sempurna. Aku beruntung bisa memiliki mu," Gumam Meisya, dia membelai lembut pipi kanan Arian lalu mengecup nya kilat.
"Aku juga beruntung memiliki mu, Meisya."
Meisya jelas saja terkejut, ternyata Arian tidak benar-benar tidur, dia hanya pura-pura saja dan mendengar apa yang sudah dia ucapkan.
Arian terbangun, menatap Meisya dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
"Selamat pagi, Nona Meisya."
"Selamat pagi juga Tuan Arian." Balas Arian malu-malu, dia lalu menyembunyikan wajah nya di balik selimut, Arian langsung membuka nya, lalu tanpa bicara dia kembali menindih tubuh polos Meisya.
"Satu ronde pagi hari?" Tanya Arian dengan tatapan penuh damba. Meisya kembali mengangguk, dan ronde kedua di pagi hari pun terjadi dengan sengit.
Setelah membersihkan diri, mereka pun pergi ke penjara, melakukan keinginan Arian kemarin, untuk menjenguk ibu Meisya yang mendekam di penjara selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
Saat ini, keduanya sedang dalam perjalanan dengan menggunakan motor besar nya. Hari ini Arian berganti shift, kemarin masih shift pagi dan nanti harus berganti shift malam.
Saat sampai di kantor polisi, suasana masih sepi mungkin karena masih pagi. Arian dan Meisya berjalan ke arah sel setelah meminta izin pada sipir yang berjaga.
Namun bukan nya restu yang di dapat, malah penghinaan dan rasa sakit, tanpa rasa terimakasih atau penyesalan sedikitpun Sinta malah memaki-maki putrinya sendiri, sungguh demi apapun Arian gemas sekali ingin memukul mulut tak tau terimakasih itu dengan pistol, tapi dia tak berani karena bagaimanapun dia adalah ibu kandung Meisya, perempuan yang sangat dia cintai.
Akhirnya kedua nya pulang dengan membawa ke kecewaan besar, kecewa karena setelah hukuman pun dia masih belum berubah sedikit pun, masih serakah akan harta dan kedudukan, padahal semua itu tak di bawa mati.
"Mas.." Panggil Meisya pelan, membuat Arian menoleh.
"Kamu baik-baik saja?" tanya nya lagi, membuat Arian berbalik lalu tanpa kata menghambur memeluk perempuan itu dengan erat.
"Kamu jadi lebay sekarang, Mas."
"Biasanya, namanya juga lagi jatuh cinta Sayang. Yang awalnya biasa aja juga bisa jadi bucin, kek aku sekarang." Jawab Arian sambil terkekeh, lalu kembali menenggelamkan kepala Meisya di dada nya.
"Aku ingin kita menikah secepatnya, aku ingin memiliki mu seutuhnya."
__ADS_1
"T-api kamu tahu aku wanita yang tak sempurna, Mas. Kelak pasti kamu akan menginginkan seorang anak dan aku tak bisa memberikan nya." Ucap Meisya dengan raut wajah sendu, Arian menangkup wajah perempuan itu lalu mengecup lembut kening nya.
"Kita bisa mengambil anak dari panti asuhan, tak masalah Sayang. Harusnya ini bukanlah masalah besar untuk cinta kita, kamu tak perlu memikirkan hal seperti ini, masalah anak aku pun takkan pernah meminta atau menyinggung nya sama sekali, aku menginginkan mu, lebih dari aku menginginkan seorang keturunan." Jelas Arian panjang lebar, membuat Meisya tersenyum.
"Terimakasih sudah mau menerima ku, dengan semua kekurangan yang aku miliki Mas."
"Sama-sama Sayang, mari kita lewati semua nya bersama." ajak Arian, Meisya mengangguk dan menyurukkan wajah nya di dada bidang pria itu.
"Jangan pernah membahas hal ini lagi, aku tak suka."
"Baiklah Mas." Jawab Meisya. Keduanya pun berpelukan hangat, hingga tibalah mereka harus berpisah sejenak karena Arian harus melaksanakan pekerjaan nya.
"Mas, kerja dulu ya Sayang. Kalo ada apa-apa telepon Mas."
"Iya Mas, hati-hati ya."
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷