
Zen benar-benar bekerja keras, tapi lebih keras Bimo karena pria itu benar-benar tak di beri waktu untuk menikmati hidup nya, hanya bekerja dan lembur saat ini. Pantas saja pria itu jomblo terus, atasan nya begitu pekerja keras.
Tiba-tiba saja ponsel nya berdering, dia mendapat pesan dari anak buah suruhan nya.
Bawahan nya itu menginformasikan bahwa Ica berteman dengan seorang gadis bernama Marisya. Dahi Zen mengernyit, dia seperti mengenal gadis itu, tapi siapa dan dimana dia melupakan nya.
Zen menekan ikon telepon berwarna hijau, tak lama hanya beberapa detik saja panggilan itu langsung di angkat oleh sang pemilik nomor.
"Hallo tuan.."
"Selidiki asal usul gadis yang berteman dengan gadis ku, sedetail mungkin. Aku curiga dia hanya menyamar agar tak mencolok dengan penampilan nya, segera infokan padaku!"
"Baik tuan, saya mengerti." Jawab nya, Zen langsung mematikan sambungan telepon nya begitu saja.
"Takkan aku biarkan siapa pun mengusik gadis ku, siapa pun itu!" Gumam Zen, pria itu mengepalkan tangan nya, menggeretakan gigi nya. Entah apa yang membuat nya sangat marah, hanya author dan Zen sendiri yang tau.
...
Pagi hari nya, Ica terbangun dengan malas. Gadis itu merenggangkan otot-otot nya, menguap dengan lebar nya, bahkan iler di ujung bibir nya saja belum mengering, untung saja Zen tak melihat penampilan gadis nya yang sangat berantakan.
Tapi tidak, nyata nya Zen sedang terkekeh geli melihat penampilan sang gadis dari kamera pengawas yang sengaja dia pasang tersembunyi, hingga tak seorang pun tau kalau ada kamera pengawas di kamar itu.
Ica menggaruk kepala nya, sudah tiga hari dia tak keramas, entahlah kegiatan menyegarkan itu begitu malas untuk dia lakukan. Dia juga mengendus aroma ketiak nya, gadis itu sangat jorok, tapi tidak ketika Zen ada di rumah.
Meski sebenarnya dia merasa bebas tanpa kehadiran Zen, tapi dusta jika Ica tak merindukan pria tampan itu.
Ica meraih ponsel nya yang teronggok begitu saja, mengecek nya berharap ada balasan atau panggilan tak terjawab dari Zen, tapi tak ada apapun selain chat dari Hani.
"Daddy kemana sih? Gak ada kabar, bikin kesel aja." Gerutu Ica, gadis itu kembali membanting ponsel nya, tapi hal itu membuat Zen tertawa.
Ica memutuskan untuk pergi mandi saja, daripada menunggui Zen yang entah sedang apa di luaran sana.
....
Singkat nya, Ica pergi kuliah di antas supir seperti biasa. Tapi di gerbang kampus, terlihat beberapa gadis yang terlihat sedang menunggu seseorang.
Ica turun dan berpamitan sekedar berbasa-basi pada sang supir, dan langsung di sambut oleh gadis-gadis itu, mereka mengerubungi Ica bak semut mengerubungi gula.
"Ica, minta nomor ponsel dong, atau id name IG."
"User ID kali.."
"Nah itu Ca, boleh ya?" Tanya nya.
__ADS_1
"Wenthrisca Nicholas, itu user ID instagram ku. Untuk nomor ponsel, aku tak bisa memberikan nya pada sembarang orang ,permisi."
Ica melenggang pergi meninggalkan kerumunan siswi itu. Entah apa sebab nya mereka melakukan hal tak penting semacam itu, padahal kemarin mereka biasa-biasa saja, malah terkesan acuh.
"Haii Sya.." Ucap Ica sambil duduk di samping Risya yang sedang fokus membaca novel.
"Ngagetin aja kamu Ca, aku lagi fokus ini."
"Baca apa sih Sya? Sampe fokus gitu?"
"The twilight world." Jawab Risya sambil menunjukam cover buku yang sedang di baca.
"Isi nya apaan?"
"Inti nya, si cewek nya jatuh cinta sama vampir."
"Ohh jadi asmara dua dunia ya, kamu suka banget baca Sya."
"Hobi aku Ca, tapi aneh aku gak pinter-pinter." Jawab Risya sambil cengengesan.
"Elahh, kemampuan otak manusia itu gak sama kali."
Kedua sahabat itu terpaksa mengakhiri percakapan mereka karena dosen pembimbing sudah datang dengan setumpuk buku yang dia tenteng di tas nya.
....
Ica celingukan mencari keberadaan sahabat nya, seperti biasa juga gadis itu selalu datang lebih dulu.
Tak lama, dia melihat Hani yang sedang memakan es krim di salah satu foodcourt, Ica buru-buru mendekat dan menepuk pundak Hani, membuat nya tersedak es krim karena terkejut.
"Sialan Lu Ca, gue kesedak, untung gak mati."
"Lebay Lu, mana ada kesedak es krim sampe mati." Cetus Ica dengan tawa jahil nya.
"Btw, ada apa ngajakin gue ketemuan disini?"
"Gak ada sih, gabut aja. Gue bosen Han, pulang ngampus cuma tidur, paling nonton drama d ponsel." Jawab Ica, sambil merebut es krim dari tangan Hani, membuat gadis itu mendengus.
"Daddy Lo belom balik?"
"Belom lah, kalau udah mana bisa gue keluar rumah jam segini. Dia protektif banget jagain gue, sampe kesini aja gue di kawal kayak biasa nya."
"Ya bagus dong, tanda nya Daddy Lo tuh sayang sama Lo Ca."
__ADS_1
"Iya, sayang sih sayang tapi gue malu anjirrt.."
"Malu bisa di tahan kali, pake masker aja atau pake kacamata hitam." Cetus Hani terdengar menyebalkan di telinga Ica.
"Gue lagi kesel sama Daddy, Han."
"Nape lagi?"
"Dia gak bisa gue hubungin, nomor nya kagak aktif. Kalau pun bisa, pasti di tolak."
"Lu bikin kesalahan apa? Coba inget-inget dulu." Ica mencoba mengingat, tapi nihil dia merasa tak punya salah apapun pada Zen.
"Gak ada tuh Han,"
"Kemungkinan nya cuma dua Ca, yang pertama dia sibuk kerja supaya cepet pulang, kedua dia ngambek Ca."
"Ngambek kenapa Han?"
"Ya mana gue tau, makanya tadi gue tanya Lu punya salah apa sama si Daddy. Kali aja Lu ngelanggar apa yang dia larang."
Ica belum menyadari kalau Zen berubah karena pakaian nya yang terlalu terbuka saat hari pertama masuk kuliah.
"Gak ada sih, gak tau dia ngambek karena apa. Yang jelas gue kesel sama dia, tiba-tiba aja nyuekin gue."
"Ya tanya, dia kenapa? Jangan diam-diaman, nanti masalah nya gak bakal kelar."
"Iya juga sih, nanti gue kirim pesan lagi, gue tanyain baik-baik."
"Oke, btw es krim gue habis di makan Lo ya. Untung belom gue bayar." Celetuk Hani membuat Ica melempar wajah usil itu dengan tissu.
"Pesen lagi sana, sekalian buat gue."
"Jangan banyak-banyak makan es krim, tar sakit gigi, Daddy yang susah."
"Bodo lah, cepet pesenin gue tunggu!" Hani pun pergi memesan lagi es krim yang sama, selera nya memang sama dengan Ica, rasa coklat dengan taburan chocochip.
...
π·π·π·
Jangan lupa like,komen,vote, gift sama tap favorit ya, happy reading πππ
__ADS_1
pusing ya Dad? sama, aku jugaππ