Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 86


__ADS_3

"Dad.."


"Apa? Puas kau buat Daddy cemburu hah?" jawab Zen ketus, bahkan mata nya mendelik tajam ke arah Ica.


"Dad, itu semua salah paham. Dengerin Ica dulu.."


"Kalau kau hanya membahas hal itu, lebih baik jangan bicara!" Tegas Zen membuat Ica takut, jika sudah begini dia tak bisa bicara, dia takut pria itu marah besar jika dia memaksa untuk bicara, menjelaskan semua yang terjadi tadi di kampus.


Sepanjang perjalanan dari kampus ke mansion hanya ada keheningan, tak ada canda tawa dari sepasang kekasih yang baru resmi itu, membuat Bimo yang berada di balik kemudi merasa canggung dengan situasi yang tercipta di mobil ini.


Setelah sampai di mansion, biasa Zen akan menunggu Ica dan masuk bersama, tapi kali ini pria itu berjalan lebih dulu meninggalkan Ica.


Ica di landa rasa bersalah, meski sebenarnya dia tak sepenuhnya salah disini, tapi Zen juga ikut bersalah karena tak mau mendengar dulu penjelasan nya.


"Dad.." Panggil Ica, tapi dia berhenti saat Bimo mengeluarkan suara nya.


"Nona, biarkan Tuan Zen menenangkan diri dulu. Biasa nya dia akan minum-minum kalau marah, usahakan jangan sampai tuan melakukan hal itu."


"Jadi, aku harus membiarkan Daddy dulu?"


"Iya Nona, coba bicara lagi nanti malam." Saran Bimo, asisten kepercayaan Zen.


"Baik, terimakasih atas saran nya, aku masuk dulu."


Bimo pun pergi setelah Ica masuk ke dalam mansion, tiba-tiba saja dia merindukan gadis nya di yang menunggu di apartemen.


Membayangkan nya saja membuat Bimo bersemangat, tapi saat mengingat kalau gadis nya sedang kedatangan tamu tak di undang, itu membuat senyum nya redup seketika.


"Seminggu terasa lama jika di tunggu." Gumam Bimo.


....


Zen mengurung diri di ruang kerja, dia memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Tak mungkin gadis ku berhianat kan?" Zen masih berusaha meyakinkan diri nya sendiri kalau yang dia lihat tadi hanya suatu kesalah pahaman, tapi saat melihat betapa erat nya pria itu memeluk gadis nya, itu membuat nya sangat marah.


Zen melempar semua benda yang ada di atas meja, membuat berkas-berkas berhamburan. Bahkan dia menendang sofa yang ada di depan nya, tapi seketika itu juga dia merasa kesakitan.


"Awwhss sakit, sialan. Kenapa kau disini hah?" Pekik Zen ke arah sofa yang tak bersalah apa-apa.


Zen kembali duduk, dia memijit pelipis nya yang terasa berdenyut nyeri. Masalah Rosa saja belum selesai, sekarang malah datang masalah baru.


"Dad.." Ica datang dengan membawa baki berisi secangkir teh hangat.

__ADS_1


Zen hanya melirik dengan ujung mata nya, tanpa berniat menjawab sapaan gadis nya.


"Berantakan banget Dad, ini Ica bawain teh hangat, di minum ya biar lebih rileks."


"Keluar dari ruangan ku, aku ingin sendiri." Ketus Zen.


"Daddy, dengarkan Ica dulu ya? Ini semua hanya salah paham, Dad."


"Apapun itu, aku tak mau dengar. Pergi dari ruangan ku sekarang!"


"Baiklah Dad, Ica keluar. Daddy jangan tidur terlalu malam ya, kalau mau jatah Ica di kamar."


Pria itu hanya berdecak saat melihat punggung gadis nya menghilang di balik pintu yang tertutup.


"Apa dia tak merasa bersalah sedikit pun setelah membuat aku cemburu setengah mati?"


....


Di satu ruangan gelap nan pengap, seorang gadis terikat di kursi, dengan mulut yang di tutup lakban sedang tak sadarkan diri.


Suara derap langkah kaki mendekat, dan semakin mendekat hingga..


Byurr..


"Heemmpphhh.." Gadis itu meronta, tapi tak bisa apa-apa, dia hanya bisa menggerakan kepala nya ke kanan dan ke kiri.


"Kau mengenal ku?" Suara berat yang terdengar menakutkan.


"Aku lupa, kau tak bisa bicara ya?" Pria itu mendekat dan mencabut paksa lakban dari mulut gadis itu, membuat nya meringis.


"Sakitt sialan!"


"Berani mengumpat padaku, hmm? Kau lupa nyawa mu ada di tangan ku sekarang?"


"Katakan, apa mau mu hah?" Tanya gadis itu menantang.


"Mau ku? Jauhi pria bernama Elang Dwi Anggara!"


"Cihhh, kenapa aku harus menjauhi ladang uang berjalan ku? Apa hak mu hah?"


"Kau mau mati atau jauhi pria itu?" Pria itu mengeluarkan sebuah pisau yang mengkilat dari saku nya.


"Lakukan saja, aku tak takut." Tantang nya, membuat pria itu menggeretakan gigi nya karena marah.

__ADS_1


Dengan secepat kilat, dia menggores tangan mulus gadis itu hingga membuat nya mengeluarkan darah segar yang mengalir dari luka nya.


"Awwssshhh.."


"Sakit? Ini baru sedikit, belum apa-apa."


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Salah ku apa?"


"Masih bertanya apa kesalahan mu? Kau bodoh atau memang benar-benar tak tau? Tentu saja, ini ada hubungan nya dengan Elang Dwi Anggara!" Teriak pria itu.


"Jadi, nikmati hidupmu disini. Aku jamin takkan ada satu pun orang pun yang bisa menyelamatkan mu dari sini." Pria itu menyeringai di tengah kegelapan. Wajah nya yang tertutup topeng kupu-kupu membuat gadis itu tak bisa melihat jelas wajah pria di depan nya.


"Aku pergi dulu, selamat bersenang-senang disini. Kalau kau beruntung, kau bisa berteman dengan nyamuk atau mungkin ular yang kebetulan melintas kesini.


Pria itu pergi meninggalkan gadis yang tengah mengumpati nya dengan kata-kata kasar, tapi pria itu acuh dan nampak tak peduli dengan celotehan gadis tak bermoral itu.


...


Ica mondar-mandir di kamar nya menunggu Zen, tapi hingga tengah malam pria itu tak kunjung datang juga.


"Daddy benar-benar marah seperti nya, terus aku harus apa? Daddy tak bisa di ajak bicara jika sedang marah." Ica menggigiti kuku nya, hingga tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang sedang dia tunggu.


"Daddy.." Panggil Ica semringah, tapi pria itu hanya menunjukan wajah datar nya.


"Kau belum tidur?"


"Ica nungguin Daddy." Jawab Ica masih dengan senyuman manis nya.


"Gak perlu nunggu, kalau sudah ngantuk aku akan tidur sendiri. Tidur duluan saja!" Ketus Zen membuat senyum Ica meredup.


"Tapi Dad.."


"Tidur." Zen berbaring memunggungi Ica, tapi gadis itu tak bisa diam saja, dia memeluk Zen dari belakang.


"Diam, aku sedang tak berselera saat ini." Sinis Zen saat tangan Ica membelai manja perut roti sobek nya.


Ica melepaskan pelukan nya dan memilih ikut berbaring memunggungi Zen, jika biasa nya mereka akan tidur dengan saling berpelukan, tapi kali ini mereka tidur dengan saling memunggungi. Meski tak nyaman, akhirnya mereka bisa tidur juga.


....


🌷🌷🌷


Daddy nya cemburu gaeyss😁😁 jangan lupa vote ya, mumpung hari senin bestie😙

__ADS_1


-Istrinya Jungkook-


__ADS_2