
Hani melongo melihat perdebatan yang terjadi antara Brian dengan seorang wanita yang di yakini adalah ibu dari pemuda itu. Nampak masih muda memang, tapi dari penampilan nya Hani bisa menilai kalau wanita itu terlihat sangat terobsesi dengan perjodohan yang dia buat, terbukti dari cara bicara nya yang kuat dan menggebu saat membicarakan perjodohan itu.
Wanita bergaun biru navy dengan dandanan menor itu pergi dengan tergesa sambil memegangi ujung gaun nya yang menjuntai.
"Keputusan Brian untuk keluar dari rumah itu memang pilihan tepat!" gumam Hani, baru pertama kali melihat tingkah nya saja, Hani tau kalau wanita itu benar-benar minus akhlak.
"Kenapa sayang?" Tanya Bimo dengan nafas yang tersengal karena berlari setelah mendengar ada keributan dan itu terjadi di dekat meja yang di tempati oleh Hani dan Risya. Tapi Bimo tak melihat gadis itu sama sekali sekarang, padahal tadi dia menitipkan sang kekasih pada Risya dan Brian.
"Kenapa apanya Yang? Aku gak kenapa-napa." Jawab Hani, dia memang baik-baik saja.
"Tadi ada keributan disini, ada apa? Terus Risya sama Brian mana? Kok ninggalin kamu gitu aja sih."
"Udah-udah, gak usah marah-marah kali Yang. Brian bawa Risya ada alasan nya, tadi ibunya Brian dateng marah-marah." Jelas Hani, membuat Bimo menganga.
"Ibunya Brian datang?" Hani menganggukan kepala nya, dia mulai memakan kacang yang di bawakan Bimo.
"Tunggu, ibunya Brian namanya siapa sih?"
"Soraya deh kalau gak salah, tapi coba tanyain lagi sama anak nya, tuh dia balik lagi." Hani menunjuk Brian yang kembali mendekat, tentunya bersama Risya. Sejak tadi dia tak pernah melepaskan genggaman tangan nya pada sang pujaan hati.
"Nape natap gue segitunya? Gue tau gue ganteng, tapi gue masih normal Bang." Celetuk Brian, membuat Bimo segera memalingkan wajahnya. Dia juga normal kali, buktinya Hani hamil kan? Itu karena ulah pisang tanduknya yang terlalu ganas.
"Nyokap Lo punya nama gak?"
"Ya punyalah, nape?" tanya Brian sambil memakan salad yang dia bawa.
__ADS_1
"Buseet, gue kira Lu balik. Ehh ternyata ngambil makanan ya?" Cetus Hani saat melihat Risya membawa beberapa jenis makanan di piring.
"Laper, tadi belom sempet sarapan langsung kesini." Jawab Risya sambil cengengesan lalu melanjutkan kembali acara makan nya, setelah mendengar ucapan Brian, dia kembali merasa tenang dan nafssu makan nya kini kembali.
Flashback On..
Setelah berdebat dengan ibunya di dalam, Brian menarik Risya keluar gedung, di depan gedung itu ada sebuah taman dengan bangku panjang sebagai hiasan, Brian membawa Risya kesana. Keduanya pun duduk bersisian, wajah Brian memerah menahan amarah, bahkan urat-urat leher nya nampak menegang.
"Yang, apa gak sebaiknya kamu pulang aja? Hubungan kita sudah mendapat tentangan." Ucap Risya, membuat Brian menoleh. Dia membingkai wajah cantik Risya, dia menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang, aku mohon jangan menyerah. Aku ingin memperjuangkan cinta kita apapun caranya, kita berjuang bersama demi cinta kita, tolong jangan mundur semudah itu."
"Tapi hubungan mu dengan Ibumu semakin memburuk gara-gara aku, sayang. Aku tak mau kamu membenci ibumu sendiri, hanya karena aku." Ucap Risya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Brian langsung mengusap ujung mata Risya, dia tau Risya pun tak ingin hubungan ini berakhir begitu saja.
"Dengarkan aku sayang, ini semua bukan karena mu. Dari awal hubungan kami memang tak baik, jadi ini semua tak ada hubungan nya denganmu. Tapi, kamu adalah alasan kenapa aku berani mengambil langkah besar dengan meninggalkan rumah itu, karena aku mencintaimu Sayang."
Risya membalas tatapan Brian, dia mengangguk perlahan. Pertanda dia mau berjuang bersama Brian.
"Kamu mau berjuang? Terimakasih sayang," Brian mengusap pelan pipi Risya dan mengecup nya dengan lembut.
"Kalau sudah begini, aku bisa apa selain berjuang bersama. Aku terlanjur mencintaimu, mahkota ku juga sudah aku berikan padamu. Jadi, mari kita berjuang bersama, apapun rintangan nya kita hadapi bersama."
"Iya sayang, terimakasih." Brian memeluk Risya dan melabuhkan beberapa kecupan mesra di kening Risya.
"Kita kembali ke dalam? Pesta nya masih belum selesai, gak enak sama Bang Bim tadi dia nitip Hani sama kita kan? Tapi kita nya malah keluar."
__ADS_1
"Iya juga sih. Yasudah kita masuk," Brian menggandeng tangan Risya dan keduanya masuk kembali ke dalam gedung. Berkumpul dengan tamu-tamu lain.
Flashback off..
"Namanya siapa sih? Perasaan gue kagak undang deh nyokap Lo kesini."
"Soraya Meidina." Jawab Brian malas, dia asyik menyeruput es melon serut di dalam cangkir.
"Soraya? Mantan istri nya Tuan Jhon?"
"Lah itu tau, bokap gue tinggal di amerika sekarang. Tau dah udah kawin lagi apa belom," Cuek Brian, jika membahas kedua orang tuanya selalu membuat mood nya berantakan. Secara langsung, keduanya yang sudah membuat luka dalam di hati Brian, pusat pertama trauma yang dia rasakan.
Keduanya dengan egoisnya memilih bercerai hanya karena alasan yang tak masuk akal menurut nya, dan dia adalah korban dari perceraian orang tua. Ibunya sangat jarang pulang setelah perceraian itu, dia sibuk mengejar karir di luar negeri dan selama itu Bibi nya lah yang mengurusnya hingga sebesar ini, jadi saat perempuan itu mengatakan dia yang sudah membesarkan nya, Brian langsung naik pitam.
Dia merasa terabaikan, kalaupun pulang ibunya itu tak pernah menyapa atau bahkan quality time bersama putranya, dia malah sibuk dengan arisan bersama para sosialita, bagaimaana Brian tak jengah dengan kelakuan ibunya? Author aja yang buat gemes bukan main.
Bimo mencerna semuanya, ternyata Brian bukan dari keluarga biasa. Dia berasal dari keluarga terpandang, meski status mereka sudah tertutupi dengan beberapa skandal yang dibuat Soraya.
Perusahaan ayah Brian yang berdiri megah di negara ini pun patut di perhitungkan, bukan perusahaan ecek-ecek. Anehnya, pemuda itu malah memilih menjadi office boy di kantor Zen? Kenapa tidak meneruskan perusahaan ayah nya saja?
"Nape? Lu pasti mikir kenapa gue gak nerusin perusahaan bokap gue kan Bang?" Celetuk Brian tepat sasaran dengan apa yang dia pikirkan baru saja.
"Gini, gue gak mau langsung di atas. Lagian, itu perusahaan udah ada yang megang, bokap gue punya orang-orang kepercayaan nya sendiri, gue pengen mandiri, gue pengen ngasih Risya duit hasil jerih payah gue sendiri kerja dari 0. Anggap aja itu perjuangan gue sama Risya, kalaupun gue nerusin tuh perusahaan, apa Lo yakin gue bisa ngurus-ngurus kerjaan yang menumpuk itu? Sorry aja, gue orang nya mageran jadi gue lebih suka jadi office boy aja!" Jelas Brian panjang lebar, membuat Bimo dan Hani saja menganga.
Di jaman sekarang masih ada pemuda semacam Brian? Patut di acungi jempol memang.
__ADS_1
......
π·π·π·π·π·