Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 114


__ADS_3

Di kantor, Ica terlelap setelah hampir dua jam di hajar oleh Zen membuat nya kelelahan dan memutuskan ingin tidur saja.


Tok.. tokk..


Zen sudah kembali rapih saat pintu di ketuk lirih dari luar. Pria itu menekan remot dan menyuruh nya masuk.


Ternyata Asisten nya yang datang dengan membawa beberapa berkas di tangan nya.


"Tuan.." Sapa Bimo saat melihat rambut basah Zen, di pastikan jika pria itu habis mandi. Mandi siang? Pasti ada alasan nya.


"Kenapa Bim?"


"Apa Nona Ica disini?" Balik tanya Bimo. Dia tak tau kalau Ica ada disini, dia kan baru saja kembali dari apartemen.


"Dia sedang tidur Bim."


"Ohh baiklah, ini berkas-berkas untuk penahanan Tuan dan Nyonya Ambarella." Zen meraih berkas itu, dia sudah yakin dengan keputusan nya untuk memenjarakan orang tua Albert, dalang dari kematian orang kedua orang tua nya, juga adik yang belum sempat lahir ke dunia.


"Kau sudah mengecek semua nya Bim?"


"Tentu sudah tuan." Jawab Bimo.


"Bagaimana keadaan Rosa dan Jack di markas?"


"Seperti biasa tuan, wanita itu terus berteriak meminta di lepaskan."


"Apa mereka memberi nya makan?" Tanya Zen, pria itu bertanya tanpa memalingkan tatapan nya dari berkas di tangan nya.


"Hanya minum saja tuan, sesuai perintah."


"Biarkan saja kalau begitu, kalau penghianat itu bagaimana?"


"Dia sudah di pulangkan kemarin malam setelah kaki nya di tembak, tuan."


"Baiklah, kau bisa pergi Bim. Terimakasih sudah bekerja keras."


"Sama-sama tuan. Emmm hari ini saya izin pulang lebih awal tuan, bisakah?"


"Ya kau bisa Bim, anggap saja ini bonus plus karena kau sudah bekerja keras."


"Baik tuan, terimakasih." Jawab Bimo lalu pamit undur diri, sebelum Zen bertanya lebih banyak.


"Pulang awal? Pasti dia ingin menemani gadis nya." Gumam Zen, pria itu menggelengkan kepala nya pelan dan kembali fokus dengan berkas yang sedang dia baca.


"Hahh, sudah lama aku tak pergi ke makam papa dan mama, pasti kotor sekali."


...


Hari sudah sore, bahkan sebentar lagi malam. Tapi Ica masih larut dalam tidur nyenyak nya, maklum lah dia begitu kelelahan setelah memberi vitamin pada Zen.


Zen sedang duduk di sisi ranjang, menyaksikan sendiri betapa lucu nya Ica saat tertidur.


Dia tersenyum simpul, bahkan saat tidur pun gadis itu tetap terlihat sangat cantik.

__ADS_1


"By.." Zen mengguncang pelan lengan Ica, tapi bukan Ica nama nya kalau hanya sentuhan seperti itu membuat nya bangun.


"Baby.." Kali ini, Zen mengguncang lengan nya cukup kuat. Baru lah Ica membuka mata nya dengan malas.


"Apa sih Dad? Ica capek, masih pengen tidur." Jawab Ica dengan suara serak nya.


"Sudah sore Bby, tak mau pulang? Katanya mau beli laptop?"


"Iya Dad, Ica mandi disini aja kali ya? Tapi gak bawa baju ganti."


"Mandi saja dulu, di kamar mandi ada bathrobe. Pakai saja itu untuk sementara sampai pakaian yang Daddy pesan datang." Ucap Zen sambil merapikan rambut Ica yang menghalangi wajah nya.


"Daddy sudah pesan pakaian buat Ica?"


"Tentu saja, memang nya kenapa?"


"Ya gak kenapa-napa sih, tapi bagus deh Daddy peka banget jadi laki-laki." Puji Ica.


"Yaudah mandi dulu ya Bby,"


"Iya Dad." Ica pun bangkit dari rebahan nya dan pergi ke kamar mandi. Sebagai jaga-jaga, dia mengunci pintu nya dari dalam. Takut saja kalau pria itu tiba-tiba masuk ke dalam dan kembali menghajar nya, mengingat kalau Zen adalah pria yang pandai memanfaatkan situasi.


Ica membuka seluruh pakaian nya dan masuk ke dalam bath up berisi air hangat. Bahkan di dalam kamar mandi saja terdapat foto nya, apa pria itu sering bermain solo dengan dirinya sebagai fantasi? Entahlah, hanya Zen yang tau apa maksud dari meletakan foto di dalam kamar mandi.


Ica dengan cepat menyelesaikan sesi mandi nya dan keluar dengan memakai bathrobe.


"Dad, ponsel Ica ketinggalan di kamar ya?"


"Uuuhhh makasih Daddy tampanku." Ica mengecup singkat pipi Zen.


Ica duduk di samping Zen, pria itu sigap mengambil hairdrayer dan mengeringkan rambut gadis nya tanpa diminta.


"Makasih Daddy."


"Iya sama-sama ratu ku." Jawab Zen, pria itu fokus mengeringkan rambut Ica.


Sedangkan gadis itu bermain ponsel, membuka beberapa pesan chat dari teman-teman nya. Hingga satu pesan yang membuat nya sangat bersemangat.


"Ca, malam ini kita double date di mall xxx. Jam 8 malam ya." Isi pesan dari Hani, membuat Ica tersenyum semringah, dia tak sabar melihat Daddy sahabat nya.


"Kenapa Bby?" Tanya Zen saat melihat ekspresi gadis nya dari pantulan layar ponsel.


"Malam ini kita double date di mall xxx jam 8 ya Dad, mau ya?"


"Boleh Bby, sekalian beli laptop buat kamu kuliah." Jawab Zen.


"Oke Daddy."


Ica pun mengetik balasan pada Hani.


"Oke siap, aku tunggu di restoran ayam goreng korea yang waktu itu. Jangan terlambat ya bestie." Terkirim dan langsung centang biru, karena Hani sedang online. Hani hanya mengirim stiker sebagai jawaban.


"Kira-kira, Daddy nya Hani kayak apa ya?"

__ADS_1


"Daddy gak tau, tapi tetap Daddy yang paling tampan, kamu setuju kan?"


"Sangat Dad." Jawab Ica membuat Zen tersenyum bangga.


....


Tepat pukul 8, Zen dan Ica meluncur ke tempat yang sudah di sepakati. Begitu pun Hani dan Bimo yang juga sedang dalam perjalanan ke mall.


"Dad, Ica pengen laptop warna pink."


"Hitam aja Bby, biar gak keliatan kalo kotor." Jawab Zen datar.


"Biru?"


"Hitam Bby."


"Isshh yasudah lah, hitam juga bagus." Ica menyerah juga, daripada mood nya anjlok gara-gara berdebat dengan Zen yang pasti dia takkan menang, hanya menghamburkan tenaga saja.


Ica mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas saat mendengar ponsel miliknya itu berdering.


"Hallo, kenapa Han?"


"Masih dimana? Gue dah sampai ya." Tanya Hani.


"Bentar lagi gue sampai Han,"


"Oke, gue tunggu."


Panggilan pun selesai, bertepatan dengan mobil yang di kendarai Zen berhenti di parkiran mall.


"Ayo Bby, sudah sampai."


"Iya Dad." Kedua nya pun berjalan dengan tangan yang saling bertaut mesra.


Saat memasuki restoran, Ica sudah melihat Hani bersama seorang pria, tapi dia memunggungi, jadi dia tak tau bagaimana wajah Daddy nya Hani.


"Hai Han, kangen banget.." Kedua sahabat itu saling berpelukan. Bagaimana tidak, mereka tidak bertemu sudah semingguan.


"Yang, ini temen aku." Hani menepuk pundak pria yang sedari tadi duduk di samping nya.


"Suara nya tak asing." Gumam Bimo, dia berbalik dan seketika itu juga dia menganga.


"Asisten Bimo?"


"Nona muda?"


"Ckkk, sudah kuduga." Gumam Zen.


....


🌷🌷🌷🌷


Wkwkwk, pertemuan yang mengejutkan 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2