
Ica memukul-mukul dada Zen, karena kehabisan nafas. Zen melepas tautan bibir nya dan mengusap ujung bibir gadis nya yang basah karena ulah nya, bukan hanya basah tapi volume nya juga bertambah.
"Nafas sayang, kamu ini kebiasaan kalo ciuman selalu gak nafas." Pria itu menggerutu karena dia sedang menikmati ciuman dalam nya, Ica malah minta berhenti.
"Ya maaf Dad.."
"Kebiasaan, Daddy lagi enak-enak nya tau!"
"Gak usah merajuk gitu, kan tinggal cium lagi apa susah nya, Dad?" Tanya Ica, gadis itu melingkarkan kedua tangan nya di leher Zen dengan mesra nya, membuat Zen tersenyum senang lalu kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
Zen menenggelamkan kepala nya di buah kenyal milik gadis nya, menyusu seperti bayi yang kehausan. Ica mengusap kepala belakang pria nya dengan lembut, dan Zen sangat suka jika Ica melakukan itu saat mereka sedang bersama.
Zen memberikan banyak tanda kemerahan di leher dan di dada gadis nya, membuat gadis itu terlihat seperti macan tutul saking banyaknya tanda itu.
Zen menurunkan segitiga milik sang gadis dengan sensual, membuat Ica bergerak tak karuan.
"Dad.."
"Yes Baby? Why?"
"Tidak, lanjutkan saja."
Zen melakukan nya, baru saja akan memasuki gadis nya, pintu ruang kerja di ketuk pelan dari luar.
"Dad, ada yang ngetuk pintu."
"Tanggung By, junior udah mau masuk." Jawab Zen, tetap fokus menggesekan terong ungu nya di bibir inti gadis nya.
"Bukain dulu, siapa tau penting Dad."
"Biarkan saja, kita fokus dulu pada permainan kita By." Jawab Zen, dia menarik gadis nya agar duduk di pangkuan nya, secara langsung meminta nya memimpin permainan.
"T-tapi Dad, Ica gak bisa kalau ke ganggu gini."
Zen mendengus, dia berteriak keras pada seseorang di balik pintu.
"Siapa?" Teriak Zen tanpa menurunkan Ica dari pangkuan nya.
"Ini Bibi, den.."
"Ada apa?" Tanya Zen lagi dengan nada tinggi, membuat Bi Arin mengerti kalau tuan nya pasti sedang bekerja keras di dalam ruangan itu.
"Ada seorang wanita yang memaksa masuk tuan, nama nya Rosania."
"Biarkan saja, kalau penting tunggu saja sampai aku selesai. Jangan mengganggu lagi," Tegas Zen.
"Baik tuan.."
Zen membelai wajah gadis nya dengan mesra, lalu mengecup singkat bibir manis Ica.
"Sudah sayang, kita bermain sekarang?"
"Tapi dia akan menunggu, Dad."
__ADS_1
"Apa peduli ku sayang, tidak sama sekali. Jangan khawatir."
"Baiklah Dad.." Ica menurut dan mulai bergerak naik turun di pangkuan Zen.
...
Sedangkan di luar sana, Rosa menyedekapkan dada nya dengan ekspresi marah karena penjaga rumah bilang kalau Zen tak bisa di ganggu dua jam kedepan.
"Memang nya sedang apa pria itu? Sialan, gue gak mau nunggu selama itu."
"Baguslah, kalau tak mau menunggu, sebaiknya anda pergi. Lagi pun kedatangan anda sangat tak di harapkan lagi oleh tuan muda." Sindir salah satu bodyguard Zen, dengan pedas nya.
"Diam kau, siapa yang minta pendapatmu hah?" Bentak wanita itu.
"Kok ngamuk sih? Fakta nih fakta, tuan muda udah punya Non Ica yang lebih cantik dan lebih muda dari pada anda." Cibir nya membuat Rosa naik pitam.
"Jaga bicara mu pria sialan!"
"Lain kali kalau mau ngemis di tempat lain mbak, disini gak menerima kaum tebal muka seperti anda."
"Setelah aku menjadi Nyonya Nicholas, aku pastikan orang pertama yang aku pecat adalah kau!" Tunjuk Rosa dengan angkuh nya.
"Bangun mbak, dunia mimpi memang indah. Hati-hati terbang terus jatuh ke jurang terjal, mimpi mu terlalu tinggi." Sinis yang lain, membuat wanita itu semakin merasa terpojok.
"Panggilkan Zen sekarang juga, cepat!"
"Maaf tapi kami tak mematuhi perkataan orang asing." Rosa mendengus kesal dan memilih masuk ke dalam mansion. Penjaga yang berjaga tentu saja panik lalu menghalangi wanita itu, mereka jelas tau kalau tuan nya tak suka di ganggu jika dia sedang bersama Ica.
Sedangkan di dalam ruang kerja, Ica bersandar di rak buku dengan Zen yang sedang mengeluar masukan terong ungu nya dengan semangat.
"Pasti wanita itu membuat ulah sayang," Jawab Zen tanpa menghentikan aktivitas nya.
"Sudah belum Dad?"
"Belum, masih lama sayang. Kenapa, sakit?"
"Nggak kok Dad, lanjutkan saja."
Zen memeluk tubuh Ica dengan erat, begitu pun Ica yang membalas pelukan itu tak kalah erat nya.
Ica menyeringai, dia akan membuat Zen bermain lama dengan nya, biarkan saja wanita itu menunggu sampai lumutan, Zen adalah milik nya, dia hanya menjaga apa yang sudah jadi miliknya.
3 jam kemudian.
Zen selesai dengan kegiatan panas nya, dia mengatur nafas nya yang tersengal setelah pelepasan nya, begitu pun Ica yang sedang bersandar di atas dada Zen.
"Daddy lelah sayang.."
"Apa Daddy kira aku gak lelah?" Tanya Ica.
"Semakin lama permainan mu semakin bagus sayang,"
"Belajar dari pengalaman Dad, biar bisa muasin Daddy. Kalau Ica bisa puasin Daddy, pasti Daddy gak bakal doyan jajan."
__ADS_1
"Yang di luar belum tentu sehat dan sesempit milik mu sayang." Bisik Zen menggoda, bahkan pria itu menggigit cuping telinga Ica, membuat gadis itu merinding.
"Daddy ihh.." Rengek Ica manja, membuat Zen terkekeh.
"Daddy mandi dulu ya, biar Ica yang keluar duluan nemuin si kecoa terbang itu."
"Ada-ada saja kamu ini sayang, jangan main jambak-jambakan ya."
"Tergantung situasi, kalau dia main tangan ya masa Ica diam saja."
"Terserah kamu saja sayang," Ucap Zen, pria itu mencium bibir Ica terlebih dulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Baiklah mbak Rosa, kita mulai." Ica menyeringai jahat, dia yakin wanita itu masih ada di luar. Ica mengambil kemeja kebesaran milik Zen dan memakai nya, menata rambut nya dengan jari dan pergi keluar ruang kerja.
Benar saja, Ica melihat wanita itu tengah menatap nya tajam dengan tangan yang bersedekap di dada.
Ica berjalan santai ke dapur dan menuangkan jus ke dalam dua gelas.
"Dari tadi gak ada yang ngasih minum ya?" Tanya Ica dengan nada mengejek.
"Aku gak haus."
"Beneran, ini seger banget, dingin.." Ica sengaja menyeruput jus nya dengan bersuara, agar wanita itu ngiler.
Rosa menelan ludah nya dengan kasar, kenapa dia bisa ngiler hanya dengan segelas jus saja? Di apartemen dia punya banyak.
"Yakin? Ya gitu sih kalau datang bertamu tapi tak di undang, jadi nya gak ada respect."
"Diam kau, dimana Zen?"
"Daddy? Ada kok, dia sedang mandi. Barusan kan kami habis bermain." Jawab Ica dengan santai, bahkan dengan berani menyibak rambut nya ke belakang. Hingga terlihat lah penampakan leher gadis itu yang di penuhi kissmark, tak perlu di tanyakan lagi siapa pelaku nya.
"Wahh kamu disini ngelont* ya?"
"Iya, lont* pribadi. Gak ganti-gantian tuh.." Jawab Ica santai sambil memandangi kuku-kuku nya yang kemarin dia rawat.
"Jangan sombong, kau hanya dapat bekas ku saja!"
"Senjata pria gak ada bekas nya walaupun udah berapa ratus kali masuk ke dalam inti wanita, lahh kalau perempuan? Kan longgar ya bos kalau bekas!" Sindir Ica, dia tau dari Zen kalau Rosa sudah tidak per*wan saat pertama kali mereka melakukan itu.
"Berani sekali kau!"
"Apa? Mau marah? Mau nampol? Sini mbak, aku gak takut!" Tantang Ica.
Wanita itu diam seketika, dia tau kekuatan yang di miliki gadis yang nampak manis dan mungil itu. Dia jelas ingat bagaimana saat gadis kecil itu memelintir tangan dan menampar pipi nya, bahkan sakit di pipi nya bertahan selama seminggu.
....
🌷🌷🌷
Mantap Ca, jangan kasih kendor demi Daddy🤭🤭💜
__ADS_1
pria ini yang jadi rebutan dua wanita itu😂😂