
Risya sedang asik bermain ponsel, sedangkan Brian pemuda itu entah kemana, sejak pagi hari pria itu pergi berpamitan pada Risya akan pergi sebentar karena ada urusan yang cukup penting, tapi Risya tak tahu urusan apa dan Risya memilih tak bertanya terlalu banyak.
"Ayang kemana ya? Kok lama, dah laper nih." Gumam Risya, dia memilih bangkit dari duduknya dan membuka kulkas mengambil buah-buahan, dia merasa akhir-akhir ini dia sangat menyukai buah-buahan.
Risya memotong buah melon dan memakan nya dengan lahap, membawanya ke ruang tengah sambil menonton televisi yang menayangkan film luar negeri.
Tak lama, terdengar suara pintu di ketuk pelan dari luar. Risya menyangka itu Brian, tapi kalau itu Brian kenapa tidak langsung masuk saja? Biasanya juga langsung masuk.
Risya membuka pintu utama, dia membulatkan matanya saat melihat siapa yang datang. Wanita paruh baya dengan dandanan menor dan pakaian ketat berdiri dengan senyum manis nya.
"Selamat sore, Nak."
"So-re tante, nyari Brian ya? Brian nya keluar sebentar." Jawab Risya canggung, bagaimana tidak canggung, dia ingat pertemuan pertama nya dengan Soraya, ibu kandung Brian di pesta pernikahan Zen waktu itu.
"Eemm, saya kesini ingin bertemu denganmu, bisakah kita bicara berdua?" Tanya Soraya, membuat Risya membulatkan matanya.
"Baik Tante, silahkan duduk dulu, saya ke dalam sebentar ambil minum." Soraya mengangguk dan memilih duduk di kursi teras, sedangkan Risya masuk dan membuatkan minuman untuk calon mertua nya itu.
Tak lama kemudian, dia keluar dan menyuguhkan segelas jus segar yang baru saja dia buat. Risya duduk dan sesekali melirik ke arah Soraya yang masih mengedarkan pandangan nya di sekeliling rumah milik nya.
"Maaf tante, anda ingin membicarakan apa?" Tanya Risya memberanikan diri. Pasalnya, dari tadi Soraya hanya diam saja.
"Aaahh ya, di rumah sebesar ini kau tinggal dengan siapa? Apa hanya berdua dengan Brian."
"Iya Tante, kami tinggal berdua disini. Awalnya bertiga, tapi kakak saya menghilang tanpa jejak dan tak pernah kembali, jadi hanya ada kami berdua sekarang." Jelas Risya.
"Langsung ke inti nya saja, apa kau benar mencintai Brian, putraku?"
"Tentu saja Tante, saya sangat mencintai Brian." Jawab Risya tanpa ragu.
"Baiklah, kalau begitu saya bisa apa. Lagipun Brian tak menyukai Chloe dan memilih mu menjadi kekasihnya. Kenapa tidak langsung menikah saja?"
__ADS_1
"Bolehkah?" Tanya Risya berbinar. Soraya menganggukkan kepala nya, dia tersenyum manis.
p"Saya kesini juga untuk meminta maaf atas perlakuan saya tempo hari saat di pesta, saat itu saya masih di butakan obsesi saya untuk menikahkan Brian dengan Chloe, putri teman arisan sosialita saya."
"Tak apa tante, saya mengerti." Jawab Risya.
'Kalau saja bukan karena ancaman Zen, aku takkan pernah mau melakukan hal serendah ini.' Batin Soraya dengan senyum palsu nya. Nyatanya, dia melakukan ini semua hanya karena takut akan ancaman Zen bukan secara tulus.
"Apa Brian masih lama?"
"Saya tak tau, Tante. Sebentar saya telepon dulu," Risya bersiap bangkit dari duduknya, tapi Soraya keburu melarang.
"Aahh tak usah Nak, biarkan saja. Mungkin dia sedang ada urusan penting. Kalau begitu saya permisi dulu, sesekali mampir ke rumah ya. Jangan sungkan," Ucap Soraya berdrama, wanita itu sangat pintar berakting ternyata. Selain tukang selingkuh, ternyata dia juga ratu drama, memuakkan.
"Iya Tante, nanti saya ajak Brian."
"Panggilnya Mama dong, kenapa tante? Kamu kan calon istri Brian."
"I-iya Ma." Jawab Risya, Soraya memeluk Risya dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Mama pergi dulu." Pamit Soraya, tapi bertepatan dengan itu, kepala Risya terasa pusing. Dia limbung dan jatuh tak sadarkan diri, Soraya yang melihatnya bermaksud menolong tapi suara di belakang nya membuat langkah nya terhenti.
"Sayang.." Pekik Brian lalu berlari mendekati Risya yang terkulai lemas di lantai.
Pria itu menepuk-nepuk pelan pipi Risya tapi nihil, gadis itu tak kunjung bangun juga.
"Bangun Yang, kamu kenapa?"
"Heii kau, kau apakan Risya ku hah?" Teriak Brian pada Soraya yang masih berdiri mematung menyaksikan bagaimana panik nya Brian melihat Risya tak sadarkan diri.
"I-ibu tak melakukan apapun Bri, Ibu baru saja akan pulang, tapi Risya malah pingsan."
__ADS_1
"Jaminan apa yang akan kau berikan kalau bukan kau yang melakukan hal ini? Rendahan sekali, kalau membenciku, kenapa tak kau bunuh saja aku!" Pekik Brian lantang, membuat Soraya terhenyak. Seumur hidup dia baru pertama kali melihat Brian semarah ini.
"Pergi kau dari sini, rumah ini tak menerima jalangg semacam kau!"
"Brian, mau bagaimana pun aku ini ibumu. Hargai aku, setidaknya sedikit saja."
"Harga? Berapa harga yang kau ajukan untuk aku membeli harga dirimu itu, Nyonya Soraya? Pergilah, aku tak ingin melihat wajah mu itu, aku muak!" Berang Brian, membuat Soraya langsung pergi dari sana.
Pria itu membawa Risya ke dalam rumah, membaringkan nya di sofa lalu menelpon dokter kenalannya, beruntung nya tempat praktek nya dekat dari rumah Risya.
Tak butuh waktu lama, dokter itu datang dengan menenteng peralatan medis.
"Kenapa Bri?"
"Risya pingsan, mood nya juga sering berubah-ubah beberapa hari ini."
"Oke, aku periksa dulu." Izin dokter itu, menyibak sedikit pakaian yang Risya pakai dan memeriksa denyut nadinya.
"Kapan kira-kira nya Risya terakhir datang bulan?"
"Gak taulah, mungkin dua bulan yang lalu." Jawab Brian, dia lupa kapan terakhir Risya datang bulan.
"Menurut hasil pemeriksaan ku, Risya hamil Bri."
"What? Hamil?" Tanya Brian dengan nada tak percaya.
.....
🌷🌷🌷🌷
Gantung ahh biar seru🤭🤭 kasih hadiah dulu dong, author maksa nih🤣
__ADS_1