
Anton memutuskan untuk pergi meninggalkan Soraya yang tertidur nyenyak setelah menyelesaikan ronde kedua pertarungan hebat mereka, dia mengecup kening wanita itu dan segera memakai pakaian nya.
Dia menatap wajah damai Soraya sebelum beranjak, dia meyakinkan hatinya sendiri kalau Soraya adalah pelabuhan cinta nya. Dia juga berharap, semoga saja dengan dia menikahi wanita itu, Soraya bisa berubah menjadi lebih baik, sayang pada anak, menantu dan cucu-cucu nya. Dia dengar kabar angin, bahwa menantu Soraya baru saja melahirkan putri kembar.
Dia membawakan hadiah khusus untuk putri calon anak tiri nya, dan dengan langkah tegap dia memasuki kawasan rumah Risya. Dia menekan bel beberapa kali, dan tak lama Brian datang membukakan pintu. Hari memang sudah petang, hingga di pastikan Brian sudah pulang bekerja, itu memang menjadi tujuan Anton. Dia ingin bicara secara langsung pada pemuda itu.
"Kau? Bukankah kau laki-laki yang waktu itu?" Tanya Brian dengan tatapan tajam nya. Berbeda dengan Anton yang memasang wajah ramah dan bersahabat.
"Kau masih mengingatku ternyata." Brian memutar matanya jengah, entah apa maksud dan tujuan pria pemuas ibu nya itu datang ke rumah nya.
"Sayang, siapa yang datang?" Tanya Risya dari dalam, dia mendekat lalu seketika dia terkejut saat melihat laki-laki yang waktu itu sedang melakukan hal tak senonoh dengan ibu mertuanya di rumah.
"Selamat sore." Sapa nya ramah, Risya hanya tersenyum paksa sebagai balasan atas sapaan ramah Anton.
"Mau apa kau datang kesini?"
"Eemm, aku ingin bicara penting." Jawab Anton.
"Sepenting apa?"
"Tapi, bisakah kita bicara di dalam saja sambil duduk? Aku pegal berdiri terus." Pinta Anton sambil cengengesan, Brian mendelik tapi sedetik kemudian dia membuka pintu lebar-lebar membiarkan pria itu masuk.
Dia juga tak melihat niat jahat dari sorot mata pria itu, jadi dia tak perlu khawatir dan tak ada salahnya mendengarkan apa yang ingin dia katakan sebelum beropini.
Anton duduk di kursi yang berseberangan dengan Brian, pria itu menyedekapkan tangan di dada dengan tatapan tajam yang menghunus, tapi sama sekali tak membuat nyali seorang Anton runtuh.
Risya datang dan berjalan mendekat dengan dua gelas jus jeruk, dia meletakan nya di meja.
"Silahkan di minum, hanya ini yang ada di rumah."
__ADS_1
"Aaa tak usah repot-repot Nona, saya kesini hanya untuk bicara dengan Brian." Risya mengangguk dan duduk di samping suami nya. Beruntung nya Baby Kila dan Kira sudah tertidur di kamar nya, jadi dia bisa bebas mendengarkan apa yang Kira nya membuat pria itu datang berkunjung.
"Jadi, katakan apa maksud mu datang kemari?"
"Sebelumnya, ini ada sedikit hadiah untuk putri kalian. Maaf seadanya, aku membeli nya terburu-buru karena takut ketinggalan pesawat." Anton mengulurkan dua buah paperbag dan meletakan nya di atas meja.
"Terimakasih Tuan."
"Cukup berbasa-basi nya, katakan apa maksud dan tujuan mu datang kesini?" Tanya Brian dengan nada ketus.
"Jadi, kau sendiri sudah tahu siapa aku tapi mungkin tidak dengan nama atau asal-usul ku. Yang kau tahu, aku adalah pria pemuas ibumu. Tapi, kedatangan ku kesini untuk melamar ibumu untuk ku jadikan istri."
"Apa?" Pekik Brian dan Risya bersamaan, lengkap dengan kelopak mata mereka yang membesar.
"Jangan bercanda, sialan!" Murka Brian, dia menggebrak meja dan berdiri dengan menopang pinggang.
"Aku tidak bercanda, aku serius. Aku menyimpan perasaan lebih pada Soraya bahkan sejak pertemuan kami yang pertama." Jelas Anton, Brian dapat melihat raut wajah penuh keseriusan dari wajah Anton. Tapi apa ini hanya sebuah jebakan atau apa? Rasanya tak mungkin pria muda di depan nya ini benar-benar ingin menjadikan ibu nya sebagai istri kan? Bahkan dilihat dari wajah nya saja masih sangat muda, atau terlalu muda untuk menjadi ayah tiri nya.
"Aku sudah meminta nya untuk menjadi istri, tapi dia dengan lantang menolak ku Brian. Aku sudah bilang akan melamar nya langsung padamu, sekalian meminta restu agar rumah tangga kami berjalan dengan baik." Jelas Anton panjang lebar.
Brian mengusap wajah nya kasar lalu mendudukan tubuh nya kembali dengan lemas.
"Bagaimana bisa aku merestui hubungan beda usia kalian? Soraya lebih cocok menjadi ibumu, bukan istrimu. Apa kau sadar akan hal itu?" Anton mengangguk pasti tanpa keraguan sedikit pun.
"Tentu saja aku sadar, aku juga sudah memikirkan apa saja kemungkinan yang akan kami hadapi, tapi aku sudah siap dengan semua nya, Brian." Jawab Anton.
"Usia mu masih muda Anton, bahkan usia kita hanya selisih dua tahun saja. Kenapa harus pada Soraya? Padahal masih banyak gadis lain yang mengantri akan cintamu!"
"Perasaan tak bisa di paksakan Brian, mereka tumbuh dengan sendirinya dan aku mengalaminya, perasaan itu semakin lama semakin dalam, terasa menyesakan dada jika tak bisa mendapatkan nya." Jelas Anton.
__ADS_1
"Kau yakin dengan keputusan mu ini, Anton?" Lagi-lagi, Anton menjawab dengan anggukan kepala nya.
"Baiklah, aku merestui mu menikahi ibu ku."
Wajah Anton seketika berbinar, berbeda dengan Risya yang nampak sangat terkejut dengan apa yang di katakan suaminya.
"Mas.."
"Aku ingin lihat, sampai mana dia akan serius untuk berjuang. Kalau kau benar-benar tulus, cepat nikahi ibuku."
"Ya, tentu saja. Aku akan menikahi Soraya dalam waktu dekat," Jawab Anton dengan senyuman yang merekah indah di bibirnya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku akan mempersiapkan semua nya dan terimakasih sudah percaya padaku!"
"Pergilah dan lakukan apapun yang menurut mu benar!" tegas Brian, Anton pun pergi dari rumah Risya dengan raut wajah penuh kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampan nya.
"Mas, apa kamu yakin dengan keputusan mu? Ini pernikahan dan tentang kehidupan ibu lho."
"Biarkan saja, bukankah dia sudah mengatakan keseriusan nya? Bukankah itu satu langkah yang sangat berani? Tak banyak laki-laki yang bersikap berani seperti Anton, terlebih dia meminta izin pada anak nya." Jawab Brian.
"Semoga saja dia memang serius dengan perkataan nya ya Mas."
"Ya tentu, kita lihat saja nanti. Ayo ke kamar, Baby Kila sama Kira takutnya bangun."
"Dihh ngajak ngamar, lihatin Kila sama Kira doang apa yang lain nih?" Tanya Risya dengan sedikit sindiran, membuat Brian yang akal bulus nya sudah di ketahui hanya bisa cengengesan.
"Mas, nanti kamu manggil Anton pake sebutan apa? Papa kah?" Tanya Risya sambil terkekeh.
"Entahlah, jangan di pikirkan dulu. Ayo aku haus pengen Mimi susu." Brian langsung menggendong Risya ke kamar dengan sekali hentakan saja.
__ADS_1
.....
🌷🌷🌷