
Risya dan Brian sedang bersantai di sofa ruang tamu, dengan pria itu yang berbaring dan menjadikan paha sang kekasih sebagai bantal. Risya sendiri tak menolak dan malah mengusap rambut hitam Brian, sudah cukup lama tak mewarnai rambut karena kekurangan dana, membuat warna abu-abu terakhirnya itu luntur dan kini berwarna hitam, tapi justru Risya malah menyukai Brian yang berambut hitam, nampak lebih tampan menurutnya.
"Sayang.." panggil Brian, Risya mengerti dan menyuapkan sepotong buah melon ke mulut Brian. Mereka memang sedang ngemil buah sambil menonton televisi.
"Yang, kenapa gak bilang sama aku ada yang ngirimin kamu poto editan sih?" Tanya Brian, dia baru teringat ingin membahas ini dengan sang kekasih.
"Kamu tau dari siapa?"
"Biasalah, abang-abang tukang ghibah." jawab Brian.
"Hehh, kamu juga tukang ghibah." ucap Risya sambil terkekeh.
"Ya aku cuma ikut-ikutan sayang, jadi kenapa?"
"Intinya, aku cuma gak mau bikin kamu kepikiran aja. Lagian itu cuma editan kan? Meski sempat bikin aku kesel, marah, cemburu juga, tapi aku yakin kamu gak akan lakuin itu kan?"
"Nggak sayang, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, hanya kamu yang akan aku cintai." Jawab Brian, dia bangkit dari rebahan nya dan membingkai wajah cantik Risya, lalu mengecup singkat bibir nya.
"Aku sudah bilang padamu, cukup percaya padaku saja. Mungkin kedepan nya, akan ada ujian cinta kita yang lebih besar dari ini."
Risya tersenyum lalu mengangguk, membuat Brian juga tersenyum, mereka saling melempar senyuman satu sama lain.
"Ayo kita berjuang bersama!" ajak Brian bersemangat.
__ADS_1
"Ayoo.." jawab Risya tak kalah semangat nya, dia juga akan membuktikan kalau dia pantas bersama Brian.
Begitu juga Brian, dia akan berusaha memantaskan diri untuk bisa bersama sang pujaan hati, Marisya. Dia sudah mengambil langkah besar dalam hidupnya, dimana dia dengan berani mengambil keputusan dengan meninggalkan rumah orang tua nya dan belajar mandiri, bekerja sebagai office boy di perusahaan Zen, padahal dia bisa saja mengelola perusahaan sang ayah, tapi dia tak ingin melakukan nya, dari dulu dia memang lebih suka memulai semua nya dari awal.
Rasanya kurang menantang jika langsung di atas tanpa perjuangan dari titik terendah dahulu, seperti saat ini dia memang menjadi OB, siapa tau besok atau lusa dia bisa membangun perusahaan sendiri. Nasib tiada yang tau, sekarang dia melarat bisa jadi besok jadi sultan.
Brian memeluk Risya, begitupun Risya yang membalas pelukan hangat Brian tak kalah eratnya. Begitu nyaman nya berada di pelukan orang terkasih, apalagi orang nya setampan Brian.
"Yang, mulai bulan ini gaji aku kamu yang pegang ya?"
"Kenapa? Itukan uang kamu, aku masih ada tabungan kok."
"Aku kerja buat siapa? Buat kamu dan masa depan kita. Jujur aja, aku paling gak bisa nyimpen uang. Kalo punya uang tuh pengen nya di habisin terus, jadinya aku kasih ke kamu aja ya? Aku megang seperlunya aja, buat ongkos naik bus atau beli jajan." Ucap Brian. Dulu dia terlalu di manjakan oleh bibinya, hingga dia tumbuh menjadi anak yang boros, meski begitu dia menggunakan nya bukan untuk hal-hal yang tak baik, semacam mabuk-mabukan atau membeli rokok, dia paling anti dengan yang namanya rokok, berdekatan dengan orang yang merokok saja, Brian pasti langsung batuk dan sesak nafas.
"Yaudah, sebagian aku bakal beliin buat keperluan bulanan kita, sisanya aku tabung kalau-kalau ada keadaan darurat."
"Terimakasih sayang, maaf sudah membuatmu kerepotan dengan semua masalahku." ucap Brian pelan, dia merasa cukup bersalah karena sudah melibatkan Risya dengan segudang masalahnya. Hingga gadis itu menjadi korban dari obsesi seorang Chloe, gadis berandalan yang doyan ke bar, mabuk-mabukan bersama teman-temannya.
Tapi sepertinya ibunya buta akan hal itu, dia hanya ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan kebahagiaan putra nya sendiri. Egois sekali memang, dulu ada bibi nya yang akan selalu mendukung dan memberi nya nasihat, tapi sekarang dia tertidur cukup lama karena shock setelah melihat kelakuan suami nya.
Jika mengingat hal itu, Brian selalu tak bisa mengendalikan diri nya. Dia selalu emosional, tak jarang marah-marah sendiri, kadang juga menangis sendirian dalam diam, tapi Risya selalu ada sekarang dan tak pernah membiarkan nya sendirian lagi.
"Yang.."
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Risya, Brian tersenyum nakal. Dia sangat suka melihat Risya yang memakai pakaian ketat seperti ini, tapi hanya di depan nya. Dia akan marah besar, jika sampai miliknya dilihat orang lain.
"Mimi susu boleh?"
Kumat deh mesuum nya." cetus Risya dengan senyum simpul nya.
"Kan cuma sama kamu doang sayang, mana berani aku ngelakuin ini sama orang lain."
"Awas aja kalo berani aku sunat juniorr kamu itu sampai habis." Ancam Risya membuat Brian refleks menutupi area selangkaangan nya dengan kedua tangan.
"Jangan dong yang, nanti gak bisa nyembur."
"Jangankan nyembur, bangun aja kagak, kan gak ada itu nya."
"Ayang ihh ngilu, cepetan dong mau ngasih susu gak?"
"Boleh, nih makan aja." Jawab Risya, membuat Brian tersenyum penuh kemenangan.
Pria itu langsung menyibak tengtop Risya dan mengeluarkan buah bulat kenyal itu dari wadahnya dan langsung menyergap puncaknya yang kemerahan, mungkin karena terlalu sering di susu oleh Brian.
......
π·π·π·π·
__ADS_1
Besok Hani sama Bimo deh yaπ€ apa Azwar sama sintia, bumil pakmil baru?ππ