Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 115


__ADS_3

Ke tiga orang itu masih belum selesai dengan keterkejutan mereka masing-masing.


Ica, dia tak pernah menyangka kalau pria yang menjadikan sahabat nya partner ranjang adalah asisten Daddy nya sendiri.


Bimo, pria itu tak teman yang selama ini Gadis nya sebut-sebut adalah Nona muda kekasih bos nya sendiri.


Hani cengo, dia masih belum menduga kenapa Ica dan kekasih nya bisa saling mengenal.


Sedangkan Zen hanya menggelengkan kepala nya, dia sudah menduga ini dari awal. Karena asisten nya itu beberapa kali terciduk sedang berkirim pesan mesra dengan kontak bernama Honey, bahkan dia menambahkan emoticon love berwarna merah.


"Tuan, anda disini?" Sapa Bimo, mencoba menghilangkan suasana canggung yang tercipta dari pertemuan tak terduga ini.


"Harus nya aku yang tanya, kenapa kau disini Bim? Pantas saja kau izin pulang lebih awal, ternyata untuk menghadiri pertemuan penting ini?" Tanya Zen datar, padahal dalam hati dia ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi terkejut ketiga orang itu.


"Lho, kalian sudah saling kenal ya?" Kali ini Hani yang bicara.


"Bimo itu asisten plus sekretaris nya Daddy gue, Han." Jawab Ica menjawab tanda tanya besar di kepala Hani.


"Kok kayak kebetulan gini ya?" Cetus Hani, sedangkan Ica hanya menggelengkan kepala nya. Dia sendiri masih shock saat tau siapa pria yang menjadi partner sahabat nya.


Tapi tak lama, kedua nya kompak tertawa. Biasalah kalau sudah temanan lama, hanya saling lirik saja bisa membuat bengek.


"Lho kok pada ketawa?"


"Lucu aja, selama ini aku pikir siapa pria yang buat sahabat ku ini bucin akut, eehh ternyata orang nya ketemu setiap hari." Jawab Ica masih dengan sisa tawa nya.


"Nama nya juga jodoh kali Bby." Ucap Zen, dia memilih duduk di berdampingan dengan Bimo, sedangkan para gadis, duduk di depan pasangan mereka masing-masing.


"Mesen makan dulu kali ya? Biar gak canggung gini." Hani menganggukan kepala nya pertanda setuju, sedangkan para lelaki memilih diam saja, alasan nya walau mereka tak mau pun pasti akan salah dan menimbulkan masalah besar nanti nya.


Ica memanggil pelayan restoran dan memesan berbagai menu untuk nya sendiri.


"Daddy mau makan apa?" Tanya Ica.


"Steak aja Bby." Jawab Zen, pria itu masih bersikap datar, berbeda dengan Bimo yang sedari tadi menunjukan kecanggungan nya saat melihat Zen.


"Steak nya satu porsi, udah itu saja." Ucap Ica, pelayan itu mengangguk dan pergi dari meja yang Ica duduki.


"Kalian ketemu nya gimana?" Tanya Zen, membuat Bimo tersedak ludah nya sendiri.


Hani juga merona saat mendengar pertanyaan Zen, dia begitu malu jika harus menceritakan pengalaman nya di untit oleh Bimo selama kurang lebih 3 bulanan.


"Daddy, jangan tanya gitu. Kasian tuh assisten Bimo, sampe tersedak gitu."


"Penasaran aja Bby, kok ada yang mau sama pria kayak dia. Udah mah muka nya pas-pasan, datar lagi." Ucap Zen, dia sudah bekerja bersama Bimo bertahun-tahun, jadi dia jelas tau bagaimana karakter Assisten nya itu.

__ADS_1


"Tuan, saya tak sejelek itu. Buktinya Hani mau jadi pacar saya!"


"Pacar ya? Aku dengar waktu itu kan partner ranjang, bukan pacar."


"Ya, itu kan..." Bimo kelimpungan mencari jawaban, dia di landa kegugupan sampai salah tingkah.


"Tak usah di jawab, basi." Celetuk Zen membuat Bimo merasa terpojok.


"Kalau aja aku tau lebih dulu kalau Nona Ica adalah teman nya Honey, mungkin aku takkan disini sekarang." Batin Bimo menggerutu.


"Aku tau kau sedang menggerutu di dalam hati, jadi hentikan dan bicara saja." Sindir Zen tepat sasaran, membuat Ica melirik Hani yang menganga melihat interaksi antara Zen dan Bimo.


"Santai aja Bim, malu atau salting itu kan biasa." Sindir Zen lagi, tapi Bimo memilih bungkam dari pada terpojok lagi.


Tak lama setelah obrolan terakhir, makanan yang mereka pesan datang. Tak tanggung-tanggung, bahkan saking banyak nya hampir memenuhi meja.


"Mukbang Ca."


"Let's go." Jawab Ica semangat, kedua wanita yang satu frekuensi itu memulai acara makan besar nya. Kali ini kedua lelaki yang menganga, ternyata nafsuu makan kedua nya sama-sama bar-bar.


"Pelan-pelan Bby." Peringat Zen, Ica hanya tersenyum manis sebagai jawaban karena pipi nya menggembung.


"Makan mereka hampir sama porsi nya." Gumam Bimo.


"Napa? Gak punya duit buat bayar ya? Tenang, gue yang bayar." Bisik Zen, membuat wajah Bimo berbinar.


"Aku suka saat gadis ku yang memuji ku tampan, tapi mendengar nya dari mulut mu kok berasa geli ya."


"Dad.."


"Ya Bby, kenapa?"


"Makan Dad, biar kuat menghadapi tagihan nanti ya."


"Uang Daddy gak bakal habis cuma bayarin kalian makan." Jawab Zen.


"Kalau begitu sekalian belanja aja tuan." Celetuk Bimo, membuat Zen mendelik.


"Jangan maruk ya jadi assisten, aku sudah cukup baik dengan membayari kau dan perempuan mu makan, malah minta belanja." Sewot Zen membuat Ica terkekeh geli.


"Sudahlah Dad, mungkin Asisten mu itu hanya bercanda, jangan sewot."


"Sebel, udah di kasih bonus mingguan plus bulanan, masih aja minta di belanjain." Ketus Zen, tapi Bimo hanya cengengesan. Dia sudah terbiasa dengan sikap Zen yang seperti ini.


"Setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Zen.

__ADS_1


"Pulang aja, Tuan." Jawab Hani, karena Bimo mogok bicara, mungkin kesal.


"Temenin Ica beli laptop ya, kalian perempuan selera nya hampir sama kan? Aku tunggu disini."


"Gimana Bby kalau beli nya sama Hani aja?"


"Ya jelas Ica mau," Jawab Ica.


"Yaudah sana berangkat, makan nya udah selesai kan?" Ica menganggukan kepala nya dengan cepat.


"Hati-hati ya Bby." Kedua perempuan itu pun pergi dengan saling bergandengan tangan.


"Heh.." Zen menepuk pundak Bimo, membuat assisten nya itu terkejut setengah mati karena sedang melamun.


"Ya ampun tuan, pelan-pelan aja bisa kan?" Protes Bimo sambil mengusap dada nya.


"Kau hutang penjelasan padaku Bimo."


"Penjelasan apa Tuan?"


"Kenapa kau bisa bertemu Hani?" Tanya Zen, membuat Bimo mau tak mau harus menceritakan semua nya dari awal.


Bermula dari dia yang mengunjungi Bar milik mantan teman nya karena jenuh, dia malah di pertemukan dengan Hani, gadis cantik berambut pendek yang berhasil menarik perhatian nya, di pandangan dan pertemuan pertama.


Sejak hari itu, dia akan datang setiap weekend malam ke bar untuk menemui Hani. Dia menawarkan one night stand pada gadis itu, dan siapa sangka ternyata gadis itu masih per*wan saat dia memakai nya pertama kali.


Dia berfikir panjang, dan karena faktor 'ketagihan', jadi dia memutuskan menjadikan nya partner ranjang, padahal itu hanya kedok belaka. Dia sudah jatuh hati pada gadis itu dari awal pertemuan, membuat nya takut gadis itu pergi, jadi dia mengikat nya dengan hubungan yang terasa konyol, tapi beginilah ada nya.


"Kau meniru ku Bim?" Bimo cengengesan.


"Iya tuan."


"Huhh, pantesan wajah mu lebih cerah. Ternyata sudah tau lubang sempit menggigit ya.."


Bimo terkekeh kecil, begitu juga dengan Zen. Inilah hubungan yang jarang tersorot, hubungan pertemanan yang akrab, bukan hanya sekedar hubungan antara bos dan asisten nya.


....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Ide ku gak muncul, kurang hadiah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚



__ADS_1



__ADS_2