
"Permisi, keluarga pasien atas nama Meisya?" Salah satu suster datang mendekat dengan membawa papan berisi kertas-kertas yang entah apa isinya.
"Saya adik ipar nya Sus, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Zen, meski dia tak menyukai Meisya, tapi melihat perubahan yang dia lihat selama beberapa bulan ini membuatnya yakin kalau dia berubah, juga Meisya begini karena menolong istrinya, kalau tidak pasti yang berada di dalam ruangan itu adalah istrinya, yang berjuang untuk nyawa nya sendiri dan juga buah hati mereka, tapi malah Meisya yang mengalami ini. Zen merasa bersalah karena dia malah pergi di saat genting.
"Pasien di nyatakan kritis Tuan, memang donor darah nya tepat waktu, tapi luka itu sangat dalam dan melukai organ vitalnya." Jawab perawat itu, membuat Zen membulatkan kedua mata nya, dia tak menyangka keadaan Meisya akan separah ini.
Arian menunduk, tak terasa air mata nya luruh membasahi wajahnya. Dia terlanjur jatuh cinta pada perempuan berparas cantik itu, tapi kenyataan saat ini terasa sangat memukul mental dan hatinya.
"Lalu, kapan Meisya akan sadar sus?" Kali ini Bimo yang angkat bicara.
"Saya tak bisa mengatakan waktu yang pasti, bisa hitungan hari, minggu atau bulan, kita hanya bisa mendoakan kesembuhan Nona Meisya sekarang."
"Ada beberapa berkas yang harus di tandatangani, silahkan." Ucap suster itu, dia mengulurkan pena ke tangan Zen, juga kertas di atas papan tadi. Zen membubuhkan tanda tangan nya dengan cepat.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu." Pamitnya, lalu pergi menjauh dari ketiga pria yang kompak menundukan kepala mereka.
__ADS_1
Ica dan kedua sahabat nya mendekat, mereka saling melempar pandangan heran saat melihat ketiga pria itu kompak menundukan kepala mereka.
"Kalian kenapa? Apa ada hal yang terjadi?" Tanya Ica, membuat Zen langsung mendongakan kepala nya, dia menatap istrinya dengan nanar, tatapan yang menyiratkan kalau semua nya tak baik-baik saja.
"Ada apa Dad? Bilang sama Ica." Desak Ica, membuat Zen berdiri lalu memeluk sang istri.
"Berjanjilah kamu akan baik-baik saja setelah mendengar semuanya, sayang."
"Tapi apa Dad?"
"Asshhh, Dad.." Ica meringis dengan tangan yang memegangi perut nya.
"Kenapa Bby?"
"Perut Ica sakit Daddy.." Jawab Ica, Zen panik bukan main, kehamilan Ica masih sangat rentan membuatnya takut.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Ica tak sadarkan diri di pelukan Zen.
"Sayang.." Pekik Zen, dia memangku sang istri dan menepuk-nepuk pipi nya, tapi nihil Ica tak sadarkan diri juga.
"Ica.. Dia pasti terpukul mendengar kabar ini, bawa dia ke ruangan perawatan Tuan." Ucap Hani, tak kalah panik nya. Zen berlari dengan Ica dalam pelukan nya, di ikuti Hani dan Risya.
"Ar, Lo disini aja ya? Gue nyusul calon bini dulu," Arian menganggukan kepalanya, dia masih terlalu lemas karena takut jarum suntik dan kebenaran yang baru saja dia dengar dari mulut perawat tadi. Sakit sekali melihat perempuan yang dia cintai dalam keadaan seperti ini, kalau bisa dia akan menukar posisi Meisya, tapi itu kemustahilan, ini sudah takdir.
"Mei, kumohon bertahanlah, aku bahkan belum mengatakan apapun padamu." Gumam Arian, dia mengusap wajah nya dengan kasar. Harusnya dia mengungkapkan perasaan nya, tapi Arian masih berusaha meyakinkan hatinya sendiri, apakah ini cinta atau hanya sekedar rasa ingin melindungi perempuan malang itu.
......
🌷🌷🌷🌷
Aaa meisyaa, cepetan bangun bang Arian nungguin😭
__ADS_1