
Pagi hari ini, suasana yang terasa sangat mencekam bagi pasangan Azwar dan Sintia. Selang satu bulan saja dari hari kelahiran Aarash dan Aarish putra kembar Hani dan Bimo, kini giliran Azwar yang merasakan puncak ke khawatiran, dimana sang istri terus mengeluhkan rasa sakit yang semakin menjadi di bagian bawah perutnya.
Sintia yang biasanya kalem dan tak banyak bicara meskipun keadaan nya sedang sakit, tapi kali ini dia mengerang kesakitan, berarti ini sangat sakit, Azwar juga bisa merasakan nya karena genggaman tangan perempuan itu sangat kuat.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Ucap Azwar, Sintia tak menjawab, dia hanya beberapa kali meringis kesakitan.
"Pak, tolong percepat laju mobilnya." Pinta Azwar, saat ini pasangan itu sedang berada dalam perjalanan ke rumah sakit dengan menggunakan taksi online.
Sang supir langsung mempercepat laju mobilnya, dia juga panik sebenarnya karena dia membawa penumpang yang akan lahiran, alias sedang kontraksi.
Karena ngebut, tak membutuhkan waktu lama taksi itu berhenti tepat di depan rumah sakit. Azwar langsung membantu sang istri, sang supir juga tak bisa diam saja, dia ikut membantu membukakan pintu dan memapah penumpang nya yang sedang dalam kesulitan itu.
Di depan ruangan IGD, kebetulan ada suster yang lewat, Azwar langsung meminta tolong untuk segera menangani istrinya.
"Sus, tolong istri saya." Pinta Azwar, suster itu langsung membantu dengan membawa brankar dorong, Azwar membantu istrinya untuk berbaring lalu membiarkan dulu sang istri di bawa ke dalam ruangan.
"Terimakasih Pak, maaf sudah membuat anda ngebut di jalanan umum."
"Tak apa, Nak." jawab sang supir taksi itu.
"Berapa ongkos nya, Pak?" Tanya Azwar sambil merogoh saku belakang celana bahan nya.
__ADS_1
"Tak usah Nak, anggap saja saya membantu anda yang sedang kesulitan. Saya permisi dulu ya,"
"Tapi pak.."
"Sudahlah, semoga persalinan istrimu di lancarkan ya Nak."
"Terimakasih doanya Pak, semoga kebaikan mu di balas berkali-kali lipat." Pria paruh baya itu tersenyum lalu menganggukan kepalanya, dia langsung pergi dari rumah sakit itu. Azwar tersenyum, dia memang sedang kesulitan ekonomi, entah tabungan nya akan cukup untuk biaya lahiran di rumah sakit atau tidak.
Tapi sebagai langkah untuk berjaga-jaga, dia sudah menghubungi Zen agar bersedia memberi nya pinjaman dulu, tentu saja pria itu tak pernah keberatan jika dia yang meminta tolong, hanya saja dia merasa tak enakan jika terus bergantung pada Zen meskipun pria itu kaya.
Azwar masuk ke dalam ruangan, dia melihat istrinya tengah di cek pembukaan nya dengan cara memasukan tangan ke dalam inti sang istri, melihatnya dia hanya nyengir-nyengir ngeri, bagaimana bisa tangan masuk ke dalam lubang sekecil itu?
degg..
Azwar mematung di tempatnya, inikah saatnya? Mendampingi istri yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka, saksi kalau mereka saling mencintai.
"Mas, kemarilah." pinta Sintia, Azwar langsung mendekat dan membiarkan istrinya memegang sebelah lengan nya, sebelah tangan nya dia gunakan untuk mengusap lembut kepala sang istri, dia tak kuasa menahan tangis nya saat melihat istrinya tengah mengeden dengan sekuat tenaga.
Hingga beberapa menit kemudian, Sintia berhasil melahirkan sepasang anak kembar yang lucu, mungil nan menggemaskan.
"Sayang, kamu hebat. Terimakasih sudah memberiku kebahagiaan yang lebih berharga dari apapun." Ucap Azwar, dia menangis tergugu di atas kepala istrinya.
__ADS_1
"Aku yang lahiran kamu yang nangis, kenapa? sakit?" tanya Sintia.
"A-aku terharu melihat perjuangan mu Sayang, aku minta maaf kalau selama kamu mengandung aku punya salah atau ada keinginan yang tidak terkabul aku minta maaf."
"Sudahlah aku tidak apa-apa Mas, dari dulu wanita memang sudah melahirkan bayi." Jawab Sintia, dia terlihat kalem saat perawat mulai menjahit luka robekan bekas jalan lahir. Malah Azwar yang kembali menangis saat melihat jarum yang seperti kail pancing itu menyentuh kulit sang istri.
"Sakit?" bisik Azwar, Sintia menganggukan kepala nya.
"Kenapa gak berteriak?" tanya nya lagi membuat Sintia terkekeh, padahal dia sedang di jahit tapi bisa-bisa nya dia malah tertawa disaat begini.
"Malu dong Sayang, kalo sakit aku nyubit kamu, biar kamu yang teriak."
"Oke." jawab Azwar, dan benar saja saat Sintia merasakan sakit, dia mencubit lengan suami nya dengan kuat hingga membuat Azwar menjerit kesakitan.
"Aaaaa sakitt .." Teriaknya hingga membuat perawat itu hampir saja terlonjak saking kaget nya. Setelah selesai dengan jeritan nya, dia cengengesan membuat sang perawat ikut nyengir. Ketiga orang di ruangan itu kompak cengengesan karena melihat tingkah Azwar yang nyeleneh, seperti nya Azwar terlalu sering bergaul dengan Brian, jadi nya ketularan nyeleneh.
.....
🌷🌷🌷🌷
Bang Azwar bikin ngakak🤣🤣🤣
__ADS_1