Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 125


__ADS_3

Setelah selesai beberes dan mandi, Hani dan Bimo pergi ke supermarket untuk belanja bulanan.


"Honey.."


"Ya sayang, kenapa?" Tanya Hani, gadis yang tadi nya menatap jendela mobil, kini menatap Bimo.


"Kamu mau kuliah juga? Seperti Nona Ica."


"Mau sih, tapi otak ku ini pas-pasan pasti pusing mikirin materi nya." Jawab Hani.


"Jadi?"


"Aku di rumah aja, layanin kamu."


"Tapi sayang.."


"Aku gak mau yang, lulus SMA aja cukup buat aku."


"Huum baiklah, terserah kamu saja." Pasrah Bimo, tadinya dia ingin memberikan pendidikan yang baik untuk gadis nya.


"Mau beli apa aja nanti?" Tanya Bimo setelah cukup lama hening.


"Aku udah catat semua nya disini." Jawab Hani sambil menunjukan selembar kertas berisi kebutuhan rumah.


"Gadis pintar, aku bahkan gak kepikiran buat list gitu."


"Ya kamu tau sendiri, cewek tuh gimana kalo udah ke supermarket. Niatnya mau beli sabun mandi, ehh nanti malah gak kebeli gara-gara kebanyakan salfok."


"Iya juga sih, kamu salfok nya pasti sama mie instan." Hani cengengesan mendengar ucapan Bimo, dia memang penggemar nomor 1 mie instan.


"Gapapa ya?"


"Iya, beli aja. Tapi makan nya di atur, cukup 2 kali seminggu."


"Oke, makasih sayang."


Singkat nya, mereka pun masuk ke supermarket dan mulai belanja kebutuhan rumah. Makanan dan alat kebersihan, juga cemilan.


"Buah nya tinggal beli anggur sama mangga."


"Gak beli ini yang?" Tanya Bimo sambil menunjuk stroberi, biasa nya gadis nya sangat menyukai buah berwarna merah itu.


"Gak ahh, warna nya masih pink pasti asem."


"Sayang, baca dulu nama nya. Ini stroberi nya emang warna pink."


"Ahh yang bener?" Tanya Hani sambil mengambil satu kap berukuran besar lalu membaca nya.


"Pink Lady? Stroberi kok ada nama nya, tapi emang warna nya pink sesuai nama nya."


"Mau beli?" Tanya Bimo.


"Lihat harga nya sayang, beli yang merah aja disana."


"Beli aja nyobain sayang."


"Masa harga nya 650 ribu sekotak sih, mahal amat. Kalo yang merah udah dapet 4 atau 5 kotak besar."


"Jadi?"


"Nggak ahh, mahal." Jawab Hani kembali meletakan buah stroberi berwarna pink itu.


Tapi diam-diam, Bimo memasukan nya ke dalam troli. Dia tau Hani mau, tapi karena kemahalan jadi dia memilih tidak membeli nya.

__ADS_1



Hani memilih buah lain, dia mengambil stroberi merah beberapa kotak, dia memang menyukai buah itu. Tapi yang berwarna pink? Dia tidak tergoda karena warna nya yang pucat, tidak semenggiurkan yang berwarna merah.


"Sayang, kok ini ada di troly?" Tanya Hani saat melihat stroberi pink yang tadi Bimo masukan.


"Aku ingin coba sayang, enak mana sama yang merah."


"Stroberi ya tetep stroberi mau warna nya hijau pun rasa nya sama aja."


"Pasti ada beda nya, udahh ayo pilih lagi yang kamu mau."


Bagian makanan selesai, tinggal beberapa kebutuhan alat mandi dan kebersihan.


"Yang, aku mau nyoba ganti sabun sama yang ini, boleh?"


"Boleh, tapi beli juga yang biasa. Buat stok aja, siapa tau kamu gak suka wangi yang baru."


Hani mengangguk dan mengambil dua sabun mandi dengan wangi yang berbeda.


"Tinggal pasta gigi sama shampoo."


Bimo dengan setia mengintil di belakang Hani dengan mendorong troly yang sudah hampir penuh.


Hani mengambil barang terakhir itu masing-masing dua botol.


"Selesai, tinggal bayar terus pulang."


"Oke." Bimo pergi mengantri di kasir untuk membayar belanjaan nya, tapi mata Hani kembali salfok dengan cemilan, padahal tadi sudah membeli cukup banyak.


"Satu lagi, gapapa kali ya? Apa dia bakal marah?" Gumam Hani sambil memegang bungkusan cemilan berwarna merah.


"Enggak deh, ngemil buah lebih sehat." Ucap Hani lagi, lalu menyusul Bimo yang ternyata sudah hampir selesai menata barang nya.


"Enggak, lihat-lihat aja."


"Ada yang kelewat sayang?"


"Gak ada sayang." Jawab Hani sambil tersenyum.


"Yang, beli itu yuk?" Tunjuk Bimo pada alat kontrasepsi berwarna merah.


"Isshh jangan malu-maluin, aku udah minum yang semacam itu. Lagian kalo di bungkus pake itu, apa bakal enak?"


"Iya juga sih, yaudah gak usah." Hani memutar mata nya jengah, bagaimana bisa Bimo berpikir untuk membeli barang seperti itu? Konyol dan memalukan.


Hani celingukan, hingga tak sengaja mata nya melihat orang yang tak asing. Dia segera menepuk pundak Bimo, membuat pria itu berbalik menatap nya.


"Apa sayang?" Tanya Bimo.


"Itu tuan Zen kan?" Tunjuk Hani ke arah Zen yang sedang berjalan santai seorang diri, tanpa Ica.


"Iya, tapi kenapa sendirian? Kemana Nona Ica?"


"Lahh aku juga mau nanya gitu, kenapa Ica gak ikut."


"Kamu tanyain sayang.."


"Aku? Mbuhh ahh takut, tatapan nya nyeremin." Jawab Hani.


"Cuma tatapan nya aja, aslinya dia baik. Kita belanja itu bonus bulanan lho yang."


"Aku gak tau, kamu kan asisten nya. Ya kamu aja yang nanya, setidaknya kalau kamu yang kena semprot udah terbiasa."

__ADS_1


"Iya, ini aku bayar dulu." Jawab Bimo akhirnya. Dia membayar belanjaan nya dengan gold card yang dia miliki secara pribadi, meski isi dari kartu itu adalah bonus bulanan dari Zen, sedangkan kartu yang di pegang Hani berisi gaji bulanan nya.


Bimo mendekat ke arah Zen yang kali ini sedang duduk sambil ngopi.


"Tuan.."


"Bimo? Kau disini, ngapain?" Tanya Zen.


"Saya baru saja selesai belanja bulanan bersama Hani tuan," Zen manggut-manggut.


"Tuan sendirian?"


"Iya Bim, nyari udara segar. Mana Hani?"


"Dia ke toilet sebentar tuan." Jawab Bimo.


"Kau tak pegal berdiri terus? Duduk saja Bim." Bimo menurut dan duduk berhadapan dengan Zen.


"Tumben tuan kesini sendirian."


"Ica ngambek, dia sedang datang bulan jadi mood nya anjlok. Aku juga kesini pusing Bim, gak dapet jatah, pusing atas bawah." Keluh Zen sambil memijat kepala nya yang terasa berdenyut.


"Hanya seminggu tuan."


"Seminggu itu 7 hari Bimo, itu lama." Jawab Zen.


"Sebenarnya aku juga baru buka puasa tuan."


"Hah? Sialan, kau memanasi ku ya? Dasar kompor!"


"Jangan ngegas dong, aku juga puasa nya seminggu tuan,"


"2 hari lagi aku ulang tahun Bim, kau ingat rencana kita?" Tanya Zen.


"Tentu tuan, saya sudah menyiapkan nya, beres." Jawab Bimo dengan senyum nya.


"Bagus, aku mau semua nya rapih, tanpa ada yang curiga."


"Serahkan semua nya pada saya tuan."


"Kau memang bisa di andalkan Bim, bulan ini ku tambah bonus mu."


"Wahh terimakasih tuan, anda sangat royal."


"Tentu saja, karena kinerja mu tak perlu di ragukan lagi, tak pernah gagal atau mengecewakan."


"Tuan, bagaimana masalah saham kita yang anjlok karena ulah Albert?"


"Aku sudah menanam saham lagi, atas nama Wenthrisca."


"Nona Ica?"


"Ya, jadi dia punya saham 15% di perusahaan." Jawab Zen.


"Baik tuan."


"Rencana? Rencana apa? Hingga harus rapih," Gumam Hani, sedari tadi dia menguping di balik tembok karena penasaran.


.....


🌷🌷🌷🌷🌷


Rencana apa hayoo? Rahasia, nanti kalian tau sendiri😂

__ADS_1


masih ada vote nganggur? sumbangin kesini😁


__ADS_2