Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 90


__ADS_3

Zen dan Bimo masih kelimpungan mencari Ica, hingga tengah malam pun belum juga menemukan titik terang keberadaan gadis nya.


"Bagaimana ini Bim? Kenapa belum di temukan juga." Zen putus asa, dia bersandar di jok mobil dengan kedua mata yang tertutup rapat. Keringat membasahi dahi nya, dia begitu khawatir karena sang gadis belum juga di temukan.


Kalau saja nomor ponsel yang tadi mengirim poto itu aktif, mereka pasti takkan sesulit ini mencari keberadaan Ica, tapi penjahat itu ternyata lebih cepat dan menonaktifkan nomor nya.


"Sabar tuan, jangan putus asa semua nya sedang bekerja keras menemukan Nona muda." Ucap Bimo, dia belum pernah melihat sang tuan sefrustasi itu.


"Aku harus apa Bim? Aku tak becus menjaga kekasih ku sendiri."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Tuan. Ini bukan sepenuh nya salah anda."


"Bodyguard itu juga tak becus bekerja, bagaimana bisa kecolongan padahal aku membayar nya sangat mahal."


"Ada kala nya mereka lengah tuan, mereka juga hanya manusia biasa."


"Tapi mereka... Ahhhh sialan, kemana aku harus mencari gadis ku Bim?"


Tringg..


Suara notifikasi ponsel dari Zen, membuat pria itu membuka nya.


"Daddy tolong Ica, Ica gak bisa nafas dengan tenang disini, ada banyak pria menakutkan disini, segera datang Dad. Tolong Ica, bawa Ica pulang." Pesan dari nomor tak di kenal, yang Zen yakini itu pesan dari gadis nya.


"Berhenti Bim, cepat lacak nomor ini sebelum tak aktif lagi."


Bimo segera menghentikan mobil nya di pinggir jalan, lalu mulai melakukan tugas dari tuan nya dengan cepat.


....


Ica bergidik ngeri saat mendengar derap langkah yang mendekat ke arah nya. Ruangan yang gelap nan pengap, entah dimana tapi dia yakin ini bukan tempat yang sehat. Malah terlihat seperti markas mafia versi novel-novel online.


"Ternyata Nona muda kesayangan Zen sudah bangun dari tidur nyenyak nya? Selamat datang ke markas ku."


"Pantas saja Zen mau memelihara mu sebagai simpanan nya, kau sangat cantik dan menggoda." Ucap nya, bahkan tangan menjijikan nya mulai nakal menyentuh wajah mulus Ica.


Ica meludah ke arah pria itu, dia tak sudi di sentuh oleh tangan kotor pria itu.


Tapi, pria itu tersulut amarah dan refleks menampar pipi mulus Ica hingga membuat nya meringis.


"Berani sekali kau meludah ke arah ku, lancang sekali." Pekik pria itu, membuat Ica mendelik.


"Setelah Daddy datang, dia pasti takkan membiarkan mu hidup tenang!"


"Mana? Mana pria itu hah? Dia takkan datang asal kau tau! Kau hanya di manfaatkan untuk menjadi pemuas nafsuu nya saja tak lebih, jadi jangan berharap banyak pada pria itu!"

__ADS_1


"Cihhh, Daddy sangat mencintai ku, sangat!" Tegas Ica, membuat pria itu tertawa menjijikan.


"Gadis kecil simpanan tuan Azzendra ternyata tak punya tatakrama!" Suara seseorang yang terdengar tak asing.


Seorang perempuan datang dengan langkah angkuh nya, tangan nya bersedekap dada, gaun nya sangat mini hingga hampir menampakan seluruh paha mulus nya, siapa lagi kalau bukan Rosa, dalang dari penculikan ini.


"Ternyata kau, seperti nya kau sangat menyukai ku ya?"


"Suka? Aku malah membenci mu, sangat!" Ica tersenyum mendengar ucapan wanita itu.


"Kalau memang kau tak menyukai ku, harus nya kau tak banyak membuat masalah dengan ku kan?"


"Gadis menyebalkan.."


Plakk..


Wanita itu menampar pipi kiri Ica cukup keras hingga ujung bibir nya mengeluarkan darah.


"Itu balasan untuk tamparan waktu itu."


"Nyali mu sangat kecil ternyata, berani membalas tapi saat tak ada Daddy." Jawab Ica, gadis itu masih bisa tersenyum setelah dua kali di tampar oleh tangan-tangan kotor itu.


"Sudah lah Ros, biarkan saja. Lagi pun Zen takkan pernah menemukan gadis itu, lebih baik kita bersenang-senang dulu."


"Baiklah, ayo.." Rosa langsung menggelayut manja di lengan pria itu, membuat Ica bergidik.


"Awwhhss, tapi tamparan nya sakit juga." Ica meringis saat bicara bibir nya terasa sakit.


Ica mengedarkan pandangan nya ke sekeliling tempat yang sedang dia tempati ini, selain gelap dan pengap, banyak hewan-hewan melata dan berbagai macam serangga.


Untung saja Ica bukan tipe gadis yang takut serangga, dia cenderung berani melawan bahkan membunuh nya jika serangga itu menampakan dirinya.


"Dad, Daddy dimana? Ica ketakutan disini, cepat datang Dad." Gumam Ica, meski dia mampu melawan ucapan dua kecoa terbang itu, tapi dalam hati tetap saja dia gadis yang mempunyai rasa takut.


"Maafin Ica ya Dad, entah nanti Ica bakal bisa nemenin Daddy atau nggak, tapi Ica sayang sama Daddy."


...


"Dadaku sesak lagi Bim, Aarrrgghh.." Zen meringis kesakitan sambil memegangi dada nya yang kembali terasa nyeri.


"Kata saya tadi, sebaiknya di periksa ke dokter dulu."


"Diam lah, berikan aku air cepat!" Bimo ketar ketir sendiri, dia keluar mobil dan mencari warung yang menjual air mineral.


Tak lama, pria itu sudah kembali dengan dua botol air mineral dan meminum nya dengan sekali tegukan, padahal botol nya cukup besar.

__ADS_1


"Gadis ku pasti kesakitan disana Bim, dia pasti sedang ketakutan sekarang."


Sudah terjalin ikatan batin antara Ica dan Zen, saat Ica merasa kesakitan, Zen juga akan merasakan hal yang sama. Bahkan saat Ica tak sadarkan diri, pria itu merasakan sesak di dada nya.


"Sudah lebih baik? Kita lanjut?"


"Lanjutkan saja Bim, aku takkan tenang sebelum melihat keadaan gadis ku baik-baik saja!" Tegas Zen, tapi pria itu masih memegangi dada nya.


Bimo kembali melajukan mobil nya, mencari ke tempat-tempat yang memiliki kemungkinan terbesar tempat Nona muda di sekap oleh penjahat itu.


Dreettt.. Dreett..


Bimo menepikan mobil nya dan memeriksa ponsel nya, panggilan dari salah satu anak buah Zen yang dia tugaskan melacak nomor tadi.


"....."


"Baik, aku kesana sekarang!"


"Apa Bim?" Tanya Zen pelan.


"Lokasi di temukan Tuan, kita kesana sekarang."


"Bagus, ternyata mereka masih bisa di andalkan."


Bimo segera melajukan kembali mobil nya, dia tak mau membuang-buang waktu dan membuat Nona muda nya dalam bahaya.


....


Kedua orang laknat itu tengah bersenang-senang di salah satu ruangan yang ada di bangunan tua itu, meski temaram dan ranjang yang sudah reot tak menyurutkan semangat mereka untuk berpacu dengan tubuh yang berkeringat.


Desahaan dan bunyi ciplakan yang begitu jelas terdengar memenuhi ruangan.


"Aahhh, cepat Bee.." Racau Jack saat wanita itu bergerak di pangkuan nya, pria itu bahkan terus memegangi pinggang wanita itu, membantu nya bergerak lebih cepat.


"Aaarrggghhh..." Pekik nya saat lahar panas menyembur membanjiri inti wanita itu.


"Kau selalu saja meledak di dalam."


"Memang nya kenapa Bee? Rasanya enak, milik mu berkedut nikmat."


"Diamlah, aku berantakan jika kau meledak di dalam. Menyebalkan!" Ketus wanita itu lalu turun dari pangkuan Jack dan membersihkan inti tubuh nya dengan tissu yang tersedia di meja.


...


🌷🌷🌷

__ADS_1


Sempet-sempetnya bercocok tanam, dasar🙄


__ADS_2