
"Brii.."
"Apa hah? Lu gak tau atau pura-pura gak tau kelakuan bejatt kakak Lo itu?"
"Oke, gue tau Bri gue tau semua nya. Tapi gue gak berani bilang ke Ica kalau gue adik nya kak Rosa,"
"Napa? Itu karena Lo takut kan?" Risya menganggukan kepala nya.
"Iya, gue takut Bri. Gue takut Tuan Zen gak ngizinin gue temenan lagi sama Ica, dan gue takut Ica jauhin gue, Bri. Gue gak sanggup kalo Ica ngebenci gue, buat kejahatan yang udah kakak gue perbuat." Air mata Risya luruh sudah, dia tak menyangka hal yang selama ini dia tutup-tutupi akhirnya terbongkar juga.
"Percaya sama gue, Ica bukan tipe cewek yang bakal jauhin seseorang tanpa alasan."
"Tapi gue punya alasan yang jelas, Bri. Gue takut, gue gak bisa kehilangan temen sebaik Ica." Lirih Risya, gadis itu menangis terisak.
"Gak usah nangis Lo, seandainya aja gue tau lebih awal, gue gak bakal mau temenan sama Lo tau gak?"
"Kenapa Bri? Apa salah gue? Kalo bisa milih, gue juga gak mau lahir ke dunia ini, apalagi cuma anak yang gak di harapkan!" Pecah sudah tangis Risya.
"Kalo Lo emang gak mau temenan sama gue, it's oke, fine. Silahkan pergi, tapi gue mohon jangan beri tahu Ica dulu sebelum gue siap."
"Sampai kapan Lo mau nyembunyiin fakta kalo Lo itu adik dari pelakor itu hmm? Lu tau sendiri kan, gimana jahat nya kakak Lo sama Ica?"
"Gue tau Bri, dan itu yang bikin gue takut buat buka identitas gue sebenarnya, gue takut Tuan Zen larang gue temenan lagi sama Ica." Jawab Risya lirih.
"Sekarang Lo mau apa?"
"Gue masih belum siap ngasih tau Ica kalau gue adik nya Rosa,"
"Sampai kapan?" Tanya Brian lagi, dia akhirnya luluh juga, dia tak tega melihat Risya menangis. Lagi pun Risya tak ikut campur dengan kejahatan kakak nya, dia juga tak menyakiti Ica.
"Gue gak tau, Bri. Rasanya takut aja Ica ngejauh, padahal gue gak ada hubungan apa-apa sama kejahatan yang udah kakak gue lakuin."
"Gue gak bisa bantu, Daddy nya Ica pasti udah nyari informasi jauh sebelum gue tau kebenaran ini, gue yakin Daddy nya Ica gak bakal diam aja saat Ica punya temen baru."
"Gue pasrah aja, kalau pun iya si Daddy gak ngizinin gue temenan lagi sama Ica, yang penting Ica gak benci gue." Jawab Risya.
"Lu tau udah lama kan?" Risya mengangguk dan mulai menceritakan semua nya.
Flashback On.
Risya tengah beberes di kamar kakak nya saat tak sengaja dia menemukan sebuah bingkai foto yang ada di bawah kasur kakak nya.
Risya penasaran dan melihat nya, dia membulatkan mata nya saat melihat siapa pria yang ada di dalam figura itu.
__ADS_1
"Ini kan Daddy nya Ica?" Gumam nya sambil memastikan kalau itu benar-benar Zen.
"Apa hubungan Kak Rosa sama Daddy nya Ica?"
Tak lama, Rosa pulang dengan keadaan mabuk parah, entah dengan siapa wanita itu pulang, yang jelas wanita itu pasti tak menyetir sendiri.
"Kakak mabuk lagi?" Sambut Risya, tapi Rosa buru-buru menghempas tangan nya dengan kasar.
"Jangan pernah sentuh aku, bab* gendut!" Ketus Wanita itu, tapi Risya tak merasa sakit hati meski di katai sekasar itu, dia sudah sangat terbiasa dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut kakak kandung nya itu.
Risya keluar dari kamar Rosa, dia tak tahan saat menghirup aroma alkohol yang menguar dari mulut kakak nya.
....
Malam hari nya, Risya menunggu di meja makan untuk sekedar makan malam bersama, sekaligus dia ingin tau hubungan antara kakak nya dan Zen, Daddy nya Ica.
Tak lama, wanita itu keluar dengan berjalan sempoyongan, mungkin efek minuman itu masih tertinggal.
"Malam kak." Wanita itu hanya mendelik tanpa menjawab.
"Masakan apa ini? Kau becus memasak atau tidak?" Risya tak menjawab, entah apa kesalahan nya di masa lalu hingga membuat kakak nya begitu membenci nya.
"Ada hubungan apa antara Kakak dan tuan Zen?" Tanya Risya.
"Aku menemukan bingkai poto di kamar kakak tadi."
"Zen mantan pacarku, kau mau apa hah?" Ketus Rosa.
"J-adi mantan yang kakak kejar sekarang adalah tuan Zen?"
"Memang nya kenapa?"
"Tapi setauku Tuan Zen sudah punya pasangan kan?"
"Hanya gadis kecil, tidak seberapa. Aku masih lebih baik di banding gadis itu." Jawab Rosa membanggakan diri.
"Apa kakak tak laku? Sampai mengejar pria yang sudah tak mau dengan kakak?" Tanya Risya, membuat Rosa marah dan menggebrak meja dengan keras, hingga membuat Risya terlonjak kaget.
"Siapa yang butuh cinta pria itu? Aku hanya butuh uang nya saja,"
"Kak, tak baik memanfaatkan orang lain." Peringat Risya.
"Kau diam saja, tak perlu ikut campur. Aku akan buktikan kalau aku mampu merebut Zen dan membuat nya bertekuk lutut padaku, lihat saja!"
__ADS_1
Rosa pergi dari hadapan adik nya dengan langkah angkuh nya, meninggalkan Risya yang terdiam mencerna semua ucapan kakak nya sendiri.
"Ohh tidak, apa yang akan di lakukan kakak? Ya tuhan, lindungi Ica."
Sejak hari itu, Rosa jarang pulang entah tinggal dimana, kalau pun pulang hanya tidur dan mandi, setelah nya dia pergi lagi, membuat Risya terbiasa dengan kesendirian.
Dan puncak nya, sudah dua hari ini nomor nya tak bisa di hubungi, dan dia baru tau kalau kakak nya adalah dalang dari penculikan Ica, bahkan wanita itu berani melukai sahabat nya.
Dia shock saat tau dari Hani, bahkan dia tak bisa tidur semalaman waktu itu. Dia khawatir dan hati nya di penuhi rasa bersalah pada Ica.
Flashback Off.
"Ica tau Lo punya kakak?"
"Ya, dia pernah ketemu sekali. Cuma waktu itu kakak gue habis di operasi, jadi wajah nya di perban, belum lagi dia pakai masker." Jawab Risya pelan.
"Terus?"
"Dia mungkin gak tau kalau kakak gue itu Rosa, tapi gue gak jamin kalau tuan Zen juga gak tau siapa gue."
"Apa Rosa tau kalau saingan nya itu temen Lu?" Risya menggelengkan kepala nya, berarti wanita itu tidak tau kalau Ica adalah teman nya Risya.
"Gue nyaranin Lu harus ngasih tau Ica secepatnya, jangan biarin dia salah paham, Lu ngerti kan maksud gue?" Tanya Brian, Risya menganggukan kepala nya.
"Cepetan siap-siap sono, bentar lagi kita ke pasar malam kan? Kasian Ica kalo gak jadi."
"Makasih ya Bri."
"Gue gak bisa bantu banyak, tapi gue bisa bantu sebisa gue aja." Risya mendongak menatap wajah tampan Brian, dia tak menyangka ternyata pria pecicilan dan menyebalkan itu bisa bersikap bijak.
"Malah bengong, cepetan sana. Gak baik cewek sama cowok di rumah berduaan, takut jadi fitnah."
"Iya, bentar bawel." Risya pergi dari depan Brian, meninggalkan pria itu sendirian di ruang tamu.
Dia tak menyangka akan mengetahui sebuah kebenaran dan rahasia besar tanpa sengaja.
"Rumit gini ya?" Gumam Brian sambil mengacak rambut nya.
....
🌷🌷🌷
Jan ngambek kalo garing😪 lupa ngerendem otak semalem🤣
__ADS_1
Masih hari selasa, jangan lupa Vote!