
'Ada apa dengan resepsi pernikahan ku? Sepertinya waktu sangat menolak aku mengadakan pesta.' Batin Zen, pesta resepsi nya berubah menjadi bencana. Bukan karena tragedi Meisya saja, ada tragedi yang lain menimpa klien bisnis nya. Sekretaris Danish yang bernama Riana pingsan, dan alasan nya adalah ada pria-pria tak tau diri, tak tau malu datang menggoda nya.
Tentu saja Danish sangat marah, mengingat Riana adalah sekretaris yang paling dekat dengannya, dia juga baru tahu kalau perempuan muda itu merangkap sebagai asisten pribadi Danish juga.
Itu membuatnya sangat malu, bagaimana bisa perempuan itu di permalukan di pesta nya, itu alasan kenapa dia lama mengambil makanan untuk sang istri, tapi saat kembali pelaminan itu berubah menjadi bencana di penuhi darah. Sial memang, pembuat onar itu ternyata masih punya muka untuk hadir di acaranya, lebih tepatnya untuk mengacaukan pesta yang dia buat.
"Daddy, kenapa bengong aja? Ayo turun, sudah sampai." Ucap Ica, bahkan ibu hamil itu masih memakai gaun pernikahan yang ribet nya bukan main, belum lagi ekor gaun nya yang membuat Ica tak bisa leluasa bergerak.
"Aduh Dad, baju nya ribet deh." Keluh Ica membuat Zen langsung gerak cepat memanggil Bimo.
"Bim, belikan pakaian untuk Ica ya? Tapi jangan celana jeans. Dress saja, ini uang nya." Bimo mengerti dan langsung pergi mencari dress untuk Ica.
Arian berdiri saat melihat rombongan Zen, dia membungkukan setengah badan nya hormat kepada Zen selaku atasan Arian.
"Bagaimana Meisya, Ar?" Tanya Zen.
"Luka nya dalam Tuan, dokter masih berusaha menolong nya." Jawab Arian pelan, mendengar itu pecah sudah tangis Ica, dia menangis pilu, bahkan tubuhnya hampir limbung tak mampu menahan berat tubuhnya, beruntung saja Zen segera menahan tubuh sang istri.
__ADS_1
"Kuatlah Bby, Mei pasti baik-baik saja."
"Ini semua karena aku Dad, Ibu membenci aku, bukan kak Mei atau kak Azwar, ini semua karena aku."
"Dek, ini bukan kesalahan mu sayang. Berhenti menyalahkan diri sendiri," Azwar datang dan mengambil alih Ica dari pelukan suaminya. Ica menangis tersedu di pelukan Azwar, kalau saja Meisya tak mendorongnya pasti dia yang saat ini dalam keadaan ini sekarang.
"Kalau saja kak Mei tak menyelamatkan aku, ini semua takkan terjadi kak, aku yang salah disini." Azwar tak menjawab, dia hanya memeluk Ica dan mengusap lembut kepalanya.
Zen pun tak bisa berkutik, meski sebenarnya dia ingin marah melihat istrinya di peluk pria lain, kalau situasi nya tidak begini pasti dia sudah marah.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya Azwar dengan wajah panik nya, begitu juga yang lain termasuk Arian.
"Luka Nona sangat dalam dan ternyata setelah saya teliti lebih lanjut, sepertinya pisau itu sudah di lumuri racun terlebih dahulu. Dengan terpaksa, kami harus mengangkat rahim Nona Meisya, karena rahim nya robek."
Jederr..
Arian mematung, sedangkan Ica menangis semakin keras saja di pelukan Zen. Azwar shock hingga limbung tak sadarkan diri, mengetahui fakta yang begitu menyakitkan menimpa adik nya? Kakak yang mana yang akan kuat menghadapi kenyataan pahit ini? Entah akan seperti apa histeris nya Meisya nanti setelah dia sadar kalau dia tak memiliki rahim lagi.
__ADS_1
"Nona juga kehilangan banyak darah, jadi harus segera mendapatkan donor golongan AB+."
"Darah saya sama dok, saya yang akan menjadi pendonornya." Ucap Arian, membuat Zen menganga. Setaunya Arian takut jarum suntik, tapi sekarang dia mengambil langkah berani dengan mendonorkan darahnya untuk Meisya.
"Baik, mari ikut saya." Arian mengekor di belakang dokter itu. Meninggalkan yang lain di luar ruang perawatan.
"Sebenci itukah Ibu sama Ica Bu? Sampai ingin membunuh Ica? Ica salah apa sebenarnya sama Ibu." Gumam Ica, dia tak mengerti kenapa ibu tirinya itu sangat membenci nya? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat memangnya?
Zen memeluk Ica, mendengar beberapa fakta menyakitkan membuat mental istrinya cukup terganggu, apalagi keadaan nya sekarang sedang hamil muda, pasti dia tertekan juga merasa bersalah pada Meisya yang sudah menolong nya dan membiarkan dirinya sendiri terluka.
"Kak Meii, maafin Ica."
.....
🌷🌷🌷
mewek gak? mewek dong😭😭😭
__ADS_1