Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 83


__ADS_3

"Kita bertemu lagi.." Sapa seseorang, membuat sang perempuan merinding, bahkan hanya karena mendengar suara berat nya.


"Ya tuan, suatu kebetulan."


"Bukan kebetulan, kau memang di takdirkan untuk ku. Bisa kita bicara empat mata? Disini terlalu bising." Ucap Pria itu serius.


"Tapi saya sedang bekerja, tuan."


"Tak masalah, seperti biasa aku sudah mengizinkan mu pada manager bar ini."


"Baiklah, saya berganti pakaian dulu." Pamit Hani lalu pergi ke ruang ganti khusus karyawan.


"Wihh layanin tamu VIP lagi nih, Han?" Tanya rekan kerja Hani saat melihat Hani berganti pakaian.


"Maksudnya?"


"Pria yang udah beberapa kali bawa kamu itu pelanggan VIP, biasa nya dia kesini cuma minum sampa teler, tapi sekarang dia selalu bawa kamu, Han."


"A-aku?"


"Iya kamu, gak ngerasa gitu? Pria itu tertarik nya cuma sama kamu doang, Han. Kamu beruntung banget, kalau pun kamu jual keperawanann kamu sama dia, pasti dia berani bayar gede."


"Mungkin hanya kebetulan saja, aku permisi ya." Hani buru-buru pergi, dia tak mau di tanyai lebih banyak lagi. Bagaimana kalau orang lain tau dia melakukan moment pertama nya dengan pria itu?


Hani mendekati pria itu, setelah acara sahabat nya selesai dan memastikan bahwa dia menang, dia langsung pulang karena harus bekerja tapi belum setengah nya dia kembali di temui oleh pria yang sudah meniduri nya 3 kali.


"Sudah siap?" Hani hanya menjawab nya dengan anggukan, tapi siapa sangka tangan besar pria itu menggenggam erat tangan mungil nya, membuat Hani gugup.


"Tangan mu dingin dan basah, kau gugup? Ayolah, ini ketiga kali nya kita bertemu."


"Ti-dak, hanya saja.."


"Jangan menyangkal, mari pergi.." Pria itu menarik tangan Hani menjauhi tempat nya bekerja.


Pria itu membukakan pintu untuk Hani, membuat nya serasa di perlakukan istimewa. Tapi dia langsung tersadar kalau pria ini mungkin hanya menginginkan tubuh nya saja, jadi berhenti lah berharap terlalu banyak.


"Sudah makan? Kita takkan ke hotel di pertemuan ke tiga ini, aku hanya ingin kita bicara."


"Lalu? Apa ini pembicaraan penting hingga harus membawa ku pergi dari tempat kerja, Tuan?"


"Aku rasa cukup penting, jadi sudah makan belum?" Hani menggelengkan kepala nya pelan.


"Kita makan di resto xxx, disana makanan nya banyak." Tanpa menunggu jawaban dari gadis di samping nya, pria itu sudah menancap gas mengemudikan mobil itu menjauhi bar.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang akan pria ini bicarakan, nampak serius sekali. Tapi, dia malah terlihat sangat tampan, ohh god jauhkan pikiran-pikiran mesoom dari otak ku!" Rutuk Hani di dalam hati.


"Kau selalu tegang jika bertemu dengan ku, ada apa? Apa aku menakutkan?"


"Ti-tidak tuan, a-aku hanya.."


"Tak perlu menyangkal, aku bisa melihat nya sendiri." Jawab pria itu memotong perkataan Hani.


"Kalau tau kenapa tanya?" Gumam Hani, tapi masih terdengar di telinga pria itu.


"Aku memang tau, tapi tak tau alasan nya. Itu saja, apa karena takut atau ada alasan lain."


Hani mematung, tak sangka gumaman nya terdengar oleh pria itu.


....


Mobil berhenti tepat di depan restoran berbintang, Hani tak pernah kesini sebelum nya. Satu menu nya saja di hargai satu bulan gaji nya, saking mahal nya, entah apa yang membuat makanan itu semahal ini, mungkin wajan yang di pakai memasak menu nya terbuat dari berlian murni.


Pria itu menarik tangan Hani, membawa nya masuk ke dalam resto itu.


Pria itu membawa Hani duduk di kursi dekat jendela, jadi pemandangan jalanan malam begitu terlihat jelas dari sini.


"Mau makan apa?"


"Ayolah, disini mana ada seblak. Adanya steak wagyu A5, mau?"


"Terserah lah, samain aja. Aku mana tau makanan orang kaya." Jawab Hani, mata nya terus celingukan melihat suasana restoran yang cukup ramai.


Setelah selesai memesan, sambil menunggu makanan datang, Pria itu membuka obrolan terlebih dahulu.


"Kau suka restoran ini?"


"Suka sih, tapi makanan nya mahal-mahal. Aku kalo punya uang lebih baik di tabung, makan mah di pinggir jalan aja." Jawab Hani.


"Jadi, tuan mau bicara apa?"


"Seperti yang kamu tau, kita sudah dua kali tidur bersama dan semenjak itu aku selalu terbayang tubuh mu, aku memang mesoom. Jadi, aku ingin menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar one night stand."


"Apa itu? Apa sugar baby atau semacam nya?"


"Aku tidak setua itu untuk mempunyai sugar baby, usia ku masih 29 tahun. Jadi apa hubungan yang tepat? Mungkin partner ranjang." Ucap pria itu tenang.


"Apa keuntungan yang bisa aku dapat dari hubungan ini?"

__ADS_1


"Aku akan membiayai seluruh kebutuhan mu, termasuk tempat tinggal yang layak. Kita akan tinggal bersama dalam satu atap, bagaimana?"


"Atau jika kau beruntung, bisa saja aku malah jatuh cinta pada mu dan menjadikan mu istri."


Hani mendongakan kepala nya saat pria itu menyebut 'istri'.


"Jika tuan sudah bosan maka apa yang akan tuan lakukan?"


"Bosan itu manusiawi, Nona. Makanya, buat aku jatuh cinta, jadi kau tak perlu bersusah payah membayangkan kehidupan setelah lepas dari hubungan ini, bagaimana jawaban mu?"


"Pikirkan baik-baik, aku yang sudah mengambil kesucian mu." Ucap pria itu membuat Hani berpikir keras.


"Bagaimana dengan pekerjaan?"


"Kau tak perlu bekerja, biar aku yang bekerja untuk mu, cukup layani aku di rumah."


"Baiklah, aku mau." Jawab Hani, bukan dia tak berpikir panjang. Tapi benar juga apa yang di katakan pria itu, dia yang sudah merenggut kesucian nya, meski dia dengan suka rela memberikan nya, tapi tetap saja pria itu yang pertama melakukan nya.


"Jawaban yang sangat memuaskan, besok akan ada orang yang menjemput mu, jadi berkemas lah kau pindah ke apartemen ku besok."


"Besok?"


"Ya, atau kau tak sabar dan ingin pindah malam ini juga? Bisa saja, aku tak keberatan."


"Baiklah, besok saja." Jawab Hani.


....


"Kemana lagi aku harus mencari mu Ca, sudah seminggu tapi hasilnya nihil." Gumam Azwar, pria itu akhirnya memilih mengontrak di tempat yang dari awal dia tempati.


"Kamu baik-baik saja kan, Ca? Kakak kangen."


Azwar Mahesa, kakak tiri pertama Ica. Orang yang baik dan penyayang, tak pernah membeda-bedakan antara Ica dan Meisya, tapi selalu saja Meisya iri pada Ica padahal barang yang dia berikan itu sama.


Ketidak sukaan Meisya pada Ica sudah terjadi dari awal, saat Meisya berusia 15 tahun dan Ica yang baru berusia 13 tahun, Meisya sering memperlakukan Ica bagai pembantu dan setelah kepergian ayah nya, kedua wanita itu semakin kompak menyiksa Ica.


Hingga puncak nya, Ica pernah di pukul sapu hingga tak sadarkan diri seharian dan Azwar malah pergi kuliah ke luar kota karena mendapat beasiswa, entah apa yang gadis itu alami selama dia tak ada.


"Kakak takkan menyerah sebelum menemukan mu, Ca."


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Ramein lagi ya, maaf kemaren yang nanyain Bimo sama Hani, itu udah ya. Tinggal Nyari jodoh buat bang Bri😂


__ADS_2