
Zen sampai di tempat yang menurut anak buah nya adalah lokasi penyekapan gadis nya, sudah banyak mobil yang terparkir sembarang tak jauh dari lokasi.
"Selamat datang tuan.." Sapa mereka dengan setengah badan yang membungkuk.
"Kalian yakin ini tempat nya?"
"Kami yakin tuan, dan ya Nona Rosa ada disini." Jawab salah satu anak buah Zen, membuat pria itu menggeretakan gigi nya menahan amarah, kedua tangan nya terkepal kuat.
"Rupanya wanita itu dalang dari semua ini, sialan!"
"Tunggu apa lagi? Cepatlah, gadis ku pasti ketakutan di dalam." Perintah Zen, mereka pun serentak pergi menyusup ke dalam.
Ternyata penjagaan di dalam bangunan itu cukup ketat, dengan beberapa bodyguard bersenjata yang berjejer rapi berjaga di depan sebuah ruangan.
"Kalian habisi mereka semua, aku yakin gadis ku pasti di dalam ruangan itu, aku akan menyelamatkan Ica ku."
"Baik Tuan.." Mereka pun mulai bergerak, hingga adegan tembak menembak pun tak dapat di hindari.
Rosa dan Jack yang sedang tertidur lelap pun terbangun karena kebisingan yang di timbulkan dari kontak senjata itu.
"Ada apa ini Jack?" Tanya Rosa panik.
"Aku tak tau Bee, kan aku tidur bersama mu." Jawab Jack, dia segera meraih pakaian nya, begitu pun juga dengan Rosa, memakai nya dengan tergesa. Tapi terlambat sudah, pintu di dobrak paksa oleh anak buah Zen.
Kedua dalang kejahatan itu di seret paksa oleh anak buah Zen dengan kasar, dan menghempaskan kedua nya di depan Bimo.
....
Zen berhasil mengalahkan penjaga dan segera membuka pintu dengan cepat.
"Baby.." Panggil Zen dengan nafas yang terengah-engah.
"Daddy.." Ica tersenyum manis saat melihat pahlawan nya datang, dia yakin pria itu akan datang dan itu benar terjadi, pria itu datang di saat yang tepat.
Zen melangkah pelan mendekati gadis nya yang masih terduduk di kursi dengan kedua tangan dan kaki yang terikat.
Sreettt...
"Aarrrggghhhh, Daddy.." Lengan Ica di sayat pisau hingga mengucurkan darah segar.
"Ini gadis mu Zen? Sayang sekali, aku sudah membuat nya terluka." Rosa memegang pisau lipat, yang di hiasi darah segar milik Ica.
Rupanya wanita itu berhasil kabur dari Bimo dengan mengelabui penjaga, membuat wanita itu segera berlari dan melukai gadis yang teramat dia benci.
"Kau marah Zen? Hahaha, ini belum seberapa dengan kebencian yang aku rasakan pada wanita ini." Wanita itu tertawa angkuh membuat Zen semakin tersulut emosi. Dia mengeluarkan senjata terakhir nya, pria itu mengeluarkan senjata api dari saku jas nya.
Pria itu membidik tepat di kepala Rosa, membuat wanita itu gelagapan sendiri.
"Zenn, jangan lakukan ini."
"Kenapa? Kau bisa melukai Ica ku tapi kau tau mau di balas? Mau mati sekarang atau aku beri hukuman dulu?" Zen memberi penawaran yang tak bisa dia pilih salah satu nya.
__ADS_1
Rosa menelan ludah nya kasar, entah hukuman apa yang akan dia terima karena sudah melukai gadis kesayangan tuan muda Azzendra.
Tak lama, anak buah Zen datang lalu menangkap wanita biang rusuh itu. Kali ini mereka lebih waspada dari sebelumnya, mereka langsung mengikat tangan dan kaki Rosa, membuat wanita itu berontak tak terima.
"Bawa jal*ng ini ke markas, berikan pelayanan terbaik. Biarkan dia menginap dengan Jerry!"
"Baik tuan."
"Tunggu, siapa itu Jerry?" Masih sempat-sempatnya wanita itu bertanya.
"Harimau benggala peliharaan ku, kau pasti senang bertemu dengan nya."
Wanita itu sontak memekik kuat dan meronta dari cekalan tangan anak buah Zen, tapi tak semudah itu.
"Baby.." Zen menepuk pelan pipi gadis nya.
"Dad, sa-kit.." Jawab Ica terbata.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang, bertahan lah untuk ku." Zen segera membuka semua tali yang mengikat tubuh gadis nya, lalu menggendong Ica.
"Bim, cepat siapkan mobil. Gadis ku butuh dokter!" Teriak Zen, membuat Bimo yang sedang memerhatikan kedua biang rusuh itu, segera berbalik dan melakukan perintah Zen, sebelum pria itu marah besar.
"Ngebut Bim, cepat.." Perintah Zen, dan Bimo menurut, dia menginjak pedal gas sebisa mungkin agar lebih cepat sampai.
...
20 menit perjalanan, akhirnya kedua nya sampai di rumah sakit. Zen buru-buru keluar Ica di dalam pelukan nya, bahkan kemeja putih nya sudah di penuhi noda merah darah dari lengan gadis nya.
"Mari tuan, baringkan Nona di brankar." Zen melepaskan pelukan nya dan membiarkan Ica di bawa ke dalam ruangan UGD.
"Tuan, saya permisi dulu sebentar." Pamit Bimo.
"Kemana Bim? Kau membiarkan aku sendiri dalam keadaan begini?"
"Saya hanya akan membeli kemeja tuan, itu kotor dengan darah Nona muda."
Zen baru memperhatikan penampilan nya yang sangat jauh dari kata rapih, bahkan rambut nya saja sudah hancur berantakan.
"Jangan lama Bim." Bimo hanya menganggukkan kepala nya mengiyakan tanpa menjawab.
Zen mendudukan tubuh nya di kursi tunggu, hari sudah mulai pagi. Mencari gadis nya membutuhkan waktu semalaman.
Zen menutup wajah nya, bayangan saat Ica meringis kesakitan terus terbayang dalam ingatan nya.
"Baby, maaf Daddy gagal menjaga mu." Gumam Zen, raut wajah nya sendu.
...
Di kampus, Risya sering melamun. Dia selalu teringat Ica, hingga tak nyenyak tidur.
"Ica gimana keadaan nya?"
__ADS_1
"Emang nya Ica kenapa, Sya?" Tanya Brian, pria itu akhir-akhir ini mepet Risya. Mungkin pindah haluan dari Ica ke Risya, setelah sadar kalau lawan nya bukan pria sembarangan.
"Ica di culik Bri, gak tau udah di temuin apa belum." Keluh Risya.
"Telpon Daddy nya Ica, Sya."
"Takut Bri, Daddy nya Ica nyeremin."
"Terus? Gimana mau dapet info Ica udah ketemu apa belum, Sya?"
"Aku punya nomor sekretaris nya, aku telpon dia saja." Brian hanya mengangguk setuju.
Risya menghubungi asisten Daddy nya Ica, setelah menunggu beberapa detik pun panggilan di angkat.
"Hallo, siapa?"
"Hallo tuan, ini Risya sahabat nya Ica. Apa Ica sudah di temukan?"
"Sudah, tapi dia terluka. Jadi di bawa ke rumah sakit xxx."
"Baiklah tuan, saya akan kesana, terimakasih info nya."
"Sama-sama."
Risya mematikan sambungan telepon nya dan buru-buru bangkit, dia ingin pergi menemui sahabat nya.
"Kemana Sya?"
"Mau jengukin Ica ke rumah sakit."
"Udah ketemu? Aku ikut." Brian pun ikut berdiri dan membawa ransel nya.
Tapi sampai di gerbang, dia bertemu kakak tiri Ica, Azwar masih belum putus asa untuk bisa menemui Ica dan bicara empat mata, tanpa pengawasan pria yang adik nya panggil Daddy.
"Ica mana?"
"Ica gak masuk kuliah, dia di rawat di rs." Jawab Risya.
"Kenapa? Ica sakit apa?"
"Ica jadi korban penculikan kemarin, dan dia terluka,"
"Udah, ikut aja bro." Ucap Brian, dia sudah bersiap dengan motor sport nya, menunggu Risya naik ke boncengan nya.
"Ikutin aja dari belakang, gue duluan."
Azwar mengangguk sebagai jawaban, dia tak menyangka adik cantik nya jadi korban penculikan dan terluka, itu membuat hati nya sangat nyeri.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
Ketemu juga Ca😪