Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 127


__ADS_3

Azwar benar-benar menunggu Sintia, tapi sialnya pengunjung restoran outdoor ini begitu ramai, hingga membuat Sintia tak berani jika harus meminta izin untuk sekedar mengobrol dengan Azwar, dia juga merasa tak enak karena harus membiarkan Azwar menunggu nya. Tapi apa daya, dia sedang bekerja di bawah kendali orang lain, dia harus profesional, jangan melibatkan hati saat sedang bekerja.


Pukul 11 malam, Sintia baru bisa menemui Azwar yang ternyata masih berada di meja yang tadi, belum berpindah.


"Maaf lama ya.."


"Tak apa Sin, sudah selesai? Ayo kita pulang, aku antar."


"Tak usah Azwar, aku bisa naik angkutan umum."


"Ini sudah malam, tak baik gadis cantik pulang sendirian." Bujuk Azwar, akhirnya Sintia mengangguk.


Sintia duduk di boncengan motor butut Azwar, motor sederhana yang dia beli dengan sisa uang dari pekerjaan nya di luar kota sambil kuliah.


Azwar tersenyum, dulu saat mereka masih pacaran, Sintia sering kali meminta di bonceng. Dari SMA sampai ke rumah, gadis itu selalu memeluk pinggang Azwar dengan mesra, tapi kini terasa sedikit canggung karena sudah lama tak bertemu.


"Sudah lama sejak kita berpisah waktu itu ya Sin?" Ucap Azwar, suasana malam sudah nampak lengang, Azwar juga melajukan motornya dengan pelan, agar bisa mengobrol dengan Sintia.


"Iya, begitu banyak hal yang sudah terjadi. Kamu sudah lulus sekarang?"


"Aku sudah wisuda, dan bekerja di perusahaan AZ Company." Jawab Azwar.


"AZ Company? Itu milik pengusaha terkenal Azzendra kan ya?"


"Iya Sin, dia kekasih adik ku, Ica."


"Ica? Ahh ya adik mu yang manis itu, sudah berapa tahun dia sekarang?"


"21 tahun Sin, dulu saat kamu bertemu dengan nya, dia masih 16 tahun."


"Dia pasti sangat cantik kan?"


"Tentu saja, dia juga memiliki kecantikan hati yang membuat Tuan Azzendra luluh." Jawab Azwar.


"Dari dulu dia memang gadis yang baik, lalu bagaimana dengan Meisya? Apa dia masih sama?"


"Masih Sin, sekarang pun dia tak tau dimana. Aku sudah menemukan Ibu, tapi Meisya menghilang."


"Menghilang?"

__ADS_1


"Iya, tapi kau tau bagaimana ibu ku. Dia cuek bebek saja, padahal anak nya entah dimana dan bagaimana keadaan nya." Ucap Azwar menceritakan keluh kesah tentang keluarga nya pada Sintia.


Gadis itu menggelengkan kepala nya, dari dulu dia tau benar bagaimana sikap ibu nya Azwar. Bahkan dia dengan tegas menolak saat Azwar membawa nya ke rumah, wanita itu langsung menanyakan dia punya apa, saking materialistis nya.


"Belok kemana ini, Sin?"


"Ke kanan, kamu mampir dulu ya."


"Udah malem, gak enak sama tetangga kamu Sin."


"Gapapa kok, mereka pasti udah tidur."


Tak lama, Sintia menyuruh Azwar untuk berhenti di depan sebuah kost-kostan. Azwar memarkir motor nya dan Sintia turun dari motor itu.


"Ngeteh dulu yuk.." Azwar tak bisa menolak, tapi dia memilih duduk di kursi yang ada di teras kost an Sintia.


"Di dalam aja, disini dingin." Ajak Sintia.


"Disini saja Sin."


"Yaudah, aku masuk dulu mau ganti baju sama buat teh hangat." Azwar menganggukan kepala nya, dulu Sintia tinggal di rumah nya sendiri, tapi sekarang dia ngontrak. Entah kemana rumah lama nya itu.


Tak lama, Sintia kembali keluar dengan memakai cardigan rajut dan celana training berwarna hitam.


"Makasih Sin." Azwar meminum teh hangat itu perlahan, dia tersenyum setelah berhasil meneguk nya.


"Kamu masih ingat dengan teh kesukaan ku, Sin?"


"Tentu saja aku ingat." Jawab Sintia, Azwar suka minum teh melati dengan dua sendok gula putih.


"Mari kita bicara serius, apa kamu menepati janji kita Sin?"


Sintia diam, dia masih memegang gelas berisi teh juga di tangan nya.


"Janji yang mana?"


"Kau masih sendiri? Bukan kah kau bilang akan menunggu ku?" Sintia kembali bungkam, tak menyangka kalau pria itu masih mengingat janji mereka.


"Apa semua nya masih sama, aku sudah bisa mencari uang sekarang." Pelan, Sintia menggeleng.

__ADS_1


"Semua nya tak sama Azwar, setelah bertahun-tahun kita berpisah, bagaimana semua nya masih sama?"


"M-maksud mu?"


"Aku yang sekarang bukan lah Sintia yang dulu, aku Sintia yang berbeda."


"Apa nya yang berbeda Sintia? Apa nama ku di hati mu sudah tergeser oleh pria lain?" Tanya Azwar menuntut.


"Apa kau pikir setelah bertahun-tahun kita berpisah, lalu aku masih baik-baik saja? Maaf jika aku melupakan mu dan cinta kita, nyata nya kamu seperti melupakan ku, pernahkah kau memberi ku pesan atau membalas surat-surat ku? Tidak pernah!"


"Sintia, aku tak tau kalau kamu mengirim surat pada ku. Demi apapun, kalau aku tau pasti aku membalas nya Sintia."


"Maaf tapi sebaiknya kita tak perlu bertemu lagi, Azwar."


"Kenapa Sintia? Aku mencari mu selama ini, dan takdir sudah mempertemukan kita kembali. Kita mulai semua nya dari awal, kita perbaiki semua nya Sintia."


"Maaf tapi aku tak bisa,"


"Kenapa?"


"Kita berbeda Azwar, sekarang kau pria yang sukses, sedangkan aku? Hanya pelayan restoran, apa pantas?"


"Kenapa tidak? Kita bisa sukses bersama," Sintia menggelengkan kepala nya.


"Maaf, tapi tidak. Cari lah wanita lain yang sebanding dengan dirimu, aku tak pantas untuk mu. Sebaiknya kamu pulang, sudah malam dan aku ingin beristirahat." Ucap Sintia lirih.


"Baiklah, mungkin kamu perlu waktu. Tapi izinkan aku berjuang untuk mendapatkan hati mu kembali, Sintia."


"Lakukan apapun sesuka mu, Azwar. Selamat malam." Sintia masuk ke dalam kost an nya, menutup pintu dengan pelan dan mengunci nya.


Azwar menatap pintu yang tertutup itu dengan nanar, dia masih sangat mencintai Sintia, dia berharap gadis itu mau kembali dengan nya, tapi ternyata dia tolak mentah-mentah.


Begitu pun Sintia, dia bersandar di balik pintu. Air mata nya mengalir deras, dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Azwar. Kalau bisa dia sangat ingin memeluk pria tampan itu karena rindu, tapi ada dinding transparan yang terbentang antara dirinya dan Azwar. Pria yang sangat dia cintai.


"Maafkan aku Azwar, aku tak pantas bersama dirimu. Sungguh demi apapun, aku memang masih mencintai dirimu. Tapi aku tak bisa! Kita berbeda jauh, bagai langit dengan bumi." Gumam Sintia.


Dia memeluk lutut nya dan menangis tersedu-sedu, sakit di hati nya karena hinaan ibu nya Azwar tak membuat dia bisa melupakan pria itu. Tapi ada hal lain yang membuat dia merasa tak pantas bersanding dengan pria sebaik Azwar Mahessa.


.....

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Setelah yang manis, author buat kalian termehek-mehek dulu😣🔥


__ADS_2