
Seminggu berlalu, setelah kepergian Sinta yang meninggalkan duka bagi putra putri nya, kini Meisya sudah bisa lebih menenangkan dirinya sendiri, tak melamun atau tiba-tiba saja menangis seperti sebelumnya.
Hari ini, kesibukan terlihat di mansion milik Zen. Dimana, Arian dan Meisya memutuskan untuk menikah nanti malam.
"Sayang.." panggil Arian sambil memeluk Meisya dari belakang.
"Iya Mas, kenapa?" Tanya Meisya sambil tersenyum manis, dia baru saja selesai mandi dan keramas, sedangkan Arian baru bangun dari tidur nyenyak nya, setelah semalam begadang bersama Meisya untuk saling bertukar keringat dan kenikmatan yang membuat mereka lupa waktu.
"Gak kerasa ya, nanti malem kita nikah."
"Iya Mas, tapi malam pertama nya udah duluan." Jawab Meisya sambil terkekeh.
"Duduklah, biar Mas ngeringin rambut kamu."
"Gak usah repot-repot, Mas. Aku bisa sendiri kok,"
"Nurut sama suami, aku tahu kamu pasti kelelahan setelah aku hajar semalaman kan?" Goda Arian, dia mengambil pengering rambut dari lemari dan mulai mengeringkan rambut Meisya.
"Berasa kayak pertama kali sakitnya," cetus Meisya membuat Arian menghentikan gerakan tangan nya.
"Kenapa Mas?"
"Enggak." Jawab Arian singkat, membuat Meisya memikirkan apa dia punya salah? Atau kata-kata nya menyakiti Arian?
"Mas?"
"Hemm.." Arian hanya menjawab dengan deheman.
"Mas kenapa?"
"Gak kenapa-napa kok." Jawab nya datar tanpa ekspresi.
Meisya membalikan tubuhnya, dia dapat dengan jelas melihat wajah datar Arian, wajah nya sama saat pertama kali dia bertemu dengan nya, tak ada raut wajah kehangatan seperti biasa.
"Mas marah sama Mei? Mei minta maaf kalo kata-kata Mei salah." Arian tak menjawab, dia hanya kembali menyalakan pengering rambut dan melanjutkan kegiatan nya untuk mengeringkan rambut Meisya.
"Mas, jawab Mei dulu dong. Mei punya salah? Tadi kan kita baik-baik aja, Mas."
Arian meletakan pengering rambut di meja, lalu kembali ke kasur dan menggulung tubuh nya dengan selimut. Membuat Meisya keheranan, kira-kira apa yang membuat mood pria itu berubah total?
Meisya melanjutkan kegiatan Arian tadi, setelah benar-benar kering barulah dia bangkit dari kursi dan mendekati Arian.
"Mas.." tak ada jawaban apapun dari pria itu.
Hati Meisya mencelos, apakah Arian kesal karena perkataan nya yang menyebut seperti pertama kali tadi? Mungkinkah Arian marah karena bukan dia yang pertama? Apa mungkin? Begitu pikir Meisya
"Mas, maaf. Kalau saja aku bisa menjaga diriku, pasti kamu yang akan melakukan nya pertama kali, tapi aku.."
__ADS_1
Belum selesai Meisya bicara, Arian sudah terlebih dahulu memeluk perempuan itu.
"Mas gak marah, sudah Mas bilang Mas menerima semua masa lalu kamu, kekurangan sama kelebihan kamu, Mas gak pernah keberatan Sayang."
"Lalu kenapa Mas diamin Mei? Mei takut, Mei gak punya siapa-siapa lagi selain Mas sekarang ini." Ucap Meisya, kedua mata nya sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan air mata jika saja dia berkedip.
"Mas merasa bersalah aja udah nyakitin kamu, demi apapun Mas gak ada niatan diamin kamu sayang."
"Jangan gitu lagi, Mas. Mei takut."
"Iya sayang, maaf ya. Gak boleh nangis, kita nikah nanti, Mas gak mau mata kamu sembab, ntar Abang kamu nyangka Mas nyakitin kamu lagi."
"Iya Mas, Mei sayang sama Mas." Meisya memeluk erat tubuh kekar Arian. Sedangkan pria itu mengusap penuh kelembutan puncak kepala Meisya, sesekali melayangkan kecupan mesra disana.
"Mas juga sayang sama kamu. Emmm.."
"Kenapa Mas?" Tanya Meisya saat mendengar Arian berdehem.
"Pengen nya sih nambah ronde, tapi itu kamu sakit ya?"
"Kalau cuma satu ronde, Mei masih sanggup Mas." Jawab Meisya, membuat wajah Arian berbinar. Dia pun membaringkan Meisya di kasur dan langsung menindih nya, kedua nya pun memulai ronde tambahan di pagi hari sebelum mereka sah menjadi suami istri nanti malam.
"Tuh calon manten kemana nya? Belom nongol juga, apa masih tidur jam segini?" Celetuk Ari saat dia melihat jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi Arian dan Meisya tak kunjung muncul batang hidung nya.
"Biasa nya Arian bangun pagi kan? Jadi rasanya gak mungkin kalo belum bangun." Cetus Ferry, teman Arian juga.
"Lagi nambah ronde kali, udah biarin aja calon manten mah bebas. Ayo kerja lagi, nanti kena omel bos." Ucap Danar yang menghentikan ghibahan teman-teman Arian.
"Aaahh Mas, lebih cepat aku mau keluar." Pinta Meisya, membuat Arian semakin gencar memacu tubuhnya di atas Meisya, mengeluar masukkan benda panjang itu di lubang hangat milik Meisya.
"Aaaahhh mas." Tubuh Meisya mengejang, pertanda kalau dia berhasil meraih klimakss pertama nya di ronde tambahan ini. Arian memejamkan mata nya menikmati kedutan manja dari lubang hangat wanita nya.
"Kamu di atas ya? Biar Mas cepet keluar." Pinta Arian, Meisya bangkit dan duduk di pangkuan Arian, dia memimpin permainan membuat Arian merem melek saking nikmat nya.
Awalnya dia bergerak naik turun perlahan, namun semakin lama semakin cepat hingga membuat Arian mengerang penuh kenikmatan.
"Aaahhh ya begitu, Sayang nikmat sekali." Puji Arian, Meisya semakin semangat setelah mendengar pujian dari lawan main nya. Dia mengambil tangan Arian dan meletakan nya di buah kenyal yang terlihat naik turun seirama dengan hentakan yang di lakukan wanita itu.
"Assshh, Mas." Meisya memekik saat mulut Arian menyergap pucuk buah kenyal nya, menyusu seperti bayi.
Arian mengerang panjang, saat cairan itu menyembur deras, dia klimakss dengan Meisya masih di atas pangkuan nya.
"Anget ya Mas."
"Enak sayang, capek juga ya."
"Kamu sih, pengen terus. Semalem kamu main berapa ronde coba, malah minta tambah." Ucap Meisya sambil terkekeh, dia bangkit dari duduknya, otomatis batang milik Arian terlepas dari inti nya, terkulai lemas dan mulai keriput seperti sosis goreng.
__ADS_1
"Gemoy nya batang mu, Mas."
"Diamlah, ayo kita mandi." Meisya mengangguk dan keduanya pun mandi bersama, Meisya pun terpaksa harus mengulangi sesi keramas nya lagi.
Malam harinya, semua orang sudah berkumpul di lapangan basket, tempat yang sudah di sulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta pernikahan untuk Arian dan Meisya.
Kedua nya baru saja selesai mengikat janji suci di hadapan Tuhan, dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis, menandakan bahwa mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.
Tawa bahagia mengiringi pernikahan mereka, Ica dan Sintia berdiri di samping pasangan pengantin itu sebagai Bridesmaids, alias pengiring pengantin. Adiknya itu kini sedang mengandung kembali buah hati nya yang ketiga, karena kehamilan nya yang pertama melahirkan sepasang bayi kembar.
Zen nampak gagah dengan balutan tuxedo berwarna hitam, nampak berjalan dengan kedua putra putri nya di sisi kanan dan kiri, keduanya kompak merengek ingin pada mommy nya.
Azwar juga terlihat seperti itu, dia nampak kerepotan saat membujuk kedua anak kembar nya yang merengek ingin pada Mami nya juga.
Brian dan Bimo juga tak berbeda jauh dari kedua pria itu, hanya saja Hani dan Risya tak ikut menjadi Bridesmaids, jadi mereka bisa membantu menjaga anak-anak kembar mereka.
Dan ya, malam itu di warnai dengan kebahagiaan yang membuat sepasang pengantin itu merasa sangat beruntung karena bisa masuk ke dalam keluarga yang penuh kehangatan.
"Terimakasih sudah mengikuti cerita kami sampai akhir, para readers." Ucap kelima pasangan itu sambil melambaikan tangan ke arah kamera. Dan cerita ini pun Tamat.
Ending season 2☺️🌻
…..
🌷🌷🌷
Terimakasih sudah mengikuti cerita kelima pasangan ini sampai akhir☺️🥰
....
hai, author mau rekomendasiin novel karya temen author, jangan lupa mampir yaww☺️
blurb👇
MERUBAH NERAKA MENJADI SURGA
(Azzura)
Pernahkah kamu membayangkan, Hidupmu yang penuh kebahagiaan dalam sekejap mata berganti dengan duka dan nestapa? Bahkan nyaris serasa seperti di neraka!
Sadisnya, penderitaan yang begitu perihnya itu dihadirkan oleh sosok terdekat dalam hati dan hidupmu.
MIRIS. Demikianlah jalan hidup seorang Dara Herlambang yang yatim piatu.
Lantas, bagaimanakah Dara melalui hari-harinya yang sarat dengan air mata dalam kondisi lumpuh dan diasingkan? Bahkan dipoligami oleh suami yang begitu dicintai.
Akankah, ia yang penuh dengan ketidakberdayaan mampu Merubah Neraka Menjadi Surga?
__ADS_1
Mengubah Neraka Menjadi Surga by Azzura🥰