
Setelah melepas kepergian adiknya, sedikit rasa bersalah di hati Azwar terasa berkurang. Dia yakin Arian adalah pria yang baik, dia pasti bisa menjaga adiknya dengan baik. Memang terkesan dia lepas tanggung jawab sebagai kakak laki-laki, tapi dia juga harus memikirkan perasaan Sintia andai saja Meisya ikut tinggal bersamanya.
"Mas, kita pulang?" tanya Sintia, dia ingin beristirahat. Rasanya sangat lelah, sudah kurang tidur, tadi dia juga sibuk ikut membantu packing barang-barang Meisya.
"Iya sayang, sampai di rumah kamu harus istirahat ya. Maaf sudah membuatmu kelelahan,"
"Tak apa Mas, Meisya kan adikku juga." Jawab Sintia, membuat Azwar tersenyum dan mengelus lembut kepala sang istri. Dia benar-benar pilihan yang tepat.
"Ayo pulang." ajak Azwar menggenggam tangan Sintia, dia terpaksa membonceng istri yang tengah hamil muda itu dengan motor butut nya, dia belum bisa menyisihkan uang untuk membeli motor yang lebih layak di gunakan. Sintia juga sudah tak bekerja lagi, dia fokus menjadi seorang istri dan juga calon ibu yang baik. Melayani suaminya dengan baik, dan menjaga anak-anak nya kelak.
Sedangkan di rumah, Zen sedang bermanja-manja pada Ica yang juga sedang dalam mode mageran. Kehamilan nya sudah menginjak usia 4 bulan, tak terasa memang waktu cepat berlalu.
"Dad, baby mau jajan deh." Ucap Ica manja, sedari tadi pagi keduanya belum keluar dari kamar. Bahkan untuk sarapan pun Bi Arin yang mengantarkan nya ke kamar, saking mageran nya sepasang suami istri sekaligus calon orang tua itu.
"Jajan apa sayang?" tanya Zen, dia tengah menduselkan wajah nya di perut sang istri yang sedikit membuncit, mengecupi perut istrinya itu dengan gemas.
"Apa aja deh, tapi gak mau jalan."
"Daddy nya lemes, Bby. Morning sickness Daddy masih berlanjut, ini kan bawaan dedek juga." Jawab Zen, dia memang merasa sangat lemas karena gejala kehamilan sang istri berpindah padanya, bahkan di usia kehamilan yang ke 4 bulan ini, Zen masih saja muntah-muntah setiap pagi.
__ADS_1
"Nyuruh anak buah Daddy napa? Percuma punya banyak anak buah, tapi gak bisa di suruh beliin jajanan." Cetus Ica membuat sang suami mendongak.
"Mau di beliin ya? Oke, mau apa sayang? Daddy telepon sekarang."
"Nih.." Ica mengulurkan secarik kertas berisi list jajanan yang dia inginkan saat ini, akibat menonton berbagai macam drama korea, membuat nya menginginkan makanan itu.
"Gak kebanyakan sayang? Kamu hamil, bukan kesurupan."
"Lah, emang siapa yang kesurupan? Aku emang hamil dan mau makan makanan itu Daddy." Jawab Ica dengan senyuman manis nya, dia juga mengusap perutnya agar semakin meyakinkan.
"Tapi sebanyak ini apa bakalan habis?"
"Kan bisa di hangatin besok, Dad." Jawab Ica, membuat Zen tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang istri. Nafssu makan nya memang menggila akhir-akhir ini, sebelum hamil juga Ica memang suka makan, apalagi sekarang dia sedang hamil, membuat selera makan nya semakin meningkat, maka tak heran kalau dalam 2 bulan saja dia sudah naik 5 kg.
"Daddy memang yang terbaik." Ucap Ica sambil mengacungkan jempol nya ke arah sang suami.
"Apapun untuk istri kesayangan Daddy." Jawab Zen, dia mengecup lembut kening sang istri.
Berbeda dengan pasangan Ica dan Zen yang selalu mesra dan Ica yang lebih doyan makan, couple lain justru sebaliknya. Bumil yang satunya sangat sulit untuk makan, bahkan dalam satu hari pernah tak memakan apapun, hanya minum susu kehamilan dan vitamin.
__ADS_1
Seperti saat ini, Bimo tengah berusaha keras membujuk Hani untuk makan nasi. Sedikit pun tak apa, yang penting ada yang masuk ke dalam perutnya.
"Sayang, ayo makan, sedikit saja."
"Gak ahh yang, gak mau." Jawab Hani, dia memilih anteng menonton televisi.
"Ayo dong, ini aku yang masak sendiri. Gak kasihan ya sama aku yang udah masak buat kamu, spesial lho." Bujuk Bimo belum menyerah. Hani masih kekeh dengan keputusan nya, dia menggelengkan kepala nya pelan.
"Nanti dedeknya sakit perut kalau mama nya susah makan." Hani melirik Bimo yang memperlihatkan wajah serius nya, agar Hani percaya dan mau makan, walau sedikit.
"Iya-iya, aku makan." Bimo tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Hani mau makan juga. Dia dengan senang hati menyuapi perempuan itu.
Pernikahan mereka terpaksa di undur satu minggu karena alasan kesehatan Hani yang saat itu harus di larikan ke rumah sakit, perempuan itu terjatuh di kamar mandi, beruntung nya janin nya baik-baik saja. Sebab itu, Bimo memutuskan untuk menyewa ART yang hanya akan bekerja dari pagi hingga sore, tapi tidak di hari weekend karena dia tak mau privasi nya dengan Hani terlihat orang asing.
"Kenyang yang." Ucap Hani, padahal baru beberapa suapan saja. Padahal dulu, nafssu makan Hani dan Ica itu hampir sama. Tapi setelah hamil, perempuan itu malah kebalikan nya. Susah makan, harus di bujuk-bujuk dulu baru mau.
.....
๐ท๐ท๐ท๐ท
__ADS_1
besok update Risya sama Brian๐๐
.....