
Setelah tiga Minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Meisya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang menangani nya dari awal masuk hingga sekarang. Arian tak pernah sedetik pun meninggalkan perempuan itu, bahkan dia rela izin berminggu-minggu hanya untuk menemani nya di rumah sakit.
Sebenarnya luka jahitan Meisya sudah mengering sekitar dua Minggu yang lalu, tapi Zen dan Ica bersikeras agar kakak nya itu di rawat hingga luka nya benar-benar pulih. Kalaupun di bawa pulang ke rumah, tapi tetap harus kontrol setiap Minggu untuk memeriksa apa ada yang infeksi atau jamur.
Meisya mengedarkan pandangan nya di sekeliling paviliun yang disebut rumah, setidaknya tempat ini jauh berkali lipat lebih nyaman di banding kost an tempat Meisya hampir di lecehkan hari itu.
Meisya menghela nafas panjang, menahan rasa sesak di dada nya. Entah kenapa berada di tempat ini selalu membuat hati nya sakit, mengingat dia pernah di rendahkan oleh laki-laki yang dia anggap baik, lalu di lukai lagi oleh ibu nya sendiri, sungguh ini bukanlah hal yang mudah bagi seorang Meisya.
Tapi beruntunglah, Meisya memiliki Arian di sisi nya. Pria itu selalu datang disaat yang tepat, memberikan nya petuah, nasehat yang membuat kepercayaan dirinya perlahan tumbuh kembali.
"Mei, ayo ke kamar. Kamu harus beristirahat dulu," Ajak Arian sambil merangkul bahu perempuan yang masih berdiri di ambang pintu paviliun milik pria bernama Arian. Tempat ini adalah fasilitas dari Zen, sebagai seorang bodyguard yang harus siap siaga 24 jam, membuatnya memberikan tempat ini untuk dia tempati. Bukan hanya untuk dirinya saja, tapi anak buah Zen yang lain juga mendapat fasilitas yang sama.
"Kakak.." Arian melirik Meisya, mata perempuan itu berkaca-kaca, dalam sekali mengedip saja air mata itu pasti luruh membasahi wajah cantiknya.
"Kenapa lagi cantik? Kamu sering menangis sekarang." Arian menangkup wajah Meisya dan mengusap ujung mata perempuan itu dengan ibu jari nya.
"A-aku minta sama Kakak, jangan ninggalin Mei ya? Mei gak punya siapa-siapa lagi, selain kakak." Ucap Meisya terbata di awal kata nya, Arian hanya menyunggingkan senyum manis nya, sebagai laki-laki dia jelas tahu ketakutan yang di rasakan oleh Meisya saat ini.
__ADS_1
Dengan keadaan nya saat ini, takkan banyak laki-laki yang ingin menjadikan nya pendamping hidup, karena pasti awal atau akhir mereka akan menuntut seorang keturunan, dan Meisya tak bisa memberikan itu.
"Sudah berapa kali kakak bilang sama kamu, Kakak gak bakal ninggalin kamu Mei, apapun alasan nya. Kamu gak percaya?"
Meisya memberanikan diri menatap mata Arian, dari sorot matanya dia tahu kalau pria itu sangat serius dengan ucapan nya.
"Baru omongan Kak, belum ada bukti." Ucap Meisya pelan, lalu menundukkan kepala nya. Arian meraih dagu Meisya, membuat perempuan itu kembali menatap nya.
"Kakak bakalan buktiin kalau kakak beneran serius sama kamu, udah ya? Gak usah mikirin hal yang belum pasti terjadi, kamu masih dalam masa pemulihan, harus banyak istirahat." Meisya mengangguk dan keduanya pun melanjutkan langkah mereka menuju kamar.
"Kak, inikan kamar kakak, kenapa aku di bawa kesini?" Tanya Meisya.
"Mulai saat ini kita tidur satu kamar ya?" Jelas saja Meisya terkejut mendengar ucapan Arian.
"Tapi kak.." Arian meletakan satu jari telunjuk di bibir Meisya.
"Gak ada penolakan ya, ini aku lakuin juga buat kebaikan kamu, biar aku gampang mantau keadaan kamu. Tenang aja, aku gak bakal nyentuh kamu tanpa persetujuan."
__ADS_1
Begini kah rasanya di cintai pria yang tepat? Meisya benar-benar di buat terharu oleh sikap dan perlakuan Arian, pria itu tau betul cara menghargai wanita.
Berada di dekat Arian, selalu membuat Meisya merasa tak pantas. Pertama, karena masa lalu kelam nya. Kedua, karena keadaan nya sekarang yang membuat nya merasa tak pantas bersanding dengan Arian, pria sempurna.
"Jangan bengong, ayo tidur. Kakak mau beresin barang-barang kamu dulu," Meisya menurut dan memilih berbaring di ranjang yang cukup besar itu, sambil memerhatikan tubuh tegap Arian membawa dan membereskan barang-barang nya ke lemari miliknya.
Sebagai kamar laki-laki, ini sangat rapih dan bersih, wangi juga. Berbeda jauh dengan kebanyakan kamar laki-laki lain.
"Ini beneran celana kamu, Mei? Kok kecil, perasaan pinggul kamu besar deh." Tanya Arian sambil menunjukan ****** ***** berwarna pink salem milik Meisya, membuat perempuan itu merona dan memalingkan wajah nya.
Kenapa harus sampai itu juga di beresin sih? Dia juga kan bisa sendiri, buat malu saja!
....
🌷🌷🌷
malu ya Mei?🤭🤭🤭
__ADS_1