Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 59


__ADS_3

Ica masih duduk di sofa, tak lama Zen keluar dari kamar mandi, pakaian nya sudah berganti lengkap dengan rambut yang basah.


"Baby.."


"Hmm.." Ica hanya berdehem sebagai jawaban.


"Masih marah?"


"Emang ada ya perempuan yang gak marah liat cowok nya di cium wanita lain tepat di depan mata? Ica rasa gak ada." Jawab Ica ketus.


"Daddy juga gak tau kalau wanita itu akan berbuat nekat, maaf ya sayang."


"Harus nya Daddy tegas, kalau masih sayang yaudah kejar. Kalau emang udah gak mau, lawan tegasin, jangan lemah Dad." Ucap Ica dengan menggebu.


"Iya sayang.."


"Buktiin, kalau enggak Ica yang pergi." Zen langsung menatap Ica dengan tajam, dia sangat tak suka jika gadis nya bilang seperti itu.


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu, Daddy hukum."


"Terserah." Cuek Ica, membuat Zen yakin kalau gadis nya memang sudah mencintai nya.


"Daddy tau Daddy salah sayang, tapi Daddy mohon jangan pernah pergi, atau berfikiran akan meninggalkan Daddy."


"Terus? Ica harus disini sama pria yang gak bisa move on dari mantan nya?" Tanya Ica dengan sindiran.


"Rosa banyak berubah sayang, tak seperti dulu lagi."


"Ohh Ica tau, kalau Rosa kembali seperti dulu, apa Daddy akan membuangku dan memungut nya kembali? Jangan tertipu Dad, dari gerak-gerik nya saja aku tau, dia tak memiliki niat yang baik." Jawab Ica.


Zen memeluk Ica tiba-tiba, Ica yang memang tak ada persiapan langsung terjungkal ke belakang, hingga posisi kedua nya begitu intimm saat ini. Zen berada di atas tubuh Ica, memeluk nya dengan erat.


"Berat Dad, nyadar diri dong!"

__ADS_1


"Hari ini kamu sudah sangat banyak bicara omong kosong!" Tegas Zen, pria itu menatap Ica dengan kerlingan nakal nya, membuat Ica meronta, ingin lepas dari pelukan Zen sebelum terlambat, tentu dia tau kemana ini akan mengarah.


Tapi tentu nya Zen takkan melepaskan gadis nya begitu saja.


"Dad jangan disini, malu nanti kalau ketauan orang."


Zen melonggarkan pelukan nya, Ica kira dia akan selamat, tapi ternyata tidak! Siapa sangka, Zen malah menggendong Ica ke kamar mandi.


"Daddy.."


"Kenapa? Disini gak ada orang By, lebih baik dari pada di sofa tadi." Jawab Zen santai, pria itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja nya dan mendekati Ica.


Ica terus mundur, dia tak mau di pakai di kantor, apalagi ini masih jam kerja.


"Dad, stop jangan mendekat."


"Kenapa By? Biasa nya kamu gak begini."


"Di kantor atau di rumah rasa nya tetap nikmat, hanya berbeda sensasi nya sayang."


Zen menarik tangan Ica hingga membuat gadis itu menabrak dada bidang nya, Zen membelai lembut wajah gadis nya, mulai mengecup nya dengan mesra. Kalau sudah begini ya pasrah saja, menolak pun percuma Zen takkan melepaskan nya.


Zen berusaha membuka pengait dress yang Ica pakai, tapi tangan nya di hentikan oleh Ica.


"Jangan di buka Dad, di ke atasin aja." Pinta Ica.


"Baiklah kalau kamu ingin nya begitu." Zen menyusupkan tangan nya ke paha gadis nya, meraba inti sang gadis yang terasa lembab, lalu menarik segitiga nya dengan perlahan.


Ica menggigit bibir nya, dia tak tau kalau Zen bisa membuat nya bergairah padahal permainan belum di mulai.


"Jangan di gigit sayang, nanti bibir mu terluka." Sebagai ganti nya, Zen mencium bibir itu dengan mesra nya. Melumaat dan mengulumm nya atas bawah bergantian, Ica yang tadi nya menolak pun kini mulai aktif.


Tangan Ica bergerak membuka pengait celana bahan Daddy nya, dia dapat merasakan senjata pria itu sudah sangat tegang di dalam sana.

__ADS_1


Ica berhasil membuka celana bahan Zen juga boxer nya, hingga mencuat lah senjata api milik Zen yang berdiri tegak dengan gagah nya.


Ica selalu heran, bagaimana benda sebesar itu dapat masuk ke dalam lubang kecil nya? Tapi bahkan dia selalu melupakan apapun jika benda itu sedang mengobrak abrik milik nya.


Zen menaikan sebelah kaki Ica dan menaha nya dengan satu tangan, dia memulai permainan dengan jeritan kecil dari sang gadis saat senjata nya terbenam sempurna.


Pria itu mulai bergerak maju mundur memompaa inti sang gadis yang terasa sangat basah, padahal tak ada pemanasan sebelum nya, hanya ciuman saja.


"Daddy.." Erang Ica, tubuh nya mengejang di iringi dengan cairan hangat yang membanjiri inti nya.


"Baru berapa detik saja sudah klim*ks?"


"Posisi ini baru buat Ica Dad, wajar." Jawab Ica tak mau kalah, padahal nafas nya belum sepenuhnya teratur.


Tapi bukan Zen nama nya kalau dia tak mampu membuat gadis nya berteriak, inti gadis itu masih berdenyut setelah pelepasan nya, biasa nya dia akan berhenti sebentar agar gadis nya menikmati denyutan nya dulu, tapi kali ini dia langsung bergerak lagi membuat Ica berteriak.


....


Ica dan Zen keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam mereka berdua di dalam ruangan itu, tapi ekspresi mereka tunjukan sangat berbeda.


Ica dengan wajah kesal nya, sedangkan Zen dengan wajah yang berbinar, senyum pria itu juga terus terkembang, membuat Ica mendengus.


Pasalnya, selama satu jam di pakai, Ica tak di biarkan menikmati sisa-sisa pelepasan nya, dia langsung kembali di hajar oleh Zen tanpa membiarkan Ica menikmati denyutan terakhir nya, tentu saja gadis itu kesal.


Sedangkan Zen, dia sangat puas mengerjai gadis nya. Dia merasa kesal karena Ica selalu bicara hal yang tak penting, jadi dia memberi nya sedikit pelajaran.


....


🌷🌷🌷



vibes nya beneran kek hot daddy😪😪💜

__ADS_1


__ADS_2