
Ica melepas kepulangan Meisya dan Azwar dengan raut sendu nya, dia masih sangat merindukan kedua nya.
"Sayang, ayo masuk. Angin malam tak baik untukmu," Ucap Zen, dia memeluk sang istri dari belakang.
"Dad, bisa kah Daddy bicara baik-baik pada Kak Meisya? Tak ada salah nya memberi kesempatan kedua kan?" Tanya Ica serius.
"Kamu tak ingat bagaimana jahat nya Meisya pada mu sayang? Dia juga beberapa kali menggoda ku, untung saja aku tak tertarik." .
"Itu kan dulu Dad, bisa saja saat ini dia benar-benar berubah, hati manusia tak selama nya sama Daddy."
"Justru itu Bby, hati manusia itu mudah berubah. Tak ada yang mampu menyelami hati manusia, siapa tau itu hanya drama agar kau percaya dan di saat kita sudah percaya, dia akan melakukan rencana nya itu."
"Huhh Daddy terlalu berlebihan." Ketus Ica.
"Ini juga demi keselamatan mu dan anak kita, Bby."
"Baiklah terserahh Daddy saja, ayo masuk Ica ngantuk." Ajak Ica, Zen menurut dan mengikuti istri nya masuk ke dalam rumah.
"Bby, Daddy pengen.." Rengek Zen sambil menarik-narik tangan istrinya.
"Pengen apa Daddy?" Tanya Ica pura-pura tak mengerti apa yang di inginkan suami nya itu.
"Pengen nengokin dedek bayi."
"Nengokin apa nya Dad? Yang ada dia kena sembur." Celetuk Ica dengan kekehan geli nya.
"Gampang Bby, Daddy bisa meledak di luar."
"Yaudah ayok Dad.."
"Yess, dapet jatah." Ucap Zen bersorak kegirangan, sudah semingguan ini dia tak menengok sarang nya, dan saat ini dia akan melakukan nya.
Zen melihat istri nya tengah berganti pakaian di kamar, langsung saja Zen melancarkan aksi nya dengan meraba-rabaa tubuh istri nya yang semakin lama semakin montok.
"Daddy, sabar dulu dong. Ica masih belum selesai ganti baju." Ucap Ica.
"Ngapain harus pake baju? Kan kita mau olahraga Bby."
"Ohh iya ya, percuma juga nanti bakal di buka lagi. Yaudah ayok main, tapi jangan lama-lama ya Dad."
"Memang nya kenapa Bby? Sampai meledak lah."
"Soalnya kalo lama, Ica nya ngantuk Dad." Kelakar Ica membuat Zen terkekeh, dia langsung saja membopong tubuh istri nya dan menidurkan nya di ranjang.
"Daddy.."
"Iya Bby, kenapa?" Tanya Zen, dia menghentikan aktivitas nya yang sedang mengerjai leher putih Ica.
"Besok Ica pengen makan sate Padang deh Dad."
"Gak sekarang saja Bby?" Tanya Zen.
"Kan Daddy nya mau main dulu."
__ADS_1
"Daddy bisa nyuruh anak buah Daddy buat beliin kamu makanan sayang, setelah selesai olahraga kita makan ya?"
"Iya Dad, makasih suami tampan ku. Pengen 3 porsi aja Dad."
"Makanan apalagi sayang? Biar Daddy telpon sekarang." Ucap Zen, dia mendudukan tubuh nya di sisi ranjang dan mengambil ponsel nya di meja nakas.
"Sekalian sama mie aceh seafood yang deket ayam bakar itu lho, dua ya Dad."
"Minum nya?"
"Boba rasa cappucino ya Dad."
"Oke istri ku, itu buat kamu sama Dedek ya."
"Iya dong Dad, buat berdua." Jawab Ica sambil tersenyum.
Zen menelpon anak buah nya, dan setelah beberapa menit sambungan nya pun terputus. Zen kembali mengungkung Ica dengan sebelah tangan yang dia pakai untuk menahan tubuh nya, agar tak terlalu menindih istri nya.
"Emmmhh, Daddy.."
"Yes Babe?"
"Jangan di gigit dong, sakit.." Ica meringis saat puncak buah kenyal nya di gigit manja oleh Zen.
"Maaf Bby, habis nya Daddy gemes."
"Jangan kuat-kuat gigit nya, kalau pelan gapapa." Pinta Ica.
"Iya Bby.." Zen kembali menenggelamkan kepalanya di dada sang istri. Buah kenyal nya terasa semakin besar dan empuk, mungkin karena sering dia remass dan dia mainkan.
Tanpa waktu lama lagi, Zen segera menyatukan diri, dia sudah tak sabar ingin menikmati penyatuan yang selama satu minggu ini tak dia rasakan.
"Dad.."
"Iya sayang, enak?"
"Enak Dad, tapi pelan-pelan ya.."
"Iya sayang." Zen terus bergerak maju mundur perlahan, dia memejamkan mata nya menikmati sensasi penyatuan yang terasa begitu nikmat ini.
"Aarrgghhhh..." Zen mengerang saat dia mencapai pelepasan pertama nya, cairan hangat membanjiri lubang hangat Ica, bahkan hingga meluber keluar.
"Dad, lap cepet." Pinta Ica. Zen segera mengambil pakaian Ica dan segera mengelap milik sang istri dengan pakaian itu.
"Ihh Daddy jorok banget sih, kok pake baju Ica."
"Gapapa sayang, yang penting kering dulu, besok kan bisa di cuci Bby."
"Ya tapi kan bau." Ucap Ica.
"Bau nikmat kok sayang, cuma anyir dikit."
"Diamlah, anak buah Daddy lama ya? Ica laper."
__ADS_1
"Sebentar lagi datang sayang, mau mandi dulu?" Tanya Zen.
"Mau, tapi Ica lemes pengen di gendong."
"Boleh sayang, ayoo.." Zen pun menggendong Ica ke kamar mandi, mereka mandi bersama. Hanya mandi bersama, tanpa bumbu-bumbu desahaan.
.....
Di rumah Risya, Brian tengah melamun sendiri. Dia bingung harus bagaimana sekarang, kejahatan nya pasti akan terbongkar kalau Zen turun tangan, dia hanya takut Risya meninggalkan nya, dia sudah terlanjur mencintai gadis itu, makanya dia berani melakukan hal itu bersama Risya.
"Sayang, kok melamun? Kamu punya masalah, sini cerita." Ucap Risya, gadis itu datang dengan sepiring buah yang sudah di potong-potong. Sudah 1 bulan ini Brian memberikan uang untuk kebutuhan sehari-hari mereka disini.
"Berjanjilah sayang.."
"Berjanji untuk apa, sayang?" Tanya Risya heran, dia mana tau alasan Brian mengatakan itu.
"Kamu harus janji, apapun yang akan terjadi nanti kamu gak bakalan ninggalin aku. Kamu hanya perlu percaya padaku, semua yang aku lakukan ada alasan nya sayang." Ucap Brian, dia menggenggam tangan kekasih nya dengan erat.
"Apa sih sayang? Kok kamu gini,"
"Kamu janji kan? Pokok nya kamu harus percaya sama aku aja."
"Iya iya sayang, lagian aku gak mungkin ninggalin kamu setelah kamu renggut kesucian aku."
"Syukurlah, aku seneng denger nya." Ucap Brian lalu memeluk Risya dengan erat.
"Kamu belum makan dari tadi, mau makan dulu yang?" Tawar Risya setelah kedua nya melerai pelukan mereka.
"Aku mau nya makan kamu, boleh?"
"Kemaren kan udah? Masa setiap malam kamu masukin aku sih, gak bosen?"
"Ya kemaren beda lagi sayang, gak bakalan bosen aku sama lubang kamu Yang, sempit banget enak." Jawab Brian, membuat Risya mendengus.
"Aku gak mau ahh, capek."
"Yahhh kok gitu sih, Yang. Lagi pengen nih, lihat dia udah bangun."
"Kamu mah setiap hari juga pengen, di atur dong. Mana itu nya gede banget, kalo kecil sih gak masalah tiap hari juga, ini mah gak nyadar diri." Ketus Risya.
"Sekali aja yang.."
"Modus, pasti kalo udah masuk lebih dari satu kali. Aku udah gak mempan sama omongan kamu."
"Tapi yangg..."
"Makan dulu, nanti aku pikir-pikir lagi."
"Huhh yaudah iya sayang." Pasrah Brian lalu melangkah lemas ke ruang makan.
🌷🌷🌷
Hih si Brian, doyan amat🤭🤭🤭
__ADS_1
Haii, udah mulai bosen ya? maaf kalau cerita ini makin lama makin ngebosenin😪😣