
Azwar masuk lebih dulu ke ruangan Ica, terlihat gadis itu sedang tertidur lelap, selimut menutupi hampir seluruh tubuh mungil nya.
Kedua mata Azwar berkaca-kaca, dia tak tahan melihat keadaan adik nya, perban yang menghiasi beberapa bagian tubuh nya, juga lebam di pipi kanan dan kiri nya.
Hati Azwar mencelos, dia sudah melewatkan banyak waktu bersama adik perempuan nya, kalau saja dia tak mendapatkan beasiswa, mungkin Ica takkan berakhir dengan pria itu.
Tak terasa, air mata Azwar menetes begitu saja. Apa dia mampu menghadapi Ica? Setelah tau apa yang di lakukan ibu nya sendiri?
"Bangunkan, katanya pengen ketemu, malah mewek disini." Cetus Zen, membuat Azwar mendekat dan memanggil nama adik nya.
"Ica.."
Ica seperti terganggu, tak perlu waktu lama kedua mata Ica yang di hiasi bulu mata lentik itu terbuka sempurna.
"Kakak.." Pekik nya kegirangan lalu memeluk Azwar.
"Baby, hati-hati luka nya masih basah."
"Eehh ada Daddy juga, udah pulang ngantor Dad?"
"Iya lah, mana bisa dia masuk ke ruangan ini jika tak bersama Daddy." Jawab Zen, dia meletakan kresek dan tas nya di meja nakas.
"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan."
"Ya, hati-hati di jalan Bim." Bimo menganggukan kepala nya dan pergi dari ruangan rawat Nona muda nya.
"Kemana Hani, By?"
"Udah pulang Dad, katanya mau masak buat pacar nya." Jawab Ica, hidung nya terlihat seperti mengendus sesuatu yang beraroma manis.
"Itu hidung nya kenapa By?"
"Itu martabak pesenan Ica kan? Wangi.."
"Soal makan aja cepet, ini makan pelan-pelan ya sayang." Zen memindahkan martabak pesanan gadis nya ke piring dan meletakan nya di dekat Ica.
"Makasih Daddy."
"Sama-sama By, Daddy ke kantin dulu beli makan malam ya. Ada kakak mu disini, tapi jangan banyak gerak ya, luka mu masih basah."
"Iya Daddy." Zen mengecup singkat kening Ica dan mengusap lembut puncak kepala nya.
Zen melirik sinis ke arah Azwar, entah kenapa pria itu selalu bersikap seperti Azwar adalah saingan nya.
Setelah Zen menutup pintu, Azwar bernafas lega. Dia menarik kursi ke dekat brankar Ica.
"Ca.."
"Iya kak, kenapa?"
"Maafin kakak ya."
__ADS_1
"Lho kenapa? Kakak punya salah apa sama Ica?"
"Untuk perbuatan Ibu dan Meisya, Aku sudah tau semua nya dari Zen. Maaf Ca, kalau saja Kakak ada disini, semua ini takkan terjadi."
"Sudahlah kak, jangan mengungkit hal yang sudah terjadi. Ini semua sudah takdir, Ica gapapa kok."
"Apa kamu bahagia bersama pria itu?" Tanya Azwar, sebagai seorang kakak, dia ingin memastikan adik nya mendapatkan pria yang baik sebagai pendamping hidup nya.
Ica mengangguk cepat sebagai jawaban dari pertanyaan Kakak nya.
"Sangat Kak, Ica sangat bahagia sama Daddy. Daddy sayang sama Ica, dia baik, royal, cuma ya Daddy terlalu ganteng, jadi nya Ica suka minder sendiri kalo lagi jalan sama dia Kak."
"Kenapa minder? Kamu kan cantik, bukan sekedar cantik wajah, tapi hati mu juga. Jadi, harus percaya diri ya."
"Iya kak." Jawab Ica dengan senyuman manis nya.
"Ohh iya, kakak disini tinggal dimana? Rumah itu kan udah disita sama Daddy."
"Ngontrak Ca, di deket kampus kamu."
"Kakak kok bisa tau Ica kuliah di universitas internasional?" Tanya Ica.
"Dari bodyguard yang berjaga di bekas rumah kita, Ca. Bukan hal yang mudah membujuk mereka agar mau buka mulut, jadi Kakak menyogok mereka dengan kopi." Jawab Azwar sambil cengengesan.
Mendengar ucapan Kakak nya, Ica sontak tertawa. Orang lain menyogok itu dengan uang atau barang mahal, ini mah cuma pakai kopi.
Azwar tersenyum hambar melihat Ica yang ceria, bukan berarti dia tak ikut bahagia melihat Adik nya bahagia, tapi dia hanya menyayangkan kenapa harus Ica yang jadi korban?
"Apa pria itu menjaga mu dengan baik, Ca?"
"Iya kak."
"Kakak gak boleh bilang gitu, Anak buah Daddy juga manusia, ada kala nya mereka lengah meski pun Daddy mengerahkan banyak bodyguard buat jagain Ica."
"Bagaimana bisa bodyguard sebanyak itu tapi kecolongan Ca? Kamu tetap terluka seperti ini."
"Sudah lah kak, Ica gapapa. Luka ini gak ada apa-apanya di banding luka batin Ica." Kali ini raut wajah nya berubah sendu.
"Dari awal kamu memang anak yang kuat, kakak bangga sama kamu Ca, kamu mampu bertahan dengan semua nya, ini buah dari kebaikan mu Ca, berbahagia lah. Kakak ikut bahagia jika kamu bahagia juga." Azwar mengusap lembut rambut adik nya.
"Ehemm.." Kedua nya serentak menoleh, Zen berdiri dengan wajah datar nya, di tangan nya menenteng beberapa kresek berisi makanan.
"Kenapa gak di makan By? Kalau dingin nanti gak enak sayang."
"Ica keasikan ngobrol sama Kakak."
"Ngobrol sih boleh Baby, tapi jangan sampai lupa makan. Makan dulu ya.."
"Iya Daddy.." Ica memulai makan martabak yang sedari tadi sore terbayang dalam otak nya.
"Dah makan Bang? Makan dulu." Tawar Zen pada Azwar.
__ADS_1
"Eemmm, nanti aja.."
"Makan bareng, biar kalian akrab." Usul Ica, membuat Azwar mau tak mau pun harus menurut.
Zen membuka bungkusan makanan dari wadah dan mulai memakan nya, begitu juga dengan Azwar. Dia menyuap, lalu memperhatikan apa saja lauk di dalam wadah itu.
"Kenapa? Aku gak kasih racun di dalam makanan itu."
"Bukan begitu, jangan berburuk sangka dulu. Makanan ini enak, tapi terasa tak asing." Ucap Azwar.
"Aku membeli nya di warung makan dekat rumah sakit."
"Ohh begitu, lain kali aku akan kesana sendiri."
"Kuliah jurusan apa?"
"Manajemen keuangan." Jawab Azwar di sela makan nya.
"Sudah lulus?"
"Sudah, makanya aku pulang."
"Nilai mu?"
"IPK nya 3,9." Jawab Azwar.
"Kau pintar juga, nilai mu nyaris sempurna. Kau bekerja? Atau punya niat bekerja?"
"Tentu saja, kalau tidak bekerja aku mau makan apa? Tapi, lulusan terbaik sekali pun tetap susah mendapat pekerjaan." Keluh Azwar.
"Bawa berkas-berkas nya besok ke kantor ku, kau mungkin bisa bekerja disana."
"Benarkah?" Zen menganggukkan kepala nya.
"Terimakasih sekali, ternyata benar kata Ica kau memang orang baik."
"Aku baik hanya pada orang yang baik, jangan menyalah artikan kebaikan ku, jika berhianat sekali saja maka hidup mu takkan tenang."
"Gak ada guna nya berhianat, apalagi yang di hianati nya orang seberpengaruh Daddy, pasti menyusahkan jika punya masalah." Celetuk Ica, mulut nya penuh dengan martabak, hingga membuat ujung bibir nya belepotan.
"Ampun ini anak, udah gede juga makan nya tetep berantakan." Azwar mengambil tisu dan mengusap ujung bibir adik nya yang belepotan dengan coklat.
"Aku bersikap baik hanya karena kau baik pada Ica, tapi bukan berarti kau bisa seenak nya menyentuh Ica ku."
"Aahhh, begitu ya? Maaf kalau begitu. Aku kira karena aku kakak nya, kau takkan cemburu."
"Kau sama pria kan? Siapapun itu jika laki-laki, aku pasti cemburu, meski pun di kakak nya sendiri." Ketus Zen, membuat Ica tersenyum geli. Pria itu sangat menggemaskan jika sedang terbakar api cemburu.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
kali aja rindu poto mereka berdua😙