Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 121


__ADS_3

Ica keluar dari mobil jemputan dengan malu-malu, entah kenapa rasa nya dia malu untuk menginjakan kaki di kantor Zen, padahal biasa nya dia masuk tanpa keraguan.



"Aduh kok deg-degan ya? Kebiasaan ini perut suka mules." Gerutu Ica sambil memegangi perut nya yang terasa sedikit mulas, tapi bukan mulas karena kram datang bulan, tapi karena dia gugup.


"Nona, anda baik-baik saja?"


"Pak, bisa tolong ambilkan batu kerikil?" Tanya Ica, pak supir nampak mengernyitkan dahi nya pertanda heran.


"Untuk apa Nona?"


"Tolong ambilkan saja pak, cepat ya." Pinta Ica, pak supir mengangguk sambil menggaruk kepala nya, mungkin di kepala nya di penuhi berbagai pertanyaan untuk apa batu kerikil itu.


Tak lama, pria berseragam hitam itu datang dengan dua kerikil kecil di tangan nya, lalu memberikan nya pada Ica.


Gadis itu mengambil nya dan menyelipkan batu itu di celana hot pants yang dia pakai sebagai dalaman dress nya.


"Huhh, gagal anggun gara-gara gugup." Gumam Ica, gadis itu menghembuskan nafas nya pelan dan mulai berjalan memasuki kantor sang Daddy.


Ica dibuat gagal fokus oleh sosok pemuda tampan yang sedang berkutat dengan buku dan pulpen di tangan nya.


"Kakak.." Sapa Ica dengan ceria.


"Wahh cantik nya adik ku, mau ketemu Tuan Zen? Beliau ada di ruang meeting." Jelas Azwar.


"Terimakasih, aku memang cantik dari lahir kak. Kakak kerja jadi resepsionis?"


"Seperti yang kamu lihat Ca, kakak dapat pekerjaan yang bagus." Jawab Azwar dengan senyum yang terkembang di kedua sudut bibir nya.


"Yaudah deh, kakak lagi sibuk?"


"Sibuk sih enggak Ca, cuma kakak gak enak aja kalo harus ngobrol lama." Ucap Azwar sambil cengengesan.


"Kakak main dong ke rumah Daddy."


"Buat apa? Kakak gak enak harus bertamu ke rumah bos sendiri." Jawab Azwar.


"Lho memang nya kenapa? Kakak kan kakak nya Ica, wajar dong main ke rumah adik nya."


"Malu Ca, kakak cuma..."


"Malu kenapa? Kau tidak berpakaian?" Tanya suara yang terdengar tak asing. Siapa lagi kalau bukan Zen, dia bosan menunggu di ruangan meeting, jadi dia memutuskan menyusul gadis nya ke lobi.


"Bukan begitu Tuan Zen.."


"Kalau begitu nanti pulang bareng, aku izin bawa adik mu dulu."


"Baik tuan." Jawab Azwar pelan, kalau sudah Zen yang turun tangan maka tak ada alasan untuk menolak, karena semua orang pun tau kalau Zen paling tidak suka di tolak keinginan nya, apapun itu.

__ADS_1


"Kakak ini, kalau sama Daddy aja baru nurut, giliran sama adek nya sendiri banyak alesan."


"Udah Bby, ayo ke ruang meeting." Ica mengangguk dan pergi menjauh dari meja resepsionis tempat kakak nya bekerja.


Saat akan memasuki ruang meeting, Ica tiba-tiba menghentikan langkah nya, membuat Zen berbalik menatap wajah gadis nya.


"Kamu kenapa Baby? Sakit?"


"Perut Ica mules gara-gara gugup, Dad." Jawab Ica sambil cengengesan.


"Daddy kira apaan, ayo masuk mereka sudah tak tahan ingin melihat calon Nyonya Nicholas."


"Apaan sih Dad, Ica malu tau."


"Bawa enjoy aja sayang, kamu harus segera di perkenalkan ke khalayak ramai, biar semua orang tau kalau kamu milik Daddy."


"Iya iya Daddy tampanku." Jawab Ica gemas lalu menguyel-uyel pipi Zen, hanya Ica yang berani melakukan hal semacam itu pada Zen.


Zen membuka pintu ruang meeting dengan perlahan, membuat Ica memegang tangan Zen dengan erat.


"Ini bukan ajang uji nyali sayang, tenang lah. Hanya mengenalkan mu sebagai kekasih, itu saja."


Ica mengangguk sambil menundukan kepala nya, lalu mengikuti langkah Zen tanpa berani mendongakan wajah nya yang pasti sudah memerah.


"Selamat siang rekan kerja semua nya, kalian pasti sudah tau dengan maksud di adakan nya meeting mendadak ini."


Semua orang yang ada di ruangan itu mulai tegang, biasa nya ruangan ini terkenal angker karena sering menjadi saksi bisu kemarahan seorang Azzendra. Tapi melihat raut wajah nya yang datar dan santai, mungkin bukan kesalahan para pegawai yang akan di bahas disini hari ini.


Semua orang mengusap dada nya lega, menghembuskan nafas panjang nya, ternyata Zen tak marah-marah hari ini.


"Perkenalkan Wenthrisca Liu, atau akrab di sapa Ica. Kalian harus menghormati nya seperti kalian menghormati ku, karena dia juga bagian dari perusahaan ini." Jelas Zen, dia memasukan kembali saham atas nama Ica sebesar 15%.


"Tegakan kepala mu sayang.."


Ica mendongak perlahan, semua orang berdecak kagum saat melihat kecantikan yang di miliki calon istri dari pemilik mega perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.


"Dia kekasih ku, cantik dan manis, tapi kalian di larang keras untuk menatap gadis ku lebih dari 5 detik, atau mata kalian aku congkel satu persatu. Mengerti?"


"Kami mengerti tuan," Mereka pun kompak menundukkan pandangan nya karena takut di congkel mata nya oleh Zen.


"Kalau begitu, kita akhiri meeting unfaedah ini. Sekian dan terimakasih atas kehadiran nya."


Zen menarik gadis nya ke ruangan nya dengan terburu-buru.


"Pelan-pelan jalan nya Daddy." Rutuk Ica karena dia berjalan terseok-seok tak mampu mengimbangi langkah panjang Zen.


"Pendek." Ejek Zen, membuat Ica berhenti berjalan. Zen berbalik dan tanpa ragu langsung menggendong gadis nya ala bridal style.


"Daddy mah suka nya ngejek tapi bucin plus posesif nya gak ada lawan."

__ADS_1


"Kamu kan milik Daddy, jadi Daddy bebas ngatain kamu sepuas nya." Jawab Zen, membuat Ica kesal dan menepuk dada bidang Zen cukup keras, membuat pria itu meringis tapi tak menghentikan tangan mungil gadis nya yang terus saja memukuli dada nya.


Zen mendorong pintu ruangan nya dengan cepat dan menutup nya kembali dengan menggunakan lutut nya.


Pria itu membawa Ica ke sofa, membaringkan tubuh gadis nya dengan perlahan.


Ica tersenyum saat melihat tatapan Daddy nya yang tak biasa, mata nya menatap penuh nafssu, sudah di pastikan pria itu sedang meningkat gairahh nya.


"Dad.."


"Daddy pengen sayang, boleh?"


"Daddy lupa kalau Ica sedang datang bulan?" Tanya Ica sambil meraba rahang tegas Zen dengan lembut.


Zen yang tadi nya mengungkung gadis nya perlahan bangkit dan mengacak rambut nya.


"Daddy baik?"


"Tentu saja baik Bby, hanya senjata Daddy yang tak baik karena gagal masuk sarang." Jawab Zen. Ica terkekeh manja melihat Zen yang nampak frustasi karena gagal menyalurkan hasratt nya.


"Ciuman atau nyusu aja mau?"


"Boleh deh dari pada zonk." Jawab Zen.


"Btw, kamu sangat cantik memakai dress ini. Daddy suka."


"Terimakasih Daddy, kalau Ica gak cantik Daddy pasti gak bakal bucin gini sama Ica, iyakan?"


"Itu beda cerita nya sayang,"


"Apa beda nya Dad.." Ica terdiam saat Zen mencium bibir nya dengan liar, membuat Ica cukup kewalahan melayani permainan lidah Daddy nya.


Mereka pun berciuman cukup lama dengan tangan Zen yang mulai merayap nakal kemana-mana. Setidaknya dengan begini saja, sedikit nafsuu nya tersalurkan.


....


Di meja resepsionis, Azwar sedang melamun. Dia merindukan seseorang yang entah dimana dia saat ini, entah sudah berkeluarga atau belum, tapi nama gadis itu tetap terukir di hati nya.


Dulu, sebelum memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa ke luar kota, Azwar sempat menjalani hubungan dengan seorang gadis cantik tapi sederhana.


Namun sayang, akhirnya hubungan kedua nya harus kandas karena sang gadis tak sanggup jika harus LDR atau hubungan jarak jauh. Dengan terpaksa, Azwar merelakan hubungan nya kandas, karena dia ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi.


"Dimana sekarang kamu Sin? Aku rindu, apa kabar mu sekarang?"


....


🌷🌷🌷


Azwar bakalan nyari mantan pacarnya, jangan pada ngamok ya🤭🤭

__ADS_1


Masih ada vote nya? Ayo sumbangin kesini, author menerima dengan senang hati😂


__ADS_2