
Brian melirik sinis ibunya, dia tahu ibunya itu pasti takkan diam saja, biarkan saja. Apapun itu, dia pasti akan tetap bertahan bersama Risya.
"Bibi dengar kamu pergi dari rumah?"
"Kata siapa Bi?" Tanya Brian.
"Ibumu."
"Heemm, iya aku memang pergi. Tak ada guna nya juga terus tinggal di rumah itu." Jawab Brian santai, dia menarik kursi dan membiarkan istri nya duduk.
"Duduk sayang, pegel." Risya menurut dan duduk, tentunya dengan Brian yang berdiri tak jauh dari Istrinya itu.
"Kapan kamu akan pulang?"
"Tidak akan Bi, selama Ibu masih belum berubah, Brian takkan pernah pulang." Jawab Brian, raut wajah terlihat datar seperti biasanya.
"Tapi bibi akan kesepian Nak."
"Aku hanya akan berkunjung jika akhir pekan, selebihnya mungkin kita takkan bertemu, karena aku sibuk bekerja."
"Cckkkk, cuman jadi OB juga, sok sibuk!" Cibir Soraya.
"Daripada jadi jalangg?" Sindir Brian membuat Soraya seketika bungkam.
"Kamu bekerja Nak?"
"Tentu saja Bi, kalau aku nganggur, Risya sama anak aku mau ku kasih makan apa? Gak mungkin makan batu." Jawab Brian dengan cengiran kuda nya yang membuat Yasmin ikut terkekeh.
"Keponakan ku sudah dewasa ya, baguslah, belajar mandiri dan jadilah suami yang bertanggung jawab, Nak."
"Tentu saja Bi, aku tak ingin mengecewakan istriku."
__ADS_1
Soraya memutar matanya jengah, putranya itu selalu saja membawa-bawa nama Risya di setiap pembicaraan, itu membuat nya muak dan api kemarahan semakin membara, dia ingin membuat keduanya menderita, jahat memang padahal Brian adalah putranya, dan janin yang sedang di kandung Risya adalah cucu nya..
"Aku pergi dulu."
"Mau open BO ya, tante?" Celetuk Brian, tapi wanita itu memilih tetap pergi saja meski sudah di sindir habis-habisan oleh putranya sendiri.
"Hubungan kalian semakin memburuk."
"Dari awal memang begini Bi, jadi biarkan saja. Aku tetap akan membenci nya, kalau dia tidak berubah." Jawab Brian.
"Entahlah, ada apa dengan Soraya. Kenapa dia jadi begitu, padahal dulu dia sangat baik."
"Baik? Dari wajahnya aku tak yakin dia pernah menjadi wanita yang baik."
......
Di lain tempat, tepat nya di lokasi tempat Brian mengucap ikrar suci, terjadi kesibukan. Zen, Bimo dan Azwar, anak buah Zen sedang bergotong royong membereskan semua nya.
"Sabar, dia adik bungsu kita jangan lupa." Cetus Azwar dan diangguki oleh Zen.
"Bungsu sih bungsu, tapi jangan nyuruh gue nyapu lah."
"Yaudah, angkatin kursi sono. Ngeluh aja Lu, berisik." Ketus Zen, dia juga lelah membereskan semua nya, tapi ya mau bagaimana lagi. Kalau bukan hal yang penting, Brian juga takkan pergi.
Bimo cemberut dan meninggalkan sapu lidi beserta sekop nya, dia beralih mengangkat kursi dan gantian Azwar yang menyapu. Sedangkan ketiga istri-istri mereka, sedang berghibah lah biasa.
"Ehh, gimana jadinya nanti kalo kita semua dah lahiran ya, pasti rame deh." Ucap Hani.
"Heran deh, kenapa kita berempat bisa hamil kompakan hamil kembar coba? Kurang Risya nih, coba aja dia ada disini pasti makin seru." Keluh Ica, sambil ngemil telur gulung yang kebetulan lewat tadi.
"Iya, awalnya kan Lu duluan yang hamil kembar Ca, ehhh kita ketularan."
__ADS_1
"Gapapa lah, sekali langsung dua. Biar gak hamil lagi, ngelahirin itu sakit oyy." Ucap Ica sambil cengengesan.
"Iya lah, gue juga mau dua aja cukup."
"Dua anak lebih baik." Ucap Sintia.
"Idih, kayak program KB ya." Celetuk Hani yang membuat kedua teman nya itu kompak tertawa.
"Btw, ibu tiri Lu gimana Ca? Dah lama gak ada kabar, masih hidup kagak?"
"Kata Daddy sih masih, tapi di penjara." Jawab Ica.
"Lu gak ada niatan buat jenguk, Dek?" Tanya Sintia.
"Kagak sekarang, tapi gak tau kalau di ajakin Bang Azwar atau Kak Mei. Mau bagaimana pun dia yang udah ngurus gue sih, tapi gue masih gak terima aja di perlakuin gitu. Padahal gue ngerasa gak punya salah apa-apa."
"Kakak juga udah bilang sama Mas Azwar kalau marah nya jangan lama-lama kasian Ibu, tapi kayaknya kakak mu itu terlanjur kesal deh Ca." Ucap Sintia.
"Kejahatan ibu tiri Lu emang udah banyak sih, Ca. Jadi biarin aja dulu dia merenungi perbuatan nya di dalam penjara." Hani ikut nimbrung.
"Gue cuma anak tiri, tapi Bang Azwar sama Kak Mei kan anak kandung nya, ya mau semarah apapun hubungan antara anak dan ibu tak bisa di putus."
"Iya Ca, kakak dah bilang gitu. Tapi Mas Azwar masih marah, itu aja."
"Jangan di paksa, biarin dulu sampai luluh. Kita gak bisa maksain orang buat maafin kesalahan orang lain juga." Kedua perempuan itu kompak mengangguk, setuju akan perkataan Ica.
......
🌷🌷🌷🌷
Masih nungguin? maaf kalo garing😣😣
__ADS_1