
"Ohh ya Bim, aku ingin menikah besok saja." Celetuk Zen membuat Bimo melotot saja di buat nya.
"Berani sekali kau melotot padaku, Bimo!"
"Ta-pi tuan.."
"Hanya pernikahan sederhana, jadi kau punya waktu lebih banyak untuk menyiapkan resepsi nya." Ucap Zen membuat Bimo mengusap dada nya lega, dia kira pesta pernikahan mewah harus selesai dalam satu malam? Gila saja.
"Baik tuan, saya akan menyiapkan nya."
"Tapi Dad, apa surat-surat nya sudah di urus?" Tanya Ica.
"Sudah sayang, Daddy sudah mengurus nya cukup lama." Jawab Zen membuat Ica kembali memeluk pria tegap itu.
"Tak pakai gaun gapapa ya? Nanti pakai gaun nya pas resepsi aja."
"Gapapa Dad, Ica sebenarnya gak pake resepsi juga gak masalah yang penting kita sah aja dulu, biar dedek jelas status nya."
"Anak kita takkan kekurangan apapun sayang, kita pulang? Udara disini tak baik untuk mu sayang." Ucap Zen.
"Mereka gimana?" Tanya Ica mengkhawatirkan teman-teman dan kakak nya juga.
"Mereka bisa naik mobil Bimo sayang, kakak mu bawa motor."
"Ohh gitu, tapi Dad.."
"Nurut sama calon suami," Cetus Azwar membuat Ica tersipu mendengar kata calon suami.
"Yaudah Dad."
"Jangan lupa besok datang ke mansion." Peringat Zen.
"Mau apa?" Tanya Risya, membuat semua orang kompak menatap nya dengan tatapan tajam, termasuk calon pengantin nya.
"Kan aku mau nikah, Sya. Masa lupa?"
"Lahh iya, maaf aku lupa. Besok aku datang sama Brian, hati-hati di jalan bestie." Ucap Risya, Zen dan Ica pun pulang duluan dengan mobil nya, lalu di susul Bimo dan Hani yang membawa pulang Risya dan Brian, lalu terakhir Azwar dengan motor nya di ikuti anak buah Zen.
....
Sepanjang perjalanan, senyuman tak pernah surut dari bibir kedua insan yang tengah berbahagia. Ica bahagia karena di lamar, dengan begitu dia tak perlu khawatir dengan status anak nya nanti. Zen juga bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi suami sekaligus seorang ayah.
Ica benar-benar mewujudkan dua keinginan nya sekaligus, membuat nya merasa jadi pria yang paling beruntung.
"Daddy.."
"Ya Bby, kenapa sayang?"
"Kita rubah panggilan kita ya?"
"Jadi apa Bby?"
"Mami, Papi?" Usul Ica, membuat Zen tersenyum.
"Boleh Mi."
"Ihh Papi." Lalu kedua nya kompak tertawa, merasa geli dengan panggilan baru mereka.
"Geli ya Dad.."
__ADS_1
"Iya Bby, nanti saja setelah anak kita lahir, baru kita ganti nama panggilan kita ya?"
"Iya Dad, hati-hati nyetir nya jalan nya rusak." Peringat Ica, Zen kembali memfokuskan mata nya ke jalan, dia membawa calon istri dan calon anak nya, jadi harus sangat berhati-hati.
....
Singkat nya, mereka pun sampai di mansion. Ternyata di mansion pun sudah di persiapkan, mulai dari pelaminan sederhana dan meja yang akan di pakai Zen untuk mengucap janji suci esok hari.
"Bibi.." Panggil Ica saat melihat Bi Arin sedang ikut andil menyiapkan pernikahan nya.
"Iya, Nona." Jawab Bi Arin, lalu menghentikan sejenak kegiatan nya.
Ica menghambur memeluk Bi Arin, membagi sedikit kebahagiaan nya dengan orang yang selama ini begitu baik pada nya, bahkan sudah dia anggap sebagai ibu nya.
"Kok nangis Non? Jangan bersedih, harus nya Nona bahagia kan? Besok Nona akan menikah."
"Terimakasih sudah baik pada Ica, Bi." Ucap Ica, tangis nya tumpah di pelukan Bi Arin.
"Sama-sama Nona, tak ada alasan untuk tidak baik pada Nona, Nona gadis yang baik dan ceria. Sudah, jangan menangis malu sama Tuan Muda." Bi Arin mengusap lembut rambut Ica, dia ikut terharu dengan suasana yang tercipta. Kedekatan kedua nya memang sudah terjalin saat pertama kali Ica datang ke rumah ini.
"Bby, sudahlah. Jangan membuat suasana menjadi sedih begini, lebih baik kamu makan. Anak kita perlu asupan nutrisi yang banyak kan?"
"Anak?" Tanya Bi Arin.
"Ica sedang mengandung Bi, 6 minggu." Jawab Zen, membuat Bi Arin melerai pelukan nya.
"Benar Nona?" Ica menganggukan kepala nya sebagai jawaban.
"Selamat Nona, semoga sehat selalu dedek bayi nya, bibi ikut senang mendengar nya. Mau makan apa? Bibi masakan."
"Ica pengen makan ayam geprek buatan bibi, tapi kali ini jangan terlalu pedes ya Bi."
"Masakan saja Bi, apapun yang di inginkan Ica." Jawab Zen, membuat Bi Arin langsung pergi ke dapur memasak makanan pesanan bumil itu.
"Sambil nunggu makanan nya jadi, kita mandi dulu ya?"
"Iya Dad, mandi nya barengan ya.." Ajak Ica membuat Zen terlihat menimang.
"Nanti Daddy tak tahan, Bby."
"Kalau pelan-pelan gapapa kok Dad, aman." Jawab Ica membuat Zen tersenyum senang, lalu tanpa aba-aba langsung menggendong Ica ala bridal style.
"Daddy.." Rengek Ica manja.
"Kamu gak boleh kecapean pokok nya."
"Cuma naik tangga, Dad."
"Pokok nya gak boleh, setelah pernikahan kamar kita pindah ke bawah biar kamu gak cape naik turun tangga!" Tegas Zen, membuat Ica tak bisa menolak lagi. Dia paham benar Zen melakukan itu semua demi kebaikan nya, jadi dia memilih patuh terhadap calon suami possesif nya makin menjadi itu.
.....
Di sisi lain, Risya dan Brian juga baru sampai di rumah. Brian memutuskan untuk menginap lagi di rumah kekasih nya, karena turun hujan yang cukup deras membuat Risya melarang Brian pulang.
"Minum coklat panas kayak nya enak ya hujan-hujan gini."
"Iya, aku buatin dulu. Kamu tunggu disini." Jawab Risya, dia pun pergi ke dapur meninggalkan Brian.
Tapi Brian tak bisa duduk saja, dia mengikuti Risya ke dapur. Dia langsung mendekat dan memeluk pinggang Risya dari belakang, menyandarkan dagu nya di pundak Risya yang sedang menyeduh coklat instan.
__ADS_1
"Kok ngikut? Kenapa?" Tanya Risya pelan.
"Gapapa, aku gak bisa jauh dari kamu sayang."
"Ihh lebayy nya kamu, Bri."
"Ya, gapapa kan sama kamu doang." Jawab Brian manja. Hingga tangan nya mulai merayap nakal ke atas, memegang buah pepaya ranum nan kenyal.
"Brian, jangan nakal.." Pekik Risya saat tangan Brian meremass lembut buah kenyal nya.
"Cuma gini doang sayang, enak kenyal." Jawab Brian santai.
"Mesoom mode on." Gumam Risya, tapi membiarkan saja tangan Brian bermain di dada nya.
Tapi semakin lama, remasaan nya terasa lebih kuat dari sebelum nya, juga bibir pria itu yang mulai menciumi leher putih nya.
"Eemmm, Briaann..."
"Kenapa sayang? Kamu terang*ang?" Tanya Brian setengah berbisik, membuat bulu kuduk Risya meremang.
"Brian, jangan.." Pinta Risya, nafas nya mulai memburu.
"Kenapa sayang? Aku menginginkan mu, boleh kah?"
"Menginginkan apa, Bri? Jangan macam-macam."
"Aku ingin memiliki mu seutuhnya,"
"Tidak, aku takkan menyerahkan kesucian ku pada mu Bri."
"Kenapa?"
"Kita belum tentu berjodoh." Jawab Risya.
"Aku yang akan membuat kita berdua berjodoh sayang, lihat saja apa kau bisa menolak sentuhan ku?" Bisik Brian membuat Risya membulatkan mata nya, apalagi saat tangan Brian terasa meraba-rabaa ****** nya, belum lagi sesuatu yang keras terasa menusuk di belakang nya.
"Kumohon jangan Brian!"
"Kalau begitu beri aku pelampiasan sayang."
"A-apa?" Tanya Risya terbata.
"Aku boleh menjamah bagian atas?"
"Setidaknya itu lebih baik dari pada kehilangan kesucian kan?" Tanya Brian lagi,
"Terserah kau saja Brian, tunggu sebentar. Aku sedang mengaduk coklat panas nya."
Brian melepaskan pelukan nya di tubuh Risya dan ikut mengaduk coklat panas milik nya.
"Kita melakukan nya di kamar?"
"Iya, disini aku merasa tak bebas." Jawab Brian dengan senyum nakal nya.
.....
π·π·π·
Penyakit mesoom nya Brian lagi kambuh gaess, untung aja Risya tahan hargaπ
__ADS_1
Selamat hari senin, jangan lupa vote!πππ