
Ica tengah duduk termenung di sofa ruang ganti, sejujur nya dia merasa bersalah pada Zen karena tak bisa memberikan apa yang seharusnya dia berikan. Tapi rasa kesal di hatinya juga masih menggunung, bagaimana kalau laki-laki itu terus bertahan dengan masa lalu nya? Lalu apa yang harus dia lakukan? Tak ada, selain pergi menjauh dari kehidupan Zen.
Dari awal, dia tau resiko meminta pertolongan Zen. Tapi, kalau laki-laki itu membuang nya setelah bosan, apa yang harus dia lakukan? Tak ada yang mau menikahi gadis yang sudah rusak.
"Aku bingung, apa aku harus memberikan nya atau tidak." Gumam Ica, dia terlihat menimang dua stel pakaian haram di tangan nya.
"Yang pink atau yang biru?"
Hingga pilihan nya jatuh ke pakaian dinas berwarna biru navy, yang dia beli di mall bersama Hani waktu itu.
Ica memakai nya, sedikit menata rambut nya, juga memakai lipstik berwarna merah agar terlihat lebih menggairahkan.
Zen keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut nya, selain gagal mendapat jatah, dia juga di diamkan sang gadis, itu membuat mood nya berantakan.
Tapi itu beberapa detik sebelum Zen melihat Ica yang juga baru keluar dari ruang ganti dengan pakaian mini.
Zen menelan ludah nya dengan kepayahan, nyatanya tubuh Ica selalu membangkitkan gairah ke lelakian nya.
"Astaga, cobaan apa lagi ini.." Gumam Zen sambil mengusap kasar wajah nya.
"Kenapa berdiri disitu Dad? Tak berniat mendekat?" tanya Ica, gadis itu sudah duduk santai di sisi ranjang.
Ica dengan sengaja menyibak pakaian mini nya, hingga menampilkan paha putih mulus nya. Lagi-lagi Zen gagal fokus dan menabrak pintu ruang ganti, membuat Ica tersenyum geli melihat Zen yang salah tingkah.
Zen menutup pintu cukup keras, selain malu dia juga tak tahan melihat tubuh menggiurkan sang gadis.
"Sialan, pake nabrak pintu lagi.." Rutuk Zen, wajah nya memerah karena malu.
Zen segera memakai piyama tidur nya, meski sempat ragu untuk membuka pintu karena rasa malu nya masih mendominasi, tapi daripada semalaman berdiam di ruang ganti kan gak lucu? Jadinya, dia menyampingkan rasa malu nya.
Tapi, lagi-lagi Ica belum selesai menggoda nya. Gadis itu malah mengusapkan body lotion di tubuh nya, membuat Zen berkeringat.
"Huhh panass..." Dia menggerakan tangan nya, seolah di ruangan ini memang panas, padahal AC sudah menyala.
"Wajah Daddy merah, kenapa Dad?"
"E-enggak kok, mungkin perasaan mu saja By. Kenapa pake baju gitu sih?" tanya Zen tanpa melihat Ica.
"Sayang aja, belum di pake padahal masih baru dan bagus. Emang nya kenapa?"
"Gak.." Jawab Zen singkat.
__ADS_1
"Awww sakit Dad.." Ringis Ica.
"Kenapa By? Yang mana yang sakit sayang?" Zen berlari mendekat ke arah Ica dengan ekspresi khawatir nya.
"Dapat.." Ucap Ica dengan ceria, dia memegang tangan Zen dan mendorong nya hingga terjungkal ke kasur.
Ica merangkak menaiki tubuh Zen, menindih nya hingga membuat Zen kelabakan.
"Kenapa Dad? Biasa nya Daddy yang melakukan ini padaku kan?"
"T-tapi sayang, tolong jangan begini.."
Ica mulai nakal, tangan nya mulai meraba sesuatu di bawah sana yang terasa menegang di balik celana.
"Kenapa Dad? Daddy bisa menyentuh ku sesuka Daddy, sedangkan aku tak boleh?" Tanya Ica, lengkap dengan ekspresi genit nya.
"B-ukan begitu sayang, tapi waktu nya tidak tepat.."
"Terus? Kapan waktu yang tepat, apa itu nanti malam?" Tanya Ica, tangan gadis itu bergerak mengusap rahang tegas sang Daddy, membuat pria itu panas dingin.
"Kenapa kamu jadi agresif begini By?"
"Jadi apa mau mu?"
"Bermain dengan ku.."
"Hah, apa kau bercanda By?" tanya Zen, tadi gadis nya menolak, tapi sekarang dia yang memulai?
"Oke, Daddy harap kamu takkan menyesal dengan membangunkan singa yang tertidur."
"Aku tau dengan pasti apa yang aku lakukan dan apa resiko nya." Jawab Ica yakin, gadis itu turun dari tubuh Zen dan menarik pria itu agar terduduk.
Tangan mungil Ica bergerak lincah membuka satu persatu kancing piyama Zen, hingga lolos dan melempar nya ke sembarang arah.
Ica juga melucuti seluruh pakaian nya, hingga kedua nya sama-sama polos. Tanpa basa-basi lagi, Ica langsung menyerang bibir sexy Zen dengan liar seperti yang selalu Zen lakukan padanya.
Tentu nya, Zen menyambut serangan itu dengan senang hati, dia meladeni permainan Ica. Dia ingin tahu, seberapa pelayanan gadis nya.
Ica melepas bibir Zen, kini bibir itu berpindah ke bawah, sasaran nya leher kokoh Zen. Awalnya hanya mengecup saja, tapi lama-lama menjadi hisapan kuat yang meninggalkan bekas kemerahan.
"Jangan terlalu banyak By, besok aku pergi ke luar negeri."
__ADS_1
"Lalu? Selama ini, aku tak pernah melarang Daddy membuat tanda merah sebanyak apapun, tapi aku baru membuat nya beberapa Daddy sudah melarang?" Tanya Ica menghentikan sejenak kegiatan nya.
"Diam lah, hari ini hari pembalasan. Aku pastikan Daddy mengerang sepanjang permainan."
"Lakukan saja, Daddy ingin tau seberapa besar kemampuan mu memuaskan Daddy.."
Ica mulai melakukan apapun yang dia bisa, berbekal pengalaman nya saat bercint* dengan Zen, juga dari video-video haram di ponsel nya, sedikit demi sedikit dia tau cara memuaskan hasratt lelaki.
Ica memasukan senjata Zen ke dalam mulut nya, mengulumnya dengan penuh perasaan hingga membuat Zen memejamkan mata nya sesaat.
"Ahhh By.."
Ica tersenyum samar karena mulut nya penuh, tapi dia suka ekspresi keenakan Daddy nya.
"Sudah By, Daddy akan meledak jika kau tak berhenti sayang.." Pinta Zen, Ica menurut dan melepaskan timun itu dari mulut nya.
"Apa Daddy habis berlari marathon? Kenapa nafas Daddy tersengal." Zen tak menjawab, dia tau gadis nya hanya menggoda nya saja.
Ica kembali menaiki tubuh Zen, menduduki senjata Zen yang berdiri tegak menantang.
Ica menekan benda itu hingga masuk semua ke dalam inti nya yang sempit.
"Baby.." Zen mengerang saat merasakan senjata nya di jepit paksa oleh milik sang gadis.
"Kenapa Dad? Enak?" Tanya Ica jahil, belum selesai Zen dengan erangan nikmat nya, gadis itu sudah mulai bergerak naik turun perlahan.
Zen memegangi pinggang gadis nya, membantu nya agar tetap bergerak perlahan, dia bisa kalah telak kalau gadis itu mempercepat gerakan nya.
Tapi Ica tau maksud Zen, dia ingin Zen mengaku kalah atas permainan nya. Ica mempercepat gerakan nya hingga membuat Zen mengerang.
Byurrr...
"Daddy? Daddy tidur? Kenapa tidur di kamar mandi?"
Zen melongo, jadi semua nya hanya mimpi?
....
π·π·π·
wakaka, saking pengen sampe kebawa mimpi Zenπππ
__ADS_1