Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 143


__ADS_3

Tak lama, perawat datang dengan membawa sarapan, berupa bubur dan sup. Aroma nya menguar, membuat Zen yang sedang tertidur itu terusik, dia memegangi mulut nya dan berlari ke kamar mandi.


"Daddy.." Panggil Ica, perempuan itu ingin menyusul tapi dia ingat tak bisa berlari karena tangan nya masih di infus.


"Sus, tolong cabut jarum infus saya. Saya ingin menyusul suami saya,"


"Tapi Nona harus di periksa dulu."


"Emm cepatlah Sus, suami saya sedang muntah di kamar mandi." Ucap Ica, dia buru-buru berbaring, lalu perawat itu memeriksa keadaan Ica.


"Nona sudah baik-baik saja, jadi sudah bisa saya cabut infusan nya." Perawat itu membuka jarum infus di punggung tangan Ica dan menutup luka nya dengan plester.


Ica segera masuk ke dalam kamar mandi, dia terkejut saat melihat Zen sudah terkulai lemas di lantai setelah memuntahkan seluruh isi perut nya.


"Daddy, ya ampun kamu harus di periksa."


"Tidak Bby, tak perlu. Aku hanya masuk angin saja sayang." Jawab Zen kekeh tak mau di periksa.


"Keras kepala sekali kamu Dad, padahal ini juga untuk kesembuhan Daddy. Mau ya?"


"Nggak Bby.."


"Ihh nyebelin, yaudah aku gak mau urus Daddy. Aku akan biarin Daddy disini aja kalo tetep gak mau di periksa."


"Jangan gitu Bby, yaudah Daddy mau di periksa." Jawab Zen akhirnya.


"Harus di ancam dulu, baru mau." Sinis Ica, dia membopong tubuh Zen dengan susah payah.


"Sus, bisa tolong panggilkan dokter?" Pinta Ica.


"Baik Nona, sebentar." Jawab perawat itu ramah.


"Bby, bau.." Keluh Zen.


"Bau apa Dad? Gak ada bau disini, cuma ada wangi bubur, itu pun wangi bukan bau."


"Bisa singkirin dulu gak Bby, bau nya bikin Daddy mual." Pinta Zen, Ica pun menurut dan menutup bubur itu dengan wadah lain.


Tak lama, dokter datang dan segera memeriksa Zen. Meski sempat meronta, tapi akhirnya Zen bisa di periksa juga.


"Ada apa dengan suami saya, Dok?"


"Nona manis ini istrinya ya?" Ucap Dokter itu, membuat Ica mengangguk mengiyakan.


"Heii kau, jangan coba-coba menggoda istriku!"


"Maaf tuan Zen, menurut pemeriksaan saya anda baik-baik saja."

__ADS_1


"Tuh kan Bby, Daddy tak kenapa-napa." Ucap Zen meyakinkan istri nya, tapi Ica tentu takkan menyerah begitu saja.


"Tapi Dok, suami saya muntah-muntah terus dari tadi pagi, dia juga sensitif terhadap bau-bauan."


"Setiap pagi Nona?"


"Baru hari ini dok," Jawab Ica.


"Apa Nona sedang hamil muda?"


"Iya dok, saya juga kemarin muntah-muntah parah, sampe tenggorokan saya pahit. Tapi hari ini saya gak muntah-muntah, tapi malah Daddy yang muntah, anehh."


"Untuk pemeriksaan lebih lanjut, sebaiknya ke dokter kandungan saja. Menurut saya Tuan mengalami sindrom kehamilan simpatik, Nona."


"Kehamilan simpatik? Penyakit macam apa itu?" Tanya Zen ketus.


"Gejala muntah-muntah setiap pagi di sebut dengan morning sickness, biasa nya ibu hamil trimester pertama yang mengalami nya. Tapi bisa saja gejala itu berpindah pada suami, atau calon ayah jabang bayi, itu sudah sering terjadi."


"Jadi saya kena penyakit itu?" Tanya Zen lagi.


"Itu bukan suatu penyakit Tuan, ini bisa terjadi karena sang suami sangat mencintai istri nya."


"Kalau itu sih memang iya, Saya sangat mencintai istri ku." Jawab Zen dengan bangga nya.


"Jadi, sebaiknya anda ke bagian obygin untuk pemeriksaan lebih lanjut."


"Aku gak mau ya Bby."


"Kenapa Daddy?" Tanya Ica heran, sejak tadi Zen sangat menolak saat akan di periksa.


"Ya, nggak apa-apa sih cuma gak mau aja."


"Terserah lahh," Ica melengos pergi ke kamar mandi, dia lelah membujuk suami nya itu.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan. Selamat ngidam,"


"Hehh, apa maksud mu?"


"Ti-tidak tuan, maafkan saya." Jawab dokter itu lalu pergi dari ruangan tempat Zen di rawat, lebih tepat nya ruang rawat Ica, tapi di gantikan oleh Zen.


....


Berbeda situasi di rumah Risya, sepasang kekasih itu baru saja terbangun tapi Brian sudah bermanja-manja dengan kekasih nya, bahkan pemuda itu sempat-sempatnya membujuk Risya untuk bercintaa di pagi hari.


"Ayolah sayang, enak lho pagi-pagi." Brian merengek manja pada Risya.


"Enggak ya, kalau gak mau nyusu ya udah. Aku gak bakal maksa, aku mau mandi."

__ADS_1


"Iya iya mau sayang, mau.." Jawab Brian, buru-buru pria itu membuka semua kancing piyama nya dan langsung menyergap puncak buah kenyal Risya.


"Eemmm..." Risya melenguhh pelan, dia menikmati kelakuan Brian di tubuh nya.


"Kenapa? Kamu terangs*ng?" Tanya Brian sok polos, padahal dia tau benar kekasih nya sudah mulai terangsaangg karena sentuhan nya.


Dengan iseng, Brian meraba bagian bawah Risya membuat gadis itu refleks bangun dari rebahan nya.


"Brian, jangan nakal ya!" Peringat Risya.


"Pegang dikit sayang.."


"Nggak ya, aku marah pokoknya!" Ketus Risya.


"Sayang, gimana aku pengen. Sekali aja ya?" Bujuk Brian.


"Gak ada, mandi sana."


"Yuk, mandi bareng aja sayang."


"Nggak, sana duluan."


"Sayang, ayolah. Aku jamin pasti enak, yuk."


"Kamu maksa atau kita putus Brian?" Ancam Risya membuat Brian berhenti membujuk Kekasihnya dan memilih pergi ke kamar mandi.


"Itu cowok ngebet amat, emang nya seenak apa sih?" Gumam Risya.


"Makanya cobain dulu, kalau udah nyobain satu kali, pasti ketagihan sama rasa nya." Celetuk Brian, yang ternyata keluar mencari sabun.


"Napa keluar lagi?"


"Gak ada sabun mandi di dalem yang." Jawab Brian seadanya.


"Ohh iya, aku lupa belom ganti sabun yang baru." Risya pun mengambil stok sabun di dalam lemari dan memberikan nya pada Brian.


"Yakin nih gak mau mandi bareng?"


"Nggak, sana mandi. Aku mau buat sarapan."


"Yaudah, yang enak ya masak nya." Risya hanya melirik sinis ke arah Brian dan memilih pergi sebelum otak mesoom nya kembali on, dan dia akan kesusahan menangani nya nanti, bisa-bisa dia bolos ngampus gara-gara Brian.


.....


🌷🌷🌷


Hihh si brian🤣

__ADS_1


__ADS_2