
Suara langkah kaki terdengar menggema di ruangan yang di tempati seorang perempuan tawanan, derap langkah kaki itu mendekat membuat sang pemilik raga merasa ketakutan, dia merasa seperti ajal nya sudah dekat.
Chloe memejamkan matanya, dia benar-benar ketakutan saat ini, tak ada siapapun yang bisa menolong nya, bahkan orang tuanya sendiri sepertinya tak peduli kalau dia menghilang dan tengah berjuang hidup di tempat yang entah ada dimana.
"Apa kabar Nona Chloe?" Tanya suara yang terdengar tak asing, siapa lagi kalau bukan suara Brian. Hanya saja, Brian yang saat ini berdiri di depan Chloe itu Brian yang berbeda dengan Brian yang pernah dia temui, sangat jauh berbeda. Dari suara nya saja sangat membuat Chloe terintimidasi.
"Kau gagu? Apa yang sudah anak buah ku lakukan padamu, hingga kau tak bisa bicara hmm?" Brian mencengkram dagu Chloe dan langsung menghempaskan nya dengan kasar.
Brian mengeluarkan ponsel nya lalu memutar sebuah video, dimana Chloe sedang mengata-ngatai Risya Pelakor dengan teriakan yang lantang.
"Kau bisa berteriak begini lagi disini, Nona?"
"Lalu kemana Chloe yang begitu berani mengatai kekasihku dengan panggilan pelakor?" Ucap Brian membuat Chloe melotot, saat Brian memperlihatkan video saat dia menampar Risya hingga membuat nya terjatuh, bahkan sudut bibir nya mengeluarkan darah juga meninggalkan bekas lebam.
"Brian, aku minta maaf."
"Maaf? Apa itu mampu membuat mental Risya kembali seperti dulu? Tidak, Chloe! Tidak semudah itu." Tegas Brian, membuat Chloe menunduk.
"Aku tau aku salah, Brian. Aku minta maaf."
"Kalau begitu, kembalikan kepercayaan diri kekasihku dalam waktu 2 jam, bisa? Buat semua orang yang kembali menghormati dan menatap Risyaku dengan tatapan seperti biasanya, bukan tatapan sinis seperti hari ini." Ucap Brian membuat Chloe bungkam. Ucapan dan tantangan Brian rasanya takkan bisa dia penuhi, dalam waktu 2 jam mengembalikan kepercayaan diri? Tidak mungkin bahkan mustahil.
"Bisakah? kenapa kau mendadak menjadi pendiam?"
Brian menyalakan lampu, lukisan-lukisan mengerikan hasil karya Brian kembali terlihat menghiasi dinding membuat siapa saja bergidik melihatnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku lukis wajahmu dengan ini?" Tanya Brian sambil memperlihatkan pisau kecil yang tajam mengkilat di timpa cahaya lampu. Membuat Chloe refleks meronta, berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Kau takut? Tak bisa di percaya, seorang Chloe merasa takut?" Brian menyeringai, dia berjalan mendekat dan..
Sreettt...
"Aaarrggghhhh, sakittt Brian!" Teriak Chloe saat Brian benar-benar melukai wajah nya dengan pisau kecil itu. Darah segar mengalir dari luka itu, Brian sengaja menggores nya cukup dalam membuat perempuan itu kesakitan.
"Sebelah lagi aku akan melukisnya besok, jadi tunggu saja. Selamat menikmati penderitaan mu, Chloe. Hati-hati dengan lalat penyuka darah, dia pasti akan datang mendekat dan hinggap di luka mu itu lalu bertelur dan akhirnya luka itu akan membusuk dan di penuhi belatung, aku tak sabar mendengar mu memohon untuk kebebasan!" Ucap Brian lalu tertawa, dia pergi dari ruangan itu dengan membanting pintu dengan kuat, meninggalkan Chloe yang menangis menahan rasa sakit karena luka yang di buat Brian.
'Assh sial, kalau saja aku tau kalau Brian itu harimau, pasti aku takkan nekat untuk mendapatkan nya, dia sangat menakutkan!' Batin Chloe. Sedikit demi sedikit penyesalan itu datang dalam hatinya, bukan hanya karena sesal tak tahu bagaimana Brian yang sebenarnya, tapi dia juga menyesalkan sikap kedua orang tua nya yang begitu egois, mereka rela mengorbankan anak mereka demi harta.
...
"Honey.."
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Hani sambil berusaha membuka resleting gaun nya.
"Butuh bantuan?" Tawar Bimo. Hani dengan cepat mengangguk, dia memang butuh bantuan suaminya untuk membuka resleting gaun itu. Selain berat, gaun ini juga membuat nya tak bisa bergerak dengan leluasa karena bagian bawahnya yang mengembang.
Bimo menurunkan resleting gaun istrinya, tak sengaja dia membelai lembut punggung mulus Hani, membuat darah perempuan hamil itu berdesir. Sudah satu minggu keduanya berpuasa karena Bimo yang selalu menolak saat Hani minta duluan, karena dia takut helm senjata nya menyundul kedua anaknya.
"Sayang.." Panggil Hani, membuat Bimo menoleh. Kira-kira apa yang akan di minta oleh sang istri dengan suara manja seperti itu?
"Kenapa istriku?"
__ADS_1
"Pengen dong Yang, udah seminggu puasa. Lagian ini kan malam pertama kita setelah nikah, masa absen lagi sih? Keburu karatan nih lubang aku kelamaan gak kamu banjirin." Rengek Hani dengan suara manja nya, membuat Bimo terkekeh.
"Baiklah Sayang, ayo kita buka puasa." Jawab Bimo, lalu segera membuka gaun yang di pakai istrinya, juga membuka setelan tuxedo yang sejak tadi pagi membungkus rapat tubuh atletis nya.
Bimo langsung menyerang bibir Hani dengan buas, Hani juga tak mau kalah dia membalas lumaatan bibir itu tak kalah buasnya.
Hani terjatuh di ranjang dengan Bimo yang tepat di atasnya, dia meraba-raba tubuh istrinya yang polos, juga bermain-main di sekitar lubang sempit nan gelap itu membuat Hani bergerak tak karuan saking nikmat nya. Hingga saat mata mereka bertemu, seketika mereka ingat kalau...
"Kita belum mandi." Pekik keduanya, refleks melepaskan ciuman mereka.
"Kita harus mandi dulu sebelum ritual suami istri, Sayang."
"Ya, sebaiknya kita mandi dulu." Jawab Bimo lalu melangkah ke kamar mandi di ikuti Hani di belakangnya.
Keduanya pun mandi di iringi suara canda tawa, tapi beberapa menit kemudian suara tawa itu berubah menjadi ciplakan dan teriakan kenikmatan dengan desahaan yang membuat orang yang mendengar nya pasti merinding, apalagi yang jomblo.
Malam pertama sepasang suami istri itu di kamar mandi, tak berbeda jauh dengan Zen dan Ica yang melakukan malam pertama mereka di kamar rumah sakit. Sebelas dua belas lah ya, kan author yang bikinš¤
......
š·š·š· m
maaf telat upnya readers, author nya mabuk nih, pusing terus seharian š¤£
jangan lupa vote ya, hari Senin iniš¤ yang pelit vote atau hadiah di larang keras baca cerita ini, apalagi yang doyan ngasih hate komen! author tandainš¤£š¤£š¤£š¤£ Canda dengg candaš¤
__ADS_1