
Setelah dari rumah sakit, Risya dan Brian bermaksud berkunjung ke rumah orang tua nya, sekedar mampir meski ini bukan keinginan Brian tapi atas paksaan Risya. Brian yang bucin parah pada Risya, apalagi setelah tau kalau benih nya berhasil tumbuh di rahim Risya, makin bucin saja dia di buatnya.
"Yakin, Yang?" tanya Brian saat keduanya sampai di depan rumah mewah bertingkat 3 bergaya eropa, kediaman keluarga Brian sebenarnya, tapi dia benar-benar tak bisa hidup dengan tenang di tempat ini.
"Kenapa Sayang? Kamu jangan selalu nethink sama ibu kamu, siapa tau dia udah beneran berubah kan siapa yang tau?"
"Yaudah ayo, Sayang." Brian merapatkan jemari besar nya dengan jemari kecil mungil nan lentik milik Risya.
"Selamat siang Tuan muda."
"Ya Siang, Ibu ada?"
"Ada tuan, silahkan." Jawab penjaga rumah mempersilahkan anak sang pemilik rumah itu masuk. Brian membuka pintu utama, alangkah terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang sangat menjijikan tersaji di depan mata mereka.
Bagaimana tidak, Soraya tengah bergerak naik turun di atas pangkuan seorang pemuda yang bisa di tebak dia seusia nya. Sangat menjijikan membuat Brian murka.
"Ohhh jadi ini kelakuan wanita yang mengaku sebagai seorang Ibu?"
Prokk.. prokk.. prokk..
Brian bertepuk tangan saat melihat kedua sejoli yang nampak panik saat perbuatan mereka tertangkap basah oleh putra nya sendiri, Pemuda itu langsung mendorong Soraya hingga terjungkal dan mengambil pakaian nya lalu masuk ke kamar tamu. Sedangkan Soraya, hanya bisa menutupi tubuhnya dengan dress.
"Kenapa di tutupi hahh? Bukankah tubuh jalangg mu itu sudah di lihat banyak pria, lalu kenapa terlihat malu saat putramu sendiri yang melihat tubuhmu? Sungguh menjijikkan."
__ADS_1
"Sayangg.." Lirih Risya, dia mencoba menenangkan Brian yang emosi nya sudah memuncak.
Dari dulu, Soraya adalah wanita penggila berondong. Dari awal perselingkuhan yang ketahuan, lalu bercerai hingga saat ini ternyata dia masih belum berubah.
"Apa kau tak malu hah? Bercintaa dengan pria yang lebih pantas di sebut putramu, memalukan sekali."
Soraya beringsut dan memakai pakaian nya dengan cepat saat Brian memalingkan wajahnya. Dia jijik melihat Soraya saat ini, kalau saja bukan karena keinginan Risya dia takkan mau menginjakkan kaki nya di rumah ini lagi.
"Brian.."
"Apa?" Berang Brian membuat Soraya kembali terdiam.
"Maafkan ibu Nak."
"Sayang, tak baik bicara seperti itu. Mau bagaimana pun beliau ibu kandung kamu, Sayang." ucap Risya lembut sambil mengusap pundak Brian.
"Kita pulang saja, Yang. Aku mual melihat wajah nya itu." Brian menarik tangan Risya dan bersiap membawanya pergi.
"Tunggu Bri, ada sesuatu yang ingin ibu tunjukan!" Brian membalikan tubuhnya, dan menatap tajam wajah ibunya.
Soraya memperlihatkan sebuah gambar yang memperlihatkan seorang gadis tengah memeluk seorang pria di atas motor dengan mesra.
"Kamu yakin kalau Risya itu yang terbaik? Lihatlah, dia berpelukan dengan pria lain di atas motor."
__ADS_1
"Tentu saja aku yakin, dan perlu kau tahu. Risya ku sedang mengandung anak ku!" Tegas Brian membuat Soraya menganga.
"Brian, bisa saja itu bukan anak mu, dia bisa saja selingkuh dengan pria lain dan hamil." Kompor Soraya membuat Brian menyeringai.
"Sudah kuduga, kau pasti takkan mudah berubah." Gumam Brian.
"Asal kau tahu saja, Nyonya Soraya yang terhormat. Pria ini adalah aku!"
Wajah Soraya mendadak pucat pasih, apa waktu itu dia salah lihat? Rasanya tidak, tak mungkin dia tak mengenali putra nya sendiri kan? Dan fakta nya dia memang tak mengenali putra nya sendiri.
"Ibu macam apa yang tak tahu postur tubuh anak nya sendiri? Semua nya sudah membuktikan kalau kau bukan orang tua yang baik."
"Cukup, tak perlu menjelek-jelekkan Risya di depan ku. Sekeras apapun kau berusaha, itu takkan berhasil. Aku lebih percaya Risya dari pada kau, wanita bermuka dua, berhati busuk!"
"Brian.."
"Jangan pernah muncul di hadapan ku lagi, bahkan saat aku menikah nanti, ku harap kau tidak datang." Ucap Brian lalu pergi bersama Risya meninggalkan Soraya yang terduduk lemas. Selain malu, dia juga merasa putus asa. Dia benar-benar sudah di benci anak nya sendiri, lalu bagaimana dia akan menjalani hidupnya ke depan nya nanti? Sendirian kah?
Wajah Brian memerah, sepanjang perjalanan dari rumah Orang tuanya hingga sampai di kediaman Risya, pria itu terus diam saja tanpa bicara sepatah katapun, membuat Risya merasa bersalah. Kalau saja dia tak memaksa Brian untuk menuruti keinginan nya, pasti semua ini takkan terjadi, dan hubungan antara ibu dan anak itu semakin memburuk.
......
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Dihh🙄