
Malam hari tiba, Meisya bersiap untuk beristirahat. Dia terus berguling kesana kemari karena rasa kantuk tak kunjung datang juga, padahal biasanya jam segini dia sudah tepar, atau bermimpi bertemu dengan oppa Korea.
Hingga tak lama kemudian, Arian datang dengan wajah datar nya. Pria itu baru saja menyelesaikan shift pagi nya.
"Lho, kok belum tidur cantik?" Tanya Arian sambil mendekat, dia membuka seragam nya dan menggantung nya di sandaran kursi di depan meja rias.
"Gak bisa tidur, pengen nya di peluk." Rengek Meisya, membuat Arian terkekeh geli mendengar ucapan Meisya.
"Sebentar, aku mandi dulu ya."
"Gak usah, aku suka bau tubuh kamu." Ucap Meisya, lalu menarik tangan Arian hingga membuat nya terduduk di bibir ranjang.
"Gak enak, lengket Sayang."
"Aku gapapa kok, ayo temenin dulu bobok." Bujuk Meisya, kalau sudah begini ya mau bagaimana lagi, menurut saja. Arian berpikir, dia akan mandi setelah Meisya tidur saja. Itu pun kalau dia tidak ikutan ketiduran juga.
Arian pun pasrah, saat Meisya terus menarik tangan nya. Pada akhirnya, keduanya berbaring dengan posisi berhadapan, Arian mengusap lembut wajah Meisya lalu tersenyum karena wajah cantik nan bulat itu merona seketika saat tangan nya mengenai kulit wajah.
"Kamu selalu saja merona, Sayang." Ledek Arian sambil terkekeh.
"A-aku malu, lagipun aku tak pernah di perlakukan seperti kamu memperlakukan aku." Jawab Meisya.
"Ya aku tahu, jadi aku yang akan meratukan mu semampuku, Sayang."
"Terimakasih, Mas." Jawab Meisya malu-malu, tentu saja membuat Arian terkekeh kembali.
"Nah kan kedengeran nya lebih enak daripada manggil aku kakak." Sindir Arian.
Meisya hanya tersenyum lalu mendekat dan menduselkan wajah nya di dada bidang Arian, tempat nya bersandar nyaman selama beberapa bulan ini.
Arian merasakan gelenyar aneh saat wajah perempuan itu terus bergerak-gerak di dada nya, itu membangkitkan jiwa kelelakian nya yang sudah lama tak terpenjara.
"Sssshhh.." Arian mendesis pelan saat tak sengaja tangan nya malah menyentuh salah satu buah kenyal di dada Meisya, dan seperti nya perempuan itu tak menyadari nya karena sibuk dengan kegiatan nya.
"Mas, kamu keringetan gini." Tanya Meisya saat melihat Arian tiba-tiba saja berkeringat, padahal AC dalam keadaan hidup saat ini.
__ADS_1
"Apa AC nya rusak ya? Tapi aku gak kepanasan tuh." Lama-lama wajah Arian terlihat memerah seperti menahan sesuatu, lalu menatap Meisya dengan tatapan mengiba.
Sedetik kemudian, benda kenyal tak bertulang itu menempel di bibir Meisya, lagi-lagi ciuman lembut namun mampu membuat gairah nya bangkit seketika. Meisya membalas setiap *******-lumatann yang di lakukan Arian.
Dia melenguh pelan di sela ciuman nya saat tangan Arian menyusup ke dalam pakaian tidur nya, meremass bukitan kembar miliknya, memainkan buah kecil di puncak buah ranum itu dengan lembut.
Tak heran buah kenyal Meisya masih tetap kencang dan ranum, meskipun bagian bawah nya sudah pernah di masuki pria lain, tapi Meisya tak pernah membiarkan laki-laki hidung belang itu meremass buah kenyal nya, hanya membolehkan untuk menyesap ujung nya saja.
"Aassshh, Mas.." Meisya meracau saat dengan tiba-tiba Arian membalik posisi, hingga membuat Meisya berada di bawah kungkungan nya saat ini.
Secara perlahan dia melucuti pakaian yang perempuan itu pakai, lalu tanpa basa-basi lagi dia langsung menyergap puncak buah kenyal Meisya dengan buas nya.
Arian memainkan lidah nya memutar-mutar di puncak buah kenyal Meisya, membuat perempuan itu kelojotan karena sensasi yang membuat nya sangat bernafsuu.
"Aaahhh.." lagi-lagi ******* lolos dari bibir mungil nya, membuat Arian semakin semangat untuk membuat Meisya menjadi miliknya seutuhnya.
Arian menghentikan kegiatan nya sejenak, dia menatap Meisya yang juga menatap nya dengan tatapan sayu penuh damba.
"Apa boleh aku melakukan nya?" Tanya Arian meminta izin, sesuai janjinya dia takkan pernah menyentuh Meisya tanpa izin. Meisya mengangguk, dia sudah dibuat bernafsu saat ini, ya masa gak jadi masuk.
Setelah di rasa cukup, Arian langsung membuka pakaian nya dan melempar pakaian nya sembarang, Meisya menatap kagum pada tubuh Arian.
Tubuh atletis dengan otot-otot yang menonjol di tangan pria itu, deretan roti sobek yang membuat Meisya kesulitan menelan ludahnya sendiri. Ini pertama kali nya dia melihat tubuh Arian yang ternyata sangat menggiurkan.
"Tubuhku bagus kan? Aku tahu Sayang, tapi biasa aja natap nya kali. Sampe gak ngedip gitu," kekeh Arian, lalu kembali merunduk dan meraih bibir Meisya lagi.
Pria itu menggesekan senjata nya sebagai permulaan, lalu dengan sekali sentak saja benda itu berhasil menerobos gawang milik Meisya yang kurang penjagaan.
"Kenapa, sakit kah?"
"Enggak Mas, cuma kaget aja. Gede banget soalnya," jawab Meisya, Arian hanya mengangguk lalu mulai bergerak maju mundur perlahan, membuat Meisya meracau nikmat, apalagi saat ritme permainan semakin cepat.
Hingga penyatuan itu selesai setelah satu jam keduanya bertarung di atas ranjang, Arian ambruk di atas tubuh Meisya, keringat bercucuran menetes membasahi wajah tampan nya, Meisya mengusap nya dengan tangan lalu mengusap lembut kepala belakang pria itu.
Selain tampan, tubuh yang menggoda untuk di gerayangii, ternyata pria itu juga gagah, stamina nya tak perlu di pertanyakan lagi, pokoknya Meisya di buat KO.
__ADS_1
Arian berguling ke sisi kiri Meisya, lalu menarik pinggang perempuan itu mendekat padanya, memeluknya dengan erat.
"Terimakasih Sayang, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawab Meisya.
"Hah? Apa, tolong katakan sekali lagi."
"Aku juga mencintaimu, apa itu kurang?"
"Aaaa aku bahagia, akhirnya kamu membalas cintaku juga."
"Bukan nya terbalik? Aku yang pertama menyukai mu, tapi karena aku sadar diri jadi aku memendam nya."
"Tak penting siapa yang duluan naksir, yang penting sekarang kita sudah tahu perasaan kita masing-masing." Jawab Arian, Meisya mengangguk dalam dekapan hangat Arian.
"Besok, kita berkunjung ke sel ibumu. Kamu setuju? Sekalian minta restu."
"Kamu serius Mas?" Tanya Meisya sedikit tak percaya dengan apa yang di ucapkan Arian.
"Baik atau buruk, dia tetap ibumu sayang. Tapi kalau jawaban nya masih sama, atau dia masih belum berubah, jangan salahkan Mas kalau kita tetap akan menikah dengan atau tanpa restu ibumu, Sayang."
"Aku setuju Mas, mengingat bagaimana tingkah Ibu, aku tak yakin dia akan memberi kita restu tanpa syarat." ucap Meisya, dia tahu bagaimana licik ibu nya.
"Ya sayang, aku juga tahu. Masalah itu kita pikirkan besok, sekarang tidurlah. Kamu pasti kelelahan setelah aku gempur, enak gak?"
"Enak kok, tapi udah nya aku lemes Mas."
"Berapa kali meledak coba? Sampe banjir gitu."
"Mass.." rengek Meisya manja, membuat Arian tergelak. Keduanya pun mengeratkan pelukan, menarik selimut lalu larut dalam mimpi indah, apalagi setelah tahu perasaan masing-masing, membuat tidur mereka terasa lebih nyenyak.
......
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
ciee yang abis unboxing 🤭🤭