
"Daddy, yuhuu..." Pagi-pagi Ica sudah sibuk mencari keberadaan sang suami yang entah kemana pagi-pagi begini.
"Daddy.. Sayang.." Panggil Ica lagi, tapi nihil tak ada sepotong orang pun di rumah ini, entah kemana semua orang. Bahkan Bi Arin yang biasa nya stay 24 jam di dapur pun tak terlihat batang hidung nya.
"Haduhh ini orang pada kemana sih? Gak mungkin ninggalin aku sendirian di rumah segede ini kan?" Gumam Ica, perempuan hamil itu refleks memegang tubuh nya, merasa ngeri sendiri kalau harus tinggal seorang diri di rumah sebesar ini.
"Daddy.." Panggil Ica lagi, hingga kaki nya tak sengaja menginjak sesuatu.
"Apa ini? Bunga mawar?" Gumam Ica, dia memungut kelopak bunga yang bertabur dari ruang tengah hingga keluar mansion.
"Ada apa ya? Kayak orang mau lamaran!"
Ica mengikuti kemana bunga itu mengarah, dan ternyata berhenti di taman belakang. Dia melihat banyak sekali meja dan kursi yang sudah siap, taman itu di sulap menjadi pesta kecil-kecilan.
Ica berdiri mematung, apa ini di siapkan untuk nya?
"Daddy.." Panggil Ica, yang di panggil itu langsung berbalik dan tersenyum saat melihat sang istri yang sudah berdiri di belakang nya.
"Apa ini Dad?" Tanya Ica.
"Hanya pesta kecil-kecilan untuk nenyambut kehamilan mu, Bby."
"Jadi ini semua buat Ica, Dad?" Tanya Ica, kedua mata nya siap menurunkan hujan badai.
"Tentu saja untuk istri kesayangan Daddy." Jawab Zen, mengusap lembut pipi gemil sang istri.
"Terimakasih Daddy, Ica sangat merasa di istimewa kan disini." Ica menghambur memeluk suami nya dengan erat, Zen mengusap lembut kepala Ica, melabuhkan beberapa kali kecupan mesra di puncak kepala nya.
"Kamu pantas mendapatkan nya Bby, kamu ratu bagi Daddy, jadi kamu pantas di ratukan sayang." Jawab Zen.
"Udah jangan mewek, jelek Lo kalau nangis." Celetuk seseorang yang Ica tau persis suara itu, dia melerai pelukan suami nya dan dia berteriak kegirangan saat melihat dua sahabat nya juga hadir disana, siapa lagi kalau Hani dan Risya lengkap dengan Bimo dan Brian.
"Bestiee.." Ketiga nya berpelukan, sudah lebih 10 hari mereka tak bertemu karena Zen sangat melarang keras istri nya pergi kemana pun kecuali bersama dirinya.
"Kalian kok bisa disini sepagi ini sih?"
"Suami mu yang nyuruh, katanya mau rayain kehamilan kamu." Jawab Hani.
"Beneran?"
"Iya, dia nelpon pacar aku terus aku nelpon Risya dan dia setuju, jadi yaudah. Surprisee.."
__ADS_1
"Terimakasih lho udah mau datang."
"Pasti dong, kita kan soulmate." Jawab Hani, sedangkan Risya lebih banyak diam, entah apa yang ada dalam pikiran nya.
"Bang Azwar sama kak Mei kesini juga kan Dad?" Tanya Ica, sontak saja mendengar nama Mei, wajah Brian mendadak pias , tapi sebisa mungkin dia menutupi nya.
"Mereka lagi di jalan sayang." Jawab Zen, mulai menangkap keanehan Brian.
"Yaudah, kita duduk-duduk dulu yuk?" Ajak Ica pada kedua teman nya, sedangkan Brian lebih memilih bergabung dengan Bimo dan Zen.
"Bisa kita bicara bertiga? Penting."
"Boleh." Jawab Brian, raut wajah nya terlihat lebih santai.
Ketiga nya pun pergi meninggalkan taman belakang menuju ruang kerja Zen.
Mereka duduk saling berhadapan di sofa, Zen menatap nya dengan tatapan datar, begitu pun Bimo. Tapi Brian masih terlihat santai.
"Jujur Brian, kau yang sudah menculik Meisya kan?" Tanya Zen langsung to the point. Brian tergelak, membuat bos dan asisten itu kompak mengernyitkan dahi mereka heran.
"Bagaimana bisa kalian menuduh aku menculik wanita itu tanpa bukti?" Tanya Brian.
"Karena kau punya hubungan dengan Elang."
"Tapi dia suami dari bibi mu, Brian." Kali ini Bimo yang angkat bicara.
"Mantan, hanya mantan suami." Tekan Brian.
"Iya mantan suami bibi mu."
"Lalu?" Tanya Brian.
"Bisa saja kau membalas dendam pada Elang lewat Meisya yang notabene nya adalah selingkuhan Elang."
"Apa untung nya bagiku, lagi pun untuk apa aku repot-repot melakukan hal sekotor itu?"
"Dendam." Cetus Zen, membuat Brian menyeringai.
"Aku memang pendendam, lalu? Apa manfaat nya untuk mu Tuan Zen, kalau pun memang aku yang menculik nya, apa untung nya untuk mu?" Tanya Brian, membuat Bimo heran. Ternyata anak kecil sekelas Brian mampu menjawab pertanyaan semacam ini.
"Benar, aku yang menculik Meisya dan menyekap nya di gudang bawah tanah selama 2 bulan." Jawab Brian, tatapan mata nya terlihat serius.
__ADS_1
"Apa motif mu melakukan semua itu, Brian? Kau masih anak-anak."
"Hanya kasihan melihat keadaan bibi." Jawab Brian datar.
"Kudengar dia sakit."
"Ya, dia serangan jantung setelah melihat perselingkuhan Elang dan Meisya, sampai saat ini bibi masih koma." Jelas Brian, ada raut kesedihan tergambar di wajah nya, tapi dia masih berusaha menutupi nya dengan wajah datar.
"Lalu kau merasa sakit hati lalu membalas perbuatan Elang dengan cara menculik Meisya?"
"Menurut mu? Tentu saja! Mana ada orang yang tahan melihat kondisi orang yang sangat dia sayangi, terbaring lemah tak berdaya seperti saat ini?" Jawab Brian. Kali ini raut wajah nya berubah sendu.
"Kami paham yang kau rasakan Brian, aku mengajak mu kesini bukan untuk menghakimi atas kejahatan yang sudah kau perbuat, kami hanya ingin mendengar alasan mu." Ucap Zen.
"Aku memang melakukan nya, tapi ada alasan kenapa aku berani mengambil langkah sebesar itu di usia ku saat ini. Aku masih remaja, aku tumbuh dengan kekurangan kasih sayang orang tua, hanya ada bibi yang mengurus ku dengan tulus, dia menyayangi ku."
"Lalu, saat bibi ku di sakiti begitu, apa aku bisa diam saja? Tidak bang!" Kali ini luruh sudah air mata Brian.
"Aku tau, aku salah dengan hanya menghukum salah satu pihak. Karena ini bukan murni kesalahan Meisya saja, tapi Elang juga. Tapi saat ini, Elang juga sudah mendapatkan karma nya sendiri, tanpa campur tangan ku."
"Jangan menangis Brian, aku mengerti apa yang kau rasakan. Kalau aku ada di posisi mu, aku mungkin melakukan hal yang sama. Pembunuh orang tua ku pun baru terkuak setelah aku berusia 29 tahun, gila bukan? Mereka sangat pandai berkamuflase menjadi orang terdekat padahal punya maksud jahat!" Ucap Zen membuat Brian mendongak.
"Aku tak bisa menyalahkan mu Bri, karena alasan mu kuat, untuk melindungi orang yang kau sayangi. Tak masalah, cukup kami saja yang tau."
"Aku takut setelah ini semua nya berakhir, termasuk hubungan ku dengan Risya. Aku takut dia pergi meninggalkan aku, setelah tau perbuatan ku."
"Tak perlu banyak pikiran, fokus saja pada hubungan kalian, ini semua takkan bocor." Jawab Zen.
"Terimakasih."
"Ya, terimakasih juga sudah mau jujur pada kami."
Brian hanya tersenyum kecut, menanggapi ucapan Zen.
.....
🌷🌷🌷🌷
Promo Novel F*zzo😘 hot no sensor🤭
__ADS_1
yokk mampir, masih sepi disana😪 jangan lupa kritik dan saran nya, masukan daftar pustaka dan kasih ulasan plus bintang 5 ya😊😘😘