Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 191


__ADS_3

Tepat tengah malam, Ica terbangun. Dia merasa udara cukup sejuk malam ini, belum lagi malam ini dia tidur sendirian tanpa pelukan hangat dari sang suami.


"Daddy kemana ya?" Gumam Ica sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal.


"Issshh Daddy beneran tidur di kamar lain gitu? Nyebelin." Gumam nya lagi, dia beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar nya. Dia akan mencari keberadaan sang suami untuk bermanja dan minta pelukan hangat. Padahal tadi dia yang ngambek dan menyuruh Zen tidur di kamar lain, tapi dia juga yang kesal saat suaminya tidur di kamar lain.


Ica memeriksa satu persatu kamar di lantai atas, hingga di kamar kedua dia membuka nya dan melihat Zen sedang tidur telentang dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


"Dia enak-enakan tidur disini, sedangkan aku kedinginan, aihh awas kamu ya Dad." Ica berjalan mendekat dan langsung berbaring di samping Zen, tak lupa dia mencubit kuat pinggang sang suami, membuatnya langsung terbangun dari tidurnya.


"Baby, kenapa sih? Sakit tau.." Ringis Zen sambil mengusap-usap pinggang nya yang terasa sakit, cubitan itu kecil namun terasa sangat sakit, mungkin karena dedek bayi dalam perut juga ikut mencubit ayahnya.


"Kenapa tidur disini, Ica tidur kedinginan lho."


"Kamu yang nyuruh Daddy tidur di kamar lain, mana pintu nya di kunci dari dalam, kunci nya gak kamu cabut kan? Makanya Daddy gak bisa buka pake kunci cadangan." Jawab Zen, tapi Ica malah mendelik seolah tak punya dosa apa-apa.


"Ohh jadi Daddy nyalahin Ica, gitu? Siapa suruh pergi gak bilang dulu hhmm? Nakal ya kamu," Ica menjewer telinga suaminya itu dengan gemas.


"Aaasshhh, Baby sakitt.." Zen memekik kesakitan, Ica langsung melepaskan nya. Dia melihat telinga sang suami memerah, tapi menurutnya Zen malah nampak menggemaskan dengan telinga merahnya.


"Maafin Daddy, Bby. Tapi Brian ngajakin ketemu, dia punya masalah deh."


"Serahlah, besok aja jelasin nya. Ayo bobok, dedek pengen di peluk." Ucap Ica kembali manja seperti biasanya.


"Mami nya gak mau Daddy peluk?"


"Ya maulah Dad, Dedek nya kan masih dalam perut Ica, jadi otomatis meluk dedek ya meluk Ica juga."

__ADS_1


"Sepaket ya, beli satu gratis satu." Celetuk Zen lalu terkekeh pelan, begitu juga Ica. Dia langsung berbaring dan menduselkan wajah nya di dada bidang sang suami, mengendus aroma yang menenangkan, membuatnya nyaman, salah satu alasan kenapa dia tidur nyenyak adalah rasa nyaman yang di berikan Zen melalui pelukan dan aroma tubuhnya.


"Geli Bby." Ucap Zen, bukan apa-apa tapi senjata miliknya mulai terbangun karena sentuhan lembut Ica di dada nya.


"Ica pengen deh, Dad."


"Pengen apa Mi?" Tanya Zen yang membuat Ica tersipu, wajahnya merona. Apalagi Zen memanggilnya Mami.


"Pengen itu Dad.."


"Hayo lho, pengen apa Sayang?" Zen menggoda Ica, semakin memerah saja wajah Ica di buatnya.


"Pengen di masukkin sama itu Daddy." Jawab Ica pelan, nyaris tak terdengar. Tapi telinga Zen masih bisa mendengarnya, pendengaran Zen memang tajam, bukan hanya tatapan nya saja yang tajam, tapi pendengaran nya juga.


"Satu ronde saja ya, Bby? Tadi kan sebelum tidur udah satu ronde." Ica tersenyum lalu menganggukan kepalanya dengan cepat.


Zen pun dengan senang hati melakukan keinginan sang istri, dia membuka pakaian nya termasuk celana boxer nya. Begitupun dengan Ica, dia membuka lingerie tipis nya secepat kilat lalu kembali berbaring dan menunggu permainan Zen di tubuhnya.


"Daddyh.." Rintih Ica saat Zen menghentakan senjatanya ke dalam inti Ica yang belum sepenuhnya basah.


"Kenapa Bby? Sakit atau ngilu?" Tanya Zen, membiarkan sebentar senjatanya di dalam sana tanpa menggerakan nya.


"Enggak, cuma kaget aja langsung di masukin semuanya." Jawab Ica lirih. Zen hanya tersenyum lalu mulai menggerakan pinggangnya, kamar ini tak kedap suara, berbeda dengan kamar mereka yang sudah Zen pasang peredam suara.


"Aaahhhh..." Ica mendesahh nikmat saat Zen memacu tubuhnya dengan cepat, membuat tubuh Ica berguncang, ranjang pun berderit menandakan ada sesuatu yang sedang di kejar oleh sang pemilik tubuh itu.


Keringat mulai bercucuran dari kening Zen, Ica mengusapnya dengan pakaian nya, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Zen, beberapa kali pria itu mengecup pipi dan kening Ica, tapi tidak mencium bibir sang istri karena dia sadar benar Ica sensitif dengan bau-bauan sekarang, apalagi dia sudah tidur, mengertilah ya? Belum gosok gigi.

__ADS_1


"Engghhh, Daddy.." Ica menjerit nikmat saat gelombang pelepasan nya datang, tubuhnya menegang dengan nafas yang tersengal.


"Daddy belum Bby, lanjut atau udahan?" Tanya Zen.


"Lanjut sayang." Jawab Ica, masih dengan nafas yang ngos-ngosan setelah pelepasan nya.


Zen kembali memacu tubuhnya maju mundur perlahan, meski sebenarnya dia ingin bergerak cepat karena cairan nya terasa akan meledak sebentar lagi, tapi Ica sedang hamil jadi dia tak bisa seenaknya, dia juga harus memikirkan anaknya di dalam rahim sang istri.


"Daddy.."


"Bersama sayang.." Pinta Zen, pria itu menekan senjatanya lebih dalam, cairan hangat menyembur deras di dalam inti Ica, hingga meluber keluar saat Zen menarik senjatanya.


"Terimakasih Daddy.." Ucap Ica lalu mencium kening Zen, terbalik! Biasanya Zen yang mengucapkan terimakasih dan mengecup lembut kening Ica, tapi ya sekarang Ica yang melakukan nya karena dia yang minta duluan.


"Sama-sama Bby, besok-besok kalau mau terus Daddy minum obat kuat aja biar satu kali tapi lama." Celetuk Zen, dia mulai kewalahan dengan hasratt Ica yang bertambah tinggi saat ini. Satu malam bisa membangunkan nya tiga atau 4 kali hanya untuk berhubungan intimm saja, itu membuat Zen sering kekurangan tidur karena harus melayani nafssu sang istri yang menggila sejak kehamilan nya.


"Ihh Ica gak mau main kalau Daddy pake gituan, pokoknya jangan."


"Iya Bby, Daddy juga cuma bercanda. Ayo tidur, besok Daddy harus ke kantor." Ucap Zen mulai memejamkan matanya.


"Tapi besok hari minggu Dad," celetuk Ica yang membuat Zen kembali membuka matanya.


"Yeaahh, seharian besok Daddy akan beristirahat saja di rumah." Ucap Zen dengan antusias.


"Iya Dad, ayo peluk Ica." Zen pun memeluk sang istri, akhirnya keduanya pun tertidur setelah sama-sama puas dengan penyatuan yang ketiga kalinya di malam ini.


.....

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Gak ngilu 3-4 kali semalam di kali setiap malam Ca? untung aja cuma di dunia halu ini🤣🤭🤭


__ADS_2