
Zen sedang menikmati malam pertama nya dengan bermain dengan istri yang baru dia sah kan tadi sore. Ica jelas tak bisa menolak saat suami nya mulai menyibak gaun nya dan menurunkan segitiga nya.
"Bby.."
"Iya Daddy, kenapa?" Tanya Ica pelan, nafas nya memburu karena kelakuan suami nya.
"Pengen jilat ini." Zen meminta izin pada istri nya, sesuai kata dokter dia harus membuat Istri nya senyaman mungkin.
"Jangan Daddy.."
"Kenapa Bby?" Tanya Zen.
"A-aku belum mandi."
"Tak apa, kita sudah terbiasa melakukan nya kan?" Tanya Zen membuat Ica tak menjawab lagi, biarkan saja Zen melakukan apa yang dia inginkan.
"Eemmm... Ahhhh..." Ica mendesaah saat pria itu mulai bermain di inti nya, memainkan lidah nya memutari kacang kecil yang terjepit di antara irisan daging kenyal itu.
"Dadd.."
"Yes baby.." Jawab Zen, membuat Ica merona karena melihat wajah suami nya.
"Tidak, lanjutkan saja. Tapi tolong pelan-pelan," Zen mengangguk dan kembali menenggelamkan wajah nya di inti sang istri.
Ica menjambak kecil rambut Zen, dia merasa geli sekaligus nikmat.
"Langsung aja ya Dad, Ica dah gak kuat." Pinta Ica, Zen pun menghentikan kegiatan nya dan segera membuka resleting celana nya, lalu mengeluarkan senjata nya yang sudah berdiri tegak siap bertempur.
"Mau lihat dulu, Bby?"
"Nggak Dad, ular Daddy serem." Jawab Ica lirih. Zen hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Istri nya. Dia segera menggesekan senjata nya di bibir inti Ica, membuat perempuan itu bergerak tak karuan.
Perlahan tapi pasti, Zen berhasil membuat senjata nya tenggelam sempurna.
"Kok ngilu ya Dad?"
"Kenapa? Udahan aja?" Tanya Zen, meski dalam hati dia berharap Ica menjawab lanjutkan saja. Dia sudah sangat bernafsuu dari tadi pagi, padahal kemarin malam mereka bercintaa di bath up, tapi Zen seakan tak pernah puas untuk menggagahi istri cantik nya.
"Lanjutkan saja tapi pelan-pelan." Jawab Ica, membuat Zen bersorak kegirangan, tapi dalam hati tentu nya. Karena sudah malam dan ini di rumah sakit, jadi tak mungkin dia berteriak. Yang ada di samperin pasien lain, itu akan membuat hasratt nya terganggu pastinya.
Zen bergerak perlahan, bahkan dia hanya memasukan separuh senjata nya, karena tak ingin menyakiti sang istri. Tapi justru malah membuat Ica memberengut karena dia tak merasakan milik suami nya menyentuh titik denyut nya.
"Kok gak mendesahh, Bby?" Tanya Zen.
"Gak masuk semua, gak enak." Jawab Ica..
"Kalau di masukin semua nanti dedek nya kesundul gimana?"
"Ya gak bakal Daddy, ayolah cepat. Ica gak bisa nikmatin sensasi nya kalo gini." Pinta Ica.
"Oke lahh, tapi kalau sakit bilang ya sayang?" .
"Iya Dad." Zen menekan senjata nya hingga mentok, baru lah Ica mendesaah hebat seperti biasa.
Sepasang suami istri baru itu melewati malam pertama mereka di rumah sakit, meski pun begitu tetap tak mengurangi suasana romantis nya.
.....
Azwar baru saja sampai di depan kontrakan Sintia. Dia sengaja ingin mampir karena ingin bertanya lebih jauh kenapa perempuan itu tak mau kembali padanya lagi.
"Aku ganti baju dulu sebentar." Ucap Sintia, di angguki Azwar yang sedang menikmati astor di atas meja.
Tak lama, Sintia kembali dengan piyama berlengan pendek, juga celana nya.
"Mau makan?"
"Nggak, aku cuma mau tanya sekali lagi. Kenapa kamu gak mau kembali sama aku, Sin?" Tanya Azwar, dia menghentikan sejenak acara makan nya dan menatap Sintia yang nampak gugup.
"Apa kamu benar-benar ingin tau? Apa setelah kamu tau alasan ku, kamu takkan menjauhi ku? Apaa kamu akan menerima aku apa ada nya, termasuk kekurangan ku?"
"Tentu saja, Sintia. Asal kan alasan nya jelas, aku pasti menerima mu apa ada nya." Jawab Azwar serius, terlihat dari tatapan mata nya yang menyorotkan keseriusan.
"A-aku perempuan kotor Azwar, aku sudah tak memiliki kehormatan seperti wanita lain." Jawab Sintia membuat Azwar terhenyak. Dia tau benar Sintia adalah perempuan yang selalu menjaga kesucian nya, tapi apa ini?
__ADS_1
"Siapa Sintia? Siapa yang sudah melakukan nya?"
"Setelah kamu pergi 5 tahun lalu, rumah ku di bakar, setelah itu aku sendirian dan saat aku berfikir ingin menemui orang tua mu, untuk bertanya dimana kau tinggal, aku malah di perkosaa oleh sekelompok preman." Jelas Sintia, kedua mata nya berkaca-kaca. Jika mengingat peristiwa itu, hati nya terasa sesak. Bagiamana tidak? Kehormatan yang selama ini dia jaga, hancur sudah di tangan orang yang tidak bertanggung jawab.
Azwar mendekat dan mendekap hangat perempuan yang sedang menangis itu, mengusap punggung nya dengan lembut.
"Apa kamu masih ingin bersama ku? Setelah tau keadaan ku?"
"Ya, aku masih ingin bersama mu Sintia. Aku menerima kekurangan mu, tak masalah sayang." Azwar melerai pelukan nya, dia mengusap wajah Sintia dengan lembut.
"Ta-tapi aku tak punya hal yang harus di banggakan."
"Lalu? Aku mencintai mu apa ada nya Sintia, jangan merasa rendah diri karena kau sudah ternoda. Aku tak mempermasalahkan hal ini, yang penting kau mau bersama ku, itu saja sudah cukup." Jawab Azwar, pria itu tersenyum manis, membuat hati Sintia berdebar.
Azwar meraih dagu perempuan itu, lalu mencium bibir Sintia dengan penuh kelembutan, melumaat nya pelan.
"Bolehkah aku mencium mu?"
"Tapi kamu sudah melakukan nya." Jawab Sintia, wajah nya memerah. Ini adalah ciuman pertama nya dengan Azwar, selama hubungan mereka dulu, hanya sebatas pelukan atau ciuman kening, tidak ke bibir.
"Aku ingin lagi, boleh?"
"Eemmm, te-tentu saja." Jawab Sintia, membuat Azwar tersenyum lalu kembali mencium bibir Sintia. Memagutt nya dengan mesra, salah satu tangan nya menekan tengkuk Sintia, memperdalam ciuman itu, bahkan Azwar dengan berani menelusupkan lidah nya, menari-nari di dalam mulut perempuan itu, mengabsen setiap inchi mulut gadis itu.
Sintia memejamkan mata nya, dia menikmati apa yang di lakukan Azwar, bahkan saat pria itu perlahan membaringkan tubuh nya di sofa pun, Sintia hanya menurut tanpa melawan.
Sintia melingkarkan kedua tangan nya di leher Azwar, kedua nya masih menikmati ciuman panas mereka.
Azwar menatap Sintia dengan tatapan aneh, nafas nya memburu pertanda kalau pria itu sudah bernafssu.
"Aku menginginkan mu, Sintia." Ucap Azwar dengan suara berat nya.
"Ta-tapi maaf kalau aku sudah tak sebagus yang kamu pikirkan."
"Kita sudah membahas ini sebelum nya, aku tak mempermasalahkan nya. Aku mencintai mu, setelah ini aku ingin melamarmu."
"Kamu yakin ingin melamar ku?"
"Tentu saja, tak perlu meragukan ku Sintia."
"Menyesal? Sebuah kata yang tak ada di dalam kamus ku Sintia."
"Kalau begitu, lakukan saja." Jawab Sintia, wajah nya memerah. Entah malu karena Azwar menatap nya, atau apa. Tapi yang jelas wajah merah Sintia terlihat sangat menggemaskan.
"Aku ingin melakukan nya dengan bebas, bisa kita melakukan nya di kamar mu?" Tanya Azwar.
"Baiklah, tapi kamu turun dulu, berat."
Azwar turun dari tubuh Sintia dan mengikuti perempuan itu ke kamar nya.
Azwar melucuti seluruh pakaian Sintia, juga pakaian nya, membuat kedua nya polos tanpa sehelai benang pun. Azwar membaringkan Sintia di ranjang sempit namun rapih dan wangi, lalu mengungkung nya.
"Bagaimana jika ibu mu tak setuju dengan hubungan kita?" Tanya Sintia, dia sangat meragukan kalau ibu nya Azwar akan merestui hubungan mereka.
"Kita akan menghadapi nya bersama-sama Sintia, tak usah memikirkan ibu ku. Kita nikmati saja malam ini, ya?"
Sintia menganggukkan kepala nya, dia kembali memejamkan mata nya saat Azwar kembali mencium bibir nya.
Bibir Azwar kini berpindah mengecupi leher jenjang Sintia, menghiasi leher putih itu dengan tanda cinta.
"Emmm..." Sintia melenguh pelan saat Azwar mengulumm puncak buah kenyal nya dengan bernafssu.
"Jangan di gigit, sakitt.." Pinta Sintia, perempuan itu meringis karena Azwar terus menggigiti puncak buah kenyal nya, mungkin gemas.
"Kenapa wajah mu mendadak pucat sayang?" Tanya Azwar.
"Hah? Kenapa wajah ku?"
"Wajah mu pucat sayang, kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik. Hanya se-dikit gugup saja." Jawab Sintia sambil cengengesan.
"Aku akan pelan-pelan, tenang lahh." Ucap Azwar, membelai lembut wajah Sintia.
__ADS_1
Sintia tak bisa menjawab, jadi dia hanya menganggukan kepala nya sebagai jawaban.
Azwar menggesekan senjata nya di bibir inti Sintia, membuat perempuan itu bergerak tak karuan.
Perlahan tapi pasti, Azwar mendorong milik nya hingga masuk semua, membuat Sintia memekik pelan karena terkejut.
"Sakit?"
"Tidak, kamu lupa kalau aku sudah tidak perawaan?"
"Tapi itu terjadi bukan karena keinginan mu juga kan? Sudahlah, aku akan bermain lembut." Jawab Azwar, dia bergerak pelan memaju mundurkan pinggang nya.
"Enak?" Tanya Azwar, sontak saja Sintia yang sedang memejamkan mata nya langsung membuka mata nya.
"I-iya enak.." Jawab Sintia terbata. Azwar tersenyum dan kembali bergerak, kali ini lebih cepat membuat tubuh Sintia terguncang hebat, dia mendesaah panjang saat meraih pelepasan pertama nya, tapi Azwar masih belum selesai.
"Sudah klim*ks sayang?" Sintia mengangguk lemas.
"Baiklah, sekarang tinggal aku. Kalau sakit bilang ya?"
"Iya, bisa kah aku tidur? Lemas."
"Bukan nya sedari tadi kamu tidur?" Goda Azwar.
"Nggak, aku gak tidur kok."
"Tapi mata mu selalu terpejam sayang, bahkan saat aku mencium mu."
Wajah Sintia kembali memerah, membuat Azwar puas telah menggoda kekasih nya.
"Jadi mulai hari ini kita resmi rujuk ya sayang?"
"Iyaa, terserah kamu saja." Jawab Sintia.
Azwar tersenyum di sela permainan nya, dia mengecup mesra kening Sintia, lalu kembali mencium bibir Sintia, lalu kembali menggerakan pinggang nya maju mundur lebih cepat.
Azwar mengerang nikmat, dia menekan senjata nya ke dalam inti Sintia, cairan hangat membanjiri inti Sintia. Hingga merembes keluar dari lubang itu.
"Nikmat sekali sayang.."
"Aaaa cepatlah ambil tissu atau apapun, cepat."
"Memang nya kenapa?" Tanya Azwar, pria itu masih betah menelungkup di atas tubuh Sintia, menstabilkan nafas nya yang tersengal.
"Cairan mu mengucur sayang, mengotori seprai, jadi cepatlah." Jawab Sintia, membuat pria itu melepaskan senjata nya dari inti Sintia dan berjalan malas mencari benda untuk mengelap bekas cairan nya.
"Ini, pakai tisu basah saja."
"Kamu yang lap dong, ini kan cairan mu." Pinta Sintia.
"Jangan lupa kamu juga klimakss tadi, jadi ini cairan campuran."
"Ayolah cepat, lengket!" Pinta Sintia, membuat Azwar segera mengelap inti banjir itu dengan tisu.
"Mau pulang atau menginap?"
"Nginap aja lah, capek habis olahraga." Jawab Azwar, masih mengelap inti Sintia.
"Baiklah, bersihkan tubuh mu lalu kita tidur."
"Tapi aku lapar sayang." Keluh Azwar.
"Mie instan mau?"
"Mau dong.."
"Yaudah, kamu mandi aku masak dulu." Ucap Sintia, perlahan perempuan itu berdiri dan memakai pakaian nya, lalu pergi meninggalkan Azwar.
.....
🌷🌷🌷🌷
Haii selamat pagi, maaf semalem gak up. Ketiduran😂😂
__ADS_1
Jangan lupa Vote!